Page Nav

HIDE

Grid

GRID_STYLE

Pages

Classic Header

{fbt_classic_header}

Header Ad

Breaking News

latest

Soekarno, PKI dan HMI di Ambang Pembubaran

SUATU kelaziman bagi setiap tokoh apalagi pemimpin selalu memiliki obsesi besar untuk menjadi masyhur dan mempengaruhi arah dunia dengan pe...




SUATU kelaziman bagi setiap tokoh apalagi pemimpin selalu memiliki obsesi besar untuk menjadi masyhur dan mempengaruhi arah dunia dengan pemikiran besarnya. Hal itu tidak terkecuali bagi manusia manapun termasuk Paduka Yang Mulia, Pemimpin Besar Revolusi Soekarno.

Sejarah menjelaskan bahwa Soekarno pernah menorehkan satu impian politik yang menomental dan mengundang perhatian dunia Internasional. Yaitu Soekarno ingin menginternalisasi dan menginstitusikan paham Nasionalisme, Agama dan Komunisme dalam satu konsepsi politik yang disebut Nasakom dan menjadi pandangan hidup bangsa Indonesia.

Pemikiran Soekarno tentang konstruksi Nasakom adalah tawaran baru kepada anak-anak bangsa, tumpah darah. Bahwa ia memiliki sebuah obsesi besar untuk menjadikan Nasakom sebagai ideologi alternatif yang menyatukan bangsa. Bagi Soekarno paham Nasionalis, Agama, dan Komunisme tidak perlu dipertentangkan secara diametral dalam membangun ketahanan nasional untuk menghadapi imperialisasi ekonomi dan politik global.

Dari sini Soekarno bergerak membuka peta kepemimpinan politik baru sebagai Pemimpin dunia. Gagasan Nasakom sebagai sintesa dari tesa tesa yang berkembang diberbagai belahan dunia, yang mengunggulkan agama, nasional dan marxis. Nah Soekarno sebagai pemimpin dunia di abad 20 ia ingin mengalahkan pemimpinan besar lainnya dibelahan dunia Timur maupun Barat dengan konsep Nasakom.

Dalam konteks Indonesia, upaya Soekarno mewujudkan impian itu ternyata harus dibayar dengan harga yang mahal. Soekarno tega melepaskan kawan seperjuangan mendirikan Indonesia. Soekarno mengabaikan tatanan demokrasi yang seharusnya diperlukan untuk mengelola dan menata bangunan kebernegaraan yang lebih baik di masa-masa mendatang. Soekarno mengabaikan perasaan keberagamaan tokoh dan umat Islam dalam perjuangan menyusun kemerdekaan Indonesia.

Pertama, Soekarno memberi Karpet Merah dan membuka ruang yang terbuka dalam kancah politik bagi Partai Komunis Indonesia (PKI) Pimpinan DN Aidit. Dan dari situ PKI mendapat angin segar untuk secara terbuka terus berkonsulidasi, memperkuat sinergisitas kepentingan terutama dukungan politik kepada Soekarno yang ambisius.

Meski Soekarno tahu dan menyadari bahwa PKI pimpinan Muso pernah melakukan Pemberontakan di Madiun tahun 1948 yang membunuh para kiyai, santri, membangkar masjid dan pondok pesantren. Peristiwa Kanigoro, dimana PII (Pelajar Islam Indonesia) sedang training dibakar dibunuh dalam gedung. 

Tak terkecuali Pondok Modern Gontor Ponorogo, Kiyai, Santri dan para guru gurunya diobok obok, diserbu oleh PKI. Pak Kiyai Ahmad Sahal dan adiknya KH Imam Zarkasyi, bersama Santri terpaksa mengasingkan diri ke Gua Slahung cukup jauh dari Gontor.
Penulis: MHR Shikka Songge

No comments