Beranda Kriminal Menagih Marwah di Aspal Belawan: Ketika Negara Kalah dan Rakyat Memilih “Mati” di Jalanan

Menagih Marwah di Aspal Belawan: Ketika Negara Kalah dan Rakyat Memilih “Mati” di Jalanan

0
Menagih Marwah di Aspal Belawan: Ketika Negara Kalah dan Rakyat Memilih “Mati” di Jalanan

 

​Medan Labuhan | suaraburuhnasional.com – Di bawah terik matahari yang seharusnya menyinari aktivitas produktif warga, sebuah tragedi berdarah justru mengoyak sisa-sisa rasa aman di wilayah hukum Polres Pelabuhan Belawan. Insiden yang menimpa penumpang Angkot trayek 81 pada Selasa (7/4/2026) bukan sekadar statistik kriminalitas biasa; ini adalah lonceng kematian bagi wibawa hukum yang kian memudar.

​Jarum jam menunjukkan pukul 13.30 WIB ketika ruang sempit angkutan kota itu berubah menjadi bilik teror. Novianti Nourman br Tampubolon (24) dan Erika Pinesia Hasibuan (24) tak pernah membayangkan bahwa perjalanan mereka menuju masa depan harus terhenti di antara Simpang KIM dan SPBU Simpang Kayu Putih oleh kilatan parang yang dingin.

​Tanpa basa-basi, seorang bandit jalanan menghunuskan senjata tajam, merampas kedaulatan warga atas keselamatannya sendiri. Terdesak antara ujung senjata atau menjadi korban, kedua wanita muda ini mengambil keputusan ekstrem: melompat ke aspal jalanan dari kendaraan yang tengah melaju.

​Novianti selamat dengan luka dan trauma yang mungkin menetap seumur hidup. Namun, Erika harus menanggung harga yang lebih mahal; ia terkapar tak sadarkan diri di RS Mitra Medika, berjuang di antara hidup dan mati akibat benturan keras yang tak terelakkan.

​Keberanian pelaku beraksi di jam produktif dan di ruang publik yang ramai memicu kecaman keras dari Tokoh Agama sekaligus pengamat sosial, Ustadz Ilham Maulana. Dengan nada getir, ia menyebut peristiwa ini sebagai bukti nyata hilangnya taring aparat penegak hukum (APH) di mata para kriminal.

​”Keamanan di Belawan kini bukan lagi hak dasar, melainkan barang mewah yang mustahil terbeli oleh rakyat kecil. Jika di siang hari bolong senjata tajam bisa berayun bebas tanpa rasa takut sedikit pun pada hukum, maka kita sedang berada dalam krisis otoritas yang akut,”tegas Ustadz Maulana.

​Ia bahkan menyamakan aksi premanisme ini dengan tindakan teroris yang menghancurkan stabilitas psikologis masyarakat. “Ini sudah taraf terorisme jalanan. Negara tidak boleh kalah oleh bandit!”

​Tragedi ini diyakini sebagai hilir dari hulu masalah yang tak kunjung tuntas: menjamurnya peredaran narkoba di Medan Utara. Narkoba adalah bahan bakar yang menggerakkan tangan-tangan predator jalanan ini. Tanpa pembersihan total terhadap sarang-sarang narkoba, tindakan penangkapan pelaku begal hanyalah upaya memadamkan api di permukaan sementara bara di bawahnya terus membara.

​Meskipun Tim Reskrim telah turun ke lapangan, publik mulai skeptis terhadap langkah administratif standar seperti “imbauan membuat laporan resmi.” Masyarakat Belawan merindukan Extraordinary Action tindakan luar biasa untuk mengembalikan rasa aman yang telah dirampas.

​Ustadz Ilham Maulana mendesak agar Polri menghidupkan kembali unit-unit khusus seperti Tim Pemburu Preman. Ia mengingatkan bahwa amanah yang diemban APH bukan sekadar menjaga administrasi, melainkan menjaga nyawa manusia.

​Kini, saat Erika masih berjuang di ruang perawatan, warga Belawan terpaksa kembali ke jalanan dengan jantung yang berdegup kencang karena cemas. Wibawa Kepolisian kini sedang dipertaruhkan di atas aspal Simpang Kayu Putih.

​Para petinggi Polri harus membuka mata dan hati. Jika hukum tak lagi mampu menciptakan rasa gentar bagi penjahat, maka sejatinya kita sedang membiarkan rakyat kita hidup di dalam rimba. Ingatlah amanah, sebab setiap tetes darah rakyat yang tumpah karena ketidakmampuan negara menjaga keamanan, akan menuntut keadilan di hadapan Tuhan. (Liputan: Nelson Siregar)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini