Belawan | suaraburuhnasional.com – Sebagai urat nadi perekonomian Sumatera Utara, Pelabuhan Belawan menyandang predikat mentereng sebagai gerbang logistik internasional. Namun, kemegahan status tersebut mendadak sirna saat roda kendaraan menyentuh aspal di kawasan Kampung Salam menuju Gate 3. Alih-alih disambut infrastruktur kelas dunia, para pengguna jalan justru dihadapkan pada deretan “ranjau” darat yang mengancam nyawa, Kamis (26/2/2026).
Kondisi ini menciptakan paradoks yang menyesakkan: di satu sisi, triliunan rupiah nilai logistik melintas setiap tahunnya, namun di sisi lain, akses utamanya dibiarkan hancur lebur bak jalur tak bertuan.
Situasi kian mencekam kala hujan mengguyur Medan dan sekitarnya. Genangan air mengubah jalanan rusak menjadi jebakan maut yang menipu mata. Permukaan yang tampak rata di atas air sering kali menyembunyikan lubang dalam yang siap mematahkan as roda truk logistik atau, yang lebih fatal, merenggut nyawa pengendara sepeda motor.
Bagi pengemudi angkutan berat, kerusakan suspensi mungkin hanya soal biaya operasional. Namun bagi masyarakat umum, melintasi jalur ini adalah sebuah pertaruhan nyawa.
Angka kecelakaan terus membayangi, menjadikan jalur menuju Gate 3 ini laiknya “jalur tengkorak” di tengah hiruk-pikuk industri modern. Kondisi kronis yang dibiarkan menahun ini memicu tanya besar: Di mana kehadiran pemangku kepentingan? Sebagai kawasan yang dikelola secara profesional, ketimpangan infrastruktur ini dianggap sebagai bentuk pengabaian terhadap standar pelayanan publik dan keselamatan kerja (K3) di wilayah vital nasional.
Patar Panjaitan, pemerhati dan pegiat lingkungan yang rutin memantau kawasan tersebut, memberikan kritik pedas atas pembiaran ini. ”Sangat ironis. Bagaimana kita bisa bicara tentang daya saing global jika akses menuju pelabuhan internasionalnya saja menyerupai kubangan? Ini bukan lagi sekadar masalah kenyamanan berkendara, melainkan masalah kemanusiaan dan martabat daerah,” tegasnya.
Urgensi Solusi Permanen
Masyarakat dan pelaku industri kini mendesak adanya langkah konkret dari pemerintah dan PT Pelindo. Pola perbaikan “tambal sulam” yang selama ini dilakukan terbukti tidak efektif dan cenderung membuang anggaran, karena akan kembali hancur dihantam beban muatan dan cuaca dalam hitungan minggu.
Dibutuhkan pengaspalan ulang permanen dengan spesifikasi teknis yang sesuai untuk kendaraan berat (rigid pavement) guna memulihkan citra Belawan di mata dunia.
Membiarkan “wajah bopeng” ini terus menghiasi akses internasional bukan hanya mencederai estetika kota, tetapi juga mencederai rasa keadilan bagi masyarakat yang mencari nafkah di sana. Sudah saatnya Gerbang Internasional Belawan dipoles kembali sebelum daftar korban jiwa kembali bertambah. (Liputan : Nelson Siregar)


