Page Nav

HIDE

Grid

GRID_STYLE

Pages

Classic Header

{fbt_classic_header}

Header Ad

Breaking News

latest

Merauke dan Problem Kuliner Sagu

TIDAK lama lagi, warga Kabupaten Merauke akan memilih Bupati dan Wakil Bupati. Hiruk pikuk Pilkada sedang berlangsung. Tiga calon masih ber...




TIDAK lama lagi, warga Kabupaten Merauke akan memilih Bupati dan Wakil Bupati. Hiruk pikuk Pilkada sedang berlangsung. Tiga calon masih bersaing merebut simpati warga Merauke. Beragam dinamika berlangsung seru dan semarak. 

Namun, tulisan ini tidak akan melihat lebih jauh mengenai Pilkada, apalagi tentang kans kemenangan masing-masing tiga pasangan calon. Penulis tidak memiliki kapasitas mendiskusikan hal tersebut. Tulisan ini hanya akan sekelumit melihat isu penting di Merauke yang diharapkan tidak lepas dari upaya tiga pasangan calon untuk memajukan Merauke, yakni isu pangan lokal: sagu Merauke. 

Isu yang dalam rentang kurang lebih tiga tahun, 2016-2019, penulis relatif terlibat aktif. Tulisan ini adalah buah reflektif dari keterlibatan tersebut dengan melihat kondisi dan situasi Merauke sekarang, yang diharapkan menjadi bahan renungan bersama untuk kemajuan Merauke.

Sekira empat tahun lalu, penulis terlibat kerja sama yang amat produktif dengan banyak pemuda Merauke yang memiliki visi kuat dalam mengembangkan pangan lokal (baca: sagu) Merauke. Kerja sama yang dinaungi program Building Social Capital for Community Development and Conflict Prevention in Papua. 

Saat itu, sagu belum menjadi komoditi yang popular di Merauke. Bahkan, satu juta lebih hektar area sagu diubah oleh investor menjadi hutan sawit, dengan 500an lebih bibit sagu yang telah disiapkan. Ini sangat mengenaskan bagi warga Merauke (Marind) yang keseharian hidupnya tidak dapat lepas dari sagu. 

Bagi masyarakat Marind, sagu bukan hanya sekedar makanan untuk dikonsumsi. Sagu telah menjadi identitas kultural. Melepaskan hidup dari sagu hampir sulit dibayangkan. Apalagi bila area sagu diubah menjadi lahan perkebunan sawit.

Kegelisahan tersebut melecut komunitas pemuda dari berbagai latar belakang yang tergabung dalam Community Development (Comdev) Merauke. Mereka mencoba “menghidupkan” sagu Merauke yang sedang terdesak oleh laju industri sawit.

Beragam kegiatan dan pelatihan dilakukan, bukan hanya pelatihan untuk para pemuda pemberani tersebut, melainkan untuk mama-mama di beberapa kampung, kelurahan, dan distrik. Pelatihan untuk membangun kapasitas kepemimpinan dalam mengelola perbedaan. 

Pelatihan juga dilakukan untuk membekali kemampuan dalam hal pembudidayaan dan pengelolaan pangan lokal Merauke. Dalam prosesnya, komunitas pemuda tersebut menemukan konsep “tepung sagu” dan “kuliner sagu”. 

Pada pelatihan selanjutnya, diputuskan untuk fokus pada pengolahan sagu. Pelatihan ini mengundang mama-mama untuk bersama-sama berlatih mengolah sagu dengan menghadirkan pakar pengolahan sagu dari Universitas Cenderawasih. 

Bagaimana sagu diubah menjadi tepung yang akhirnya dapat direproduksi menjadi bahan pembuatan beragam makanan yang layak konsumsi dan layak jual. Hasilnya sangat menakjubkan. 

Mereka mampu mengolah sagu menjadi beragam makanan yang menarik minat warga Merauke. Bersama mama-mama, mereka pun membuka lapak di berbagai tempat yang menjadi lokus perjumpaan sebagian besar warga Merauke. Respons masyarakat juga sangat menjanjikan, di mana hampir tidak pernah ada sisa ketika makanan dari tepung sagu tersebut dipasarkan. 

Ini peluang sangat besar untuk mengolah sagu menjadi makanan yang nikmat dan lebih akrab dengan masyarakat. Ekonomi kreatif dalam pengelolaan sagu ini memang bertujuan “lebih mendekatkan” sagu dengan masyarakat penikmatnya. Masyarakat pun lebih didekatkan lagi dengan “identitas” kulturalnya.

Oleh karena keberhasilan tersebut, para pemuda Comdev Merauke bersinergi dengan banyak pihak, dari Pemda, SKPD, beberapa dinas, lembaga-lembaga yang memiliki konsen tentang sagu dan ekonomi kreatif, bahkan dengan personal-personal yang memiliki kegelisahan yang sama. 

Kerja sama ini patut direspons positif dan diapresiasi, tanpa ada penelikungan atau saling memanfaatkan, bahkan menghilangkan peran salah satu atau beberapa pihak tersebut. Kerja sama yang saling menguntungkan secara ekonomi, kultural, dan substantif, akan lebih bermanfaat untuk masyarakat daripada saling menafikan antarpihak.

Demi kemajuan dan kemakmuran warga Merauke, sudah bukan saatnya memikirkan kepentingan sepihak, apalagi “menghilangkan” hasil kerja salah satu atau beberapa pihak di atas. Kerja sama harus dilandasi dengan hati, sebagaimana membangun Papua (termasuk Merauke) juga harus dengan hati. 

