Page Nav

HIDE

Grid

GRID_STYLE

Pages

Classic Header

{fbt_classic_header}

Header Ad

Breaking News

latest

Kerja Jurnalisme Foto Terancam Saat Meliput Demonstrasi

Medan | suaraburuhnasional.com - Demonstrasi penolakan Rancangan Undang-Undang Cipta Kerja berlangsung di berbagai kota beberapa hari belaka...




Medan | suaraburuhnasional.com - Demonstrasi penolakan Rancangan Undang-Undang Cipta Kerja berlangsung di berbagai kota beberapa hari belakangan. Di Kota Medan sendiri, demonstrasi diadakan di Kantor DPRD Sumatera Utara sejak Kamis tanggal 8 Oktober, meski Sabtu dan Minggu terpantau tidak ada demo yang berlangsung. 

Demo pada tanggal 8 Oktober itu disayangkan beberapa pihak lantaran berlangsung ricuh antara massa pedemo dan aparat keamanan, khususnya polisi. Kaca-kaca kantor berpecahan, gerbang kantor Wali Kota Medan copot dari engselnya, Grand Palladium rusak, dan Atrium Lapangan Merdeka berubah menjadi puing. Dentuman tembakan suar dan gas air mata menggema di mana-mana. Massa, yang didominasi para mahasiswa, lari tunggang-langgang setiap terdengar tembakan hingga mereka memencar di kawasan Lapangan Merdeka dan, di ujung yang satunya lagi, terpencar di Bundaran SIB di Petisah. 

Tak lepas dari kericuhan itu, para polisi, yang diduga oknum, tertangkap kamera kala bertindak represif kepada massa. Adalah Raden Armand, reporter salah satu media online Indozone yang mengabadikan peristiwa di lapangan, termasuk bagaimana tindakan oknum aparat yang semena-mena itu. 

Namun, pekerjaannya yang sebagai penerang bangsa itu dinodai oleh segelintir oknum aparat berbaju sipil yang diduga tak paham akan hukum kebebasan pers di Tanah Air, atau sejatinya paham namun diabaikan. 

Armand bercerita kepada rekan-rekannya, awalnya ia meliput di DPRD Sumut sekitar pukul 15 WIB saat kericuhan berlangsung dengan mengenakan ID Pers dan mengindahkan protokol kesehatan. Saat ketegangan demonstrasi memuncak, pukul 15.30 Wib, ada pedemo yang ditarik paksa aparat layaknya buronan. Di situ, lanjut Armand, mereka yang diambil paksa itu dipukuli oleh oknum diduga aparat berseragam PDH. Jadi, menurut Armand, hal itu menarik perhatiannya lantas ia memotret momen semacam itu. 

Selesai memotret, Armand sedikit menjauh demi melihat hasil tangkapan kameranya. Namun, tanpa peringatan, ia ikut ditarik paksa oleh para aparat itu dan diseret ke pelataran Kantor DPRD Sumut. Di sana ia dikelilingi lima orang oknum aparat dengan tuntutan agar Armand menghapus foto-foto kekerasan aparat yang sudah diabadikan di kameranya itu. “Dan mereka memaksa menarik kamera saya,” kata Armand melanjutkan. 

Karena sudah terjepit, lanjut Armand, ia pun terpaksa menyerahkan kameranya kepada oknum-oknum itu. “Dan hasil jepretan saya beberapa di antaranya dihapus. Setelah itu mereka pergi,” lanjut Armand dengan suara lesu. 

Ketua Pewarta Foto Indonesia (PFI) cabang Kota Medan, Rahmad Suryadi, angkat bicara mengenai kejadian itu. Baginya, tindakan semena-mena aparat pada Kamis lalu (8/10/2020) bukanlah pertama kalinya dilakukan polisi. Malahan sudah beberapa kali menimpa awak PFI, dan kali ini mereka kembali menjadi korban lantaran Raden Armand adalah salah satu anggotanya. 

Rahmad hanya bisa berharap kepada oknum aparat agar lebih bertanggungjawab dalam bertugas dan tidak melakukan tindakan represif terhadap siapa pun, khususnya terhadap jurnalis yang sedang menjalankan tugas. “Seharusnya semua memahami bahwa kerja-kerja jurnalis dilindungi UU Pers. Tidak ada pembenaran untuk mengintimidasi jurnalis,” lanjutnya.




Karena kejadian itu, PFI mengumumkan pernyataan sikap, di antaranya menuntut tanggung jawab atas tindakan oknum aparat yang semena-mena terhadap jurnalis. Kemudian PFI sangat menyesalkan tindakan oknum aparat dan meminta kejadian serupa tidak terulang kembali, apalagi Senin dan Selasa akan diadakan demonstrasi lanjutan.

Turut diinformasikan bahwa aksi demonstrasi direncanakan kembali digelar pada Senin besok (12/10) dan Selasa lusa. Demonstrasi murni dilakukan oleh beberapa Serikat Buruh di Medan dan berharap berlangsung secara damai. Kabarnya, demo besok akan diadakan di Kantor DPRD dan kantor Gubernur Sumut. 

Seperti yang terpantau di lapangan pada Kamis kemarin, massa buruh tak banyak yang menyuarakan orasi lantaran para mahasiswa sudah lebih dulu memadati titik kumpul di Kantor DPRD Sumut. Ketika semakin siang, kericuhan terjadi antara mahasiswa dan polisi. 

Hal itu semakin membuat massa dari kalangan buruh menyingkir ke berbagai lapak makanan dan minuman di sekitar gedung pengadilan Medan, dan sebagian membubarkan diri karena merasa tak nyaman akan aksi ricuh tersebut sementara mahasiswa terus membara hingga petang. (Rio)

No comments