8.3 C
Munich
Sabtu, Juni 6, 2026

Medan Utara: Menanti Negara di Balik Kabut Teror dan Retorika “Lips Service”

Must read

 

​Belawan | suaraburuhnasional.com – Harapan warga Medan Utara untuk mengecap rasa aman kini berada di titik nadir. Wilayah yang secara geografis adalah urat nadi ekonomi, perlahan namun pasti, tergelincir menjadi palagan kekacauan yang mencekam. Rentetan aksi kriminalitas mulai dari begal yang kian sadis, peredaran narkoba yang masif, hingga tawuran anarkis yang berujung penjarahan kini bukan lagi sekadar gangguan ketertiban umum, melainkan teror nyata yang merampas kedaulatan ruang publik, Rabu (8/4/2026).

​Ketidakhadiran negara di tengah kemelut ini memicu kritik pedas. Sorotan tajam tertuju pada kepemimpinan Wali Kota yang dinilai hanya piawai dalam narasi, namun tumpul dalam eksekusi. Di mata warga, kebijakan yang ada saat ini tak lebih dari sekadar janji manis yang kontras dengan realitas berdarah di jalanan.

​Tokoh Agama sekaligus Pengamat Publik, Ustadz Ilham Maulana, mengungkapkan kegelisahan mendalam atas degradasi keamanan ini. Ia menyebut bahwa jargon-jargon perlindungan masyarakat kini terasa seperti isapan jempol belaka.

​”Masyarakat tidak butuh pidato yang tertata; masyarakat butuh jaminan bahwa mereka bisa pulang ke rumah dengan selamat. Saat ini, Medan Utara seolah menjadi ‘anak tiri’ yang terisolasi dari perlindungan negara. Jika Amanah dan Tribrata hanya menjadi slogan tanpa aksi, jangan salahkan jika publik merasa ditinggalkan,” tegas Ustadz Ilham.

​Fenomena kejahatan di jalur tol, perjudian yang merajalela, hingga tawuran yang menyerupai taktik gerilya perkotaan telah mencapai level yang melampaui batas kriminalitas biasa. Ustadz Ilham menilai pola serangan yang acak dan brutal ini telah menyerupai metode terorisme domestik karena dampaknya yang menghancurkan psikis masyarakat.
​Rasa was-was kini menjadi “tamu tak diundang” di setiap rumah. Warga dicekam ketakutan luar biasa, bahkan hanya untuk sekadar keluar rumah di malam hari. “Ketika rasa takut telah membelenggu kebebasan bergerak warga, maka itu adalah indikasi kuat bahwa keamanan telah kolaps,” tambