Senin, Mei 4, 2026
[tds_menu_login inline="yes" guest_tdicon="td-icon-profile" logout_tdicon="td-icon-log-out" tdc_css="eyJhbGwiOnsibWFyZ2luLWJvdHRvbSI6IjAiLCJtYXJnaW4tbGVmdCI6IjMwIiwiZGlzcGxheSI6IiJ9LCJwb3J0cmFpdCI6eyJtYXJnaW4tbGVmdCI6IjIwIiwiZGlzcGxheSI6IiJ9LCJwb3J0cmFpdF9tYXhfd2lkdGgiOjEwMTgsInBvcnRyYWl0X21pbl93aWR0aCI6NzY4fQ==" icon_color="#ffffff" icon_color_h="var(--tt-accent-color)" toggle_txt_color_h="var(--tt-accent-color)" f_toggle_font_family="tt-extra_global" f_toggle_font_weight="600" show_menu="yes" f_btn2_font_family="tt-extra_global" show_version="" show_avatar="" menu_offset_top="eyJhbGwiOiIxMCIsInBvcnRyYWl0IjoiMTEifQ==" menu_horiz_align="content-horiz-right" menu_gh_color="var(--tt-primary-color)" f_btn1_font_family="tt-extra_global" f_gh_font_family="tt-primary-font_global" f_uf_font_family="tt-extra_global" f_links_font_family="tt-extra_global" f_uh_font_family="tt-primary-font_global" menu_uh_color="var(--tt-primary-color)" menu_uf_border_color="var(--tt-primary-color)" menu_ul_link_color="var(--tt-primary-color)" menu_ul_link_color_h="var(--tt-accent-color)" f_uh_font_weight="600" f_links_font_weight="600" f_uf_font_weight="600" f_uh_font_size="eyJhbGwiOiIxNCIsInBvcnRyYWl0IjoiMTMifQ==" f_uh_font_line_height="1.2" f_links_font_size="eyJhbGwiOiIxMyIsInBvcnRyYWl0IjoiMTIifQ==" f_uf_font_size="eyJhbGwiOiIxMyIsInBvcnRyYWl0IjoiMTIifQ==" f_gh_font_size="eyJhbGwiOiIxNCIsInBvcnRyYWl0IjoiMTMifQ==" f_gh_font_line_height="1.2" f_btn1_font_size="eyJhbGwiOiIxMyIsInBvcnRyYWl0IjoiMTIifQ==" f_btn2_font_size="eyJhbGwiOiIxMyIsInBvcnRyYWl0IjoiMTIifQ==" f_gh_font_weight="600" f_btn1_font_weight="600" f_btn2_font_weight="600" toggle_txt_color="#ffffff" menu_bg="#ffffff" menu_uf_txt_color="var(--tt-primary-color)" menu_ul_sep_color="var(--tt-accent-color)" menu_uf_txt_color_h="var(--tt-accent-color)" menu_gc_btn1_color="#ffffff" menu_gc_btn1_color_h="#ffffff" menu_gc_btn1_bg_color="var(--tt-accent-color)" menu_gc_btn1_bg_color_h="var(--tt-hover)" menu_gc_btn2_color="var(--tt-accent-color)" menu_gc_btn2_color_h="var(--tt-hover)" ia_space="10" toggle_horiz_align="content-horiz-left" menu_offset_horiz="6" menu_shadow_shadow_size="16" menu_uh_border_color="var(--tt-primary-color)" menu_gh_border_color="var(--tt-primary-color)" f_btn1_font_line_height="1.2" f_btn2_font_line_height="1.2" f_uf_font_line_height="1.2" f_links_font_line_height="1.2" menu_ul_space="10" icon_size="eyJhbGwiOjI0LCJwb3J0cmFpdCI6IjIyIn0=" avatar_size="eyJwb3J0cmFpdCI6IjIzIn0=" f_toggle_font_size="eyJhbGwiOiIxMyIsInBvcnRyYWl0IjoiMTIifQ==" f_toggle_font_line_height="1.2" menu_shadow_shadow_offset_vertical="4" menu_shadow_shadow_color="rgba(0,0,0,0.15)"]

Adanya Aduan dari Masyarakat, LSM AMB-PB Surati PT BPP

Share

- Advertisement -

 


dLXHLU54O2876Ijyf22opx1wE4BqkuMICmXEo/s320/SAVE_20250715_152536.jpg" width="255" />

 

Pasaman Barat | suaraburuhnasional.com – Lembaga Swadaya Masyarakat Aliansi Masyarakat Bersatu Pasaman Barat (LSM AMB-PB) menyurati PT. Bakrie Pasaman Plantation unit Parit Koto Balingka (PT. BPP) terkait pembuatan tanggul di wilayah batas HGU PT. Bakrie Pasaman Plantation (PT. BPP) yang mengakibatkan seringnya terjadi banjir di daerah pemukiman dan lokasi masyarakat yang berbatasan dengan PT. BPP.