Ketulusan hati dan keikhlasan demi kemajuan dan kemakmuran Merauke, menurut penulis, adalah kunci dari segala upaya dan usaha dalam kerja sama tersebut. Tanpa hati dan keikhlasan, agaknya mustahil akan melahirkan kerja-kerja yang berdampak pada kemajuan dan kemakmuran Merauke dan Papua.

Lebih dalam dari itu, dalam konteks Merauke sekarang, peran pemuda sangat penting. Membangun Merauke tidak cukup dengan mempertimbangkan kemajuan dan kedewasaan politik. Membangun Merauke perlu mempertimbangkan peran pemuda. 

Komunitas pemuda yang tergabung dalam Comdev Merauke telah menunjukkan betapa signifikannya mereka dalam membangun kemajuan dan kemakmuran Merauke. Hanya demi kepentingan kemanusiaan, komunitas pemuda ini secara serius membimbing, menemani, dan melayani mama-mama dalam menghidupkan kembali sagu di tanah mereka: tanah Marind.

Pada dasarnya, perjalanan mereka dalam upaya tersebut telah diakui oleh Pemda Kabupaten Merauke dan beberapa lembaga di bawahnya. Dalam sebuah pertemuan refleksi Comdev Merauke, yang juga dihadiri oleh Bupati Merauke, Kepala Sekda, beberapa perwakilan dinas, dan lain-lain, mencerminkan pengakuan tersebut. 

Bahkan, beberapa pihak tersebut meneteskan air mata. Mereka tidak menyangka di Merauke terdapat kelompok pemuda yang telah demikian tulus membangun Merauke dengan program pendayagunaan sagu. Program yang Pemda sendiri luput atau belum tersentuh untuk menggarapnya. 

Satu sisi, moment itu sangat mengharukan sekaligus menggembirakan. Namun, pada sisi lain, pasca moment tersebut sejatinya menyisakan beban dan tanggung jawab bagi Pemda beserta jajarannya dan Comdev Merauke sendiri untuk menindaklanjutinya dengan langkah-langkah yang taktis, strategis, dan sistematis.

Bila demikian, bagaimana sebaiknya mengembangkan kuliner sagu di Merauke ke depan?. Pertama, kerja sama semua pihak tetap dibutuhkan. Kerja sama tersebut akan memperkuat konsentrasi secara strategis dan sistematis untuk lebih memperbanyak kerja-kerja dalam pengembangan kuliner sagu, khususnya dalam hal memperbanyak item produk kuliner sagu.

Kedua, dibutuhkan hati yang tulus dalam kerja sama tersebut. Ketulusan hati ini sangat penting agar semakin memperteguh jalinan kerja sama dalam bentuk saling menguatkan satu sama lain. Bukan saling melemahkan. 

Ketiga, perlu ada gerakan yang taktis dan efektif dalam pengembangan kulier sagu di Merauke. Ini penting karena problem kuliner sagu di Merauke adalah kurang kuat dan saling memahaminya antar-stake holders, dan ada perbedaan visi ke depan mengenai kuliner sagu di Merauke. Dampak dari problem ini adalah lahirnya aktivitas-aktivitas atau gerakan-gerakan yang kurang tertata rapi, kurang efisian, dan tidak taktis. 

Keempat, semua stake holders perlu duduk bersama melihat masa depan dan peluang kuliner sagu di Merauke. Akhirnya, bila refleksi di atas dipertimbangkan bersama-sama, penulis sangat optimis kuliner sagu Merauke akan menemukan titik terang dan menjadi salah satu bagian yang menyejahterakan masyarakat Merauke. 

Penulis sangat berharap dan menunggu hasil-hasil kontributif, baik dari komunitas pemuda Comdev Merauke dengan beragam program kemanusiaannya maupun geliat kuliner sagu Merauke yang makin memeroleh perhatian masyarakat Merauke. (*)
Penulis : Budi Asyhari-Afwan, MA.

Penulis adalah Peneliti di CRCS UGM Yogyakarta, pengelola program Building Social Capital for Community Development and Conflict Prevention in Papua (2016 -2019), Penulis buku Mutiara Terpendam Papua: Potensi Kearifan Lokal untuk Perdamaian (2015), dan editor buku Menyelami Keragaman, Membangun Perdamaian: Refleksi Live-in Papua (2017) dan Sampah dan Sagu: Refleksi Anak Muda Jayapura dan Merauke Membina Damai (2019).
Email: budi_asyari@ugm.ac.id.

1 comment

  1. Saya atas nama Ketua Comdev Merauke, juga sebagai Guru Sejarah (Pendidik) tentu berterima kasih atas Refleksi ttg Merauke dan Problem Kuliner Sagu dari Penulis Aftikel yang begitu Akrab sejak Tahun 2016- saat ini selalu menjadi mentor bagi kami para Pemuda Lintas OKP yang bwrsatu di COMDEV MERAUKE untuk memperjuangkan tentang Kearifan Lokal (Sagu) untuk mendapatkan Keadilan & mensejahterakan pemiliknya dengan konsep Ekonomi Kreatif Berbasis Kearifan Lokal untuk Bina Damai. Kami belum berhasil, namun kami tidak Gagal... Masyarakat Merauke boleh berbangga hati sekarang dengan adanya Tepung Sagu DWITRAP Asli Merauke, namun kebanggaan itu akan semakin sempurna ketika kita tetap menjaga sinergitas bersama.
    Salam Damai!
    🙏🙏🙏

    ReplyDelete