Page Nav

HIDE

Grid

GRID_STYLE

Pages

Classic Header

{fbt_classic_header}

Header Ad

Breaking News

latest

PT. Toba Pulp Lestari Tak Berdaya Guna?

Toba | suaraburuhnasional.com - Di kalangan Pemerhati di media Sosial komentar Firman Sinaga, pada tanggal 25 Mei 2020, dengan judul: “K...



Toba | suaraburuhnasional.com - Di kalangan Pemerhati di media Sosial komentar Firman Sinaga, pada tanggal 25 Mei 2020, dengan judul: “Kekuatan Nilai Net Ekonomi PT. Toba Pulp Lestari Vs Petani Lahan Sawah Low Teknologi….”.  kami mengkutip berita ini setelah berkonfirmasi langsung kepada Firman Sinaga lewat telpon seluler yang langsung ke media suara buruhnasional.com, Rabu (10/6/2020).

"Dalam komentar Firman Sinaga yang diucapkannya bagaimana masyarakat Kabupaten Toba menilai seberapa Berdaya Guna PT. Toba Pulp Lestari (TPL) bagi kemajuan masyarakat Toba sejak di ijinkan oleh masyarakat Toba kembalinya Perusahaan bubur kertas tersebut beroperasi Pada tahun 2003."

“Harus di akui, Sesungguhnya Pemerintah Republik Indinesia tidak demikian berpihak membangun masyarakatnya." Bahwa Pemerintah Pusat selalu mementingkan Corporate.....".

Mari kita perbandingkan, lebih besar mana nilai keuntungan ekonomi antara PT. Toba Pulp Lestari, Tbk dengan 12 ribu hektar lahan persawahan dengan petani sawah low teknologi."  Sementara Perusahaan PT. TPL,  berada pada high teknologi."

Perusahaan PT. Toba Pulp Lestari, Tbk (TPL) telah menguasai 80 ribu hektar hutan untuk dijadikan hutan tanaman Eucalypt. "Pada luas lahan itu, bahwa nilai net keuntungan PT. TPL, Tbk berkisar 1 - 2 Triliun per  Tahunnya.

"Jumlah masyarakat yang tergantung pada PT. TPL sekitar 20 ribu orang, itu sudah termasuk anak - anak dari para pekerja dan juga para kontraktor yang bekerja di perusahaan PT. Toba Pulp Lestari, Tbk. "Nilai keuntungan yang jatuh ke 20 ribu orang tadi melalui biaya operasional PT. TPL  per tahun itu  paling tinggi  Sebesar 200 - 250 milyar, dan sisanya dibawa keluar."

Total nilai net keuntungan PT. Toba Pulp Lestari, Tbk per hektar  pertahun Sebesar Rp.12. 5 - 25 juta.  Dari Rp. 12.5 - 25 juta tersebut yang tinggal bagi keluarga yang mengantungkan hidup dari perusahaan PT. TPL bersekitar Rp. 2.5 juta perhektar  per tahun dan kecil kemungkinan lebih dari nilai Rp. 2.5 juta.

Bila diperhatikan kekuatan ekonomi petani persawahan dengan low teknologi sekarang ini, dengan luas lahan persawahan di Kabupaten Toba ada mencapai 12 ribu hektar, padahal jumlah penduduk yang menggantungkan hidup pada 12 ribu hektar itu ada  75 ribu orang. "Besaran Pendapatan bersih perhektar dengan Low Teknologi berkisar Rp. 14 - 25 juta perhektar per tahun." Maka dari  Nilai 14 - 25 juta tadi semua tinggal di daerah Kabupaten Toba. Padahal Standard pada budidaya perbaikan bisa mencapai 50 - 55 juta rupiah per hektar per panen,  itu baru hasil panen padi dari 12 ribu hektar....." Belum halnya hasil ikan atau tanaman lain yg dirotasi setelah tanam padi di persawahan. " Pada Low teknologi diperkirakan bisa capai 30 juta rupiah per hektar  per tahun. " Pada Teknologi Perbaikan bisa mencapai 60 - 70 juta per hektar per tahun...!.

Jadi Firman Sinaga merekomendasikan kepada masyarakat Toba, bahwa PT. Toba Pulp Lestari tidak layak kita pertahankan berlama - lama di kawasan Danau Toba, kecuali seluruh hutan diserahkan kembali kepada masyarakat sebagai pengelola hutan Eucalyptus.. "Dari Gambaran yang kita amati, maka masyarakat dapat menilai apakah perusahaan bubur kertas  itu layak tidak dipertahankan berlama - lama  beropeasi dikabupaten Toba..?. Sementara, saat ini PT. TPL, Tbk Selalu menyakiti hati Masyarakat Toba." Hal ini dapat kita lihat akhir-akhir ini, pola kinerja Humas PT. TPL. Tbk tidak menunjukkan kinerja yang profesional, contoh kasus Sihaporas.

Siapa sesungguhnya Firman Sinaga, dia adalah mantan peneliti (researcher) di Research and Development PT. TPL, Tbk. " Dia adalah Peneliti yang  hebat, sudah lama saya kenal Firman Sinaga, sehingga tentu Firman Sinaga mampu melakukan gambaran sederhana tentang TPL. Melalui konfirmasi telepon seluler, apa tujuan pak Firman Sinaga membuat tulisan itu, bahwa beliau punya rencana besar untuk memantau seluruh paradigma baru PT. Toba Pulp Lestari (TPL) yang tertuang dalam Akte 54 yang telah dirubah menjadi Akte 05 dan mengedukasi masyarakat untuk mengenali hak-haknya atas keberadaan PT. TPL dengan sebuah Lembaga yang akan beliau dirikan."

Firman Sinaga menyebut sudah kami persiapkan team pengacara dan media untuk menelusuri lebih lanjut semua Dana CD PT. TPL Sejak tahun 2003, ujar Firman Sinaga."  Selanjutnya Firman Sinaga juga menyebut bahwa Dana CD beda dengan dana CSR,,,," Dana CD adalah hak masyarakat sesuai yang telah disepakati oleh pemerintah pusat dengan masyarakat dan perusahaan PT. Toba Pulp Lestari Tbk, Sedangkan Dana CSR adalah tanggung jawab perusahaan terhadap masyarakat dan lingkungannya."

Selanjutnya Firman Sinaga mengatakan, bahwa pencemaran lingkungan yang disebabkan oleh PT. TPL itu baru masalah kecil sekali, padahal di mata masyarakat masalah itu sudah masalah demikan besar." Lalu, apakah masalah yang maha dahsyat?. (Octa)

No comments