Ketua LSM AMB-PB melalui Wakil Ketua Yulnefri mengatakan kepada media pada Senin, (26/1/2026) pihak kami menyurati pihak PT. BPP dikarenakan adanya aduan dari masyarakat Tanjung Harapan, Jorong Banjar Bahal, Nagari Koto Sawah, Kecamatan Lembah Melintang, Kabupaten Pasaman Barat.

“Kami dari LSM AMB-PB telah menyurati PT. BPP terkait aduan masyarakat yang selama ini merasa di rugikan oleh pihak management PT. BPP, yang mana PT. BPP membuat tanggul di batas lahan HGU dengan masyarakat sehingga berdampak terjadi bencana banjir di pemukiman dan sawah masyarakat,” ungkap yulnefri

Yulnefri juga menegaskan dengan pembuatan tanggul di perbatasan HGU PT. BPP dengan masyarakat, sangat merugikan masyarakat yang bermukim di kejorongan Banjar jahal. “Semenjak adanya tanggul di perbatasan HGU PT. BPP dan lahan masyarakat, sering terjadi banjir, dikarenakan aliran sungai sikabau terhalang tanggul sehingga tidak dapat mengalir ke Muara Sikabau, sehingga masyarakat sering gagal panen,” jelas Yulnefri.

Salah seorang warga Tanjung Harapan, Jorong Banjar Bahal, Nagari Koto Sawah, Kecamatan Lembah Melintang. Yang tidak mau disebutkan namanya mengatakan kepada media, semenjak adanya tanggul, kami masyarakat sangat dirugikan. “Kami masyarakat Tanjung Harapan, Jorong Banjar Bahal, Nagari Koto Sawah, sangat di rugikan oleh keberadaan tanggul yang di buat oleh PT. BPP, sehingga membuat gagal panen di karenakan terendam oleh banjir,”ujarnya

Warga juga menjelaskan banjir yang sering terjadi mengakibatkan merendam sawah masyarakat lebih kurang 100 hektar dan menyulitkan akses untuk ke kebun atau ke sawah. “Selain gagal panen masyarakat juga tidak bisa bersawah lagi dikarenakan sawah masih terendam banjir dengan ketinggian mulai dari 1 meter hingga 3 meter, dan dapat merendam sawah hingga berbulan-bulan, minimal air akan surut paling cepat 10 hari, dan akses kesawah pun hanya bisa di tempuh dengan perahu atau sampan, di tambah lagi, sudah banyak buaya yang masuk ke areal sawah masyarakat,” jelasnya.

Di lain tempat, seorang warga yang juga tidak mau di sebutkan namanya menyampaikan tentang dampak dari tanggul yang di buat PT. BPP selain banjir, pembuatan tanggul juga menyebabkan kerusakan ruas jalan dan juga jembatan. “Selain banjir, dampak tanggul yang di buat oleh PT. BPP dapat mengikis jalan umum menuju sikabau, dikarenakan ada pengalihan air sungai yang mengarahkan ke jalan menuju sikabau dan bermuara di jembatan jalan lintas munu sikabau, dan dampak dari tanggul tersebut mengikis pondasi jembatan hingga terputus disaat banjir kemarin,” ungkap nya

Selain itu juga warga menjelaskan bahwasanya pihak masyarakat pernah mendemo PT. BPP di karenakan membuat tanggul sehingga mengakibatkan banjir dan memutuskan akses jalan utama dari Ujung Gading menuju Sikabau. “Sebenarnya dulu masyarakat sudah pernah melakukan aksi penolakan tanggul yang ada di PT. BPP, di karenakan terjadinya banjir karena ada tanggul yang di buat oleh PT. BPP dan mengakibatkan hampir putusnya akses jalan utama Ujung Gading menuju Sikabau, karenakan derasnya arus air yang mengikis badan dikarenakan tanggul yang menghalangi aliran air menuju muara sikabau,” jelas nya

Warga juga berharap adanya perhatian dari pemerintah dan adanya itikad baik dari PT. BPP sehingga membuka tanggul yang di ujung agar aliran air dapat mengalir ke hilir sungai menuju muara sikabau dan batang paparian. “Kami sebagai masyarakat yang bergantung pada sawah dan berkebun di perbatasan dengan HGU PT. BPP berharap kira nya permasalahan ini menjadi perhatian juga untuk pemerintah daerah, dan kami masyarakat juga berharap kepada pihak PT. BPP agar membuka tanggul yang menuju batang paparian atau menuju muara sikabau,”tutupnya. (Muji)

Read more

Local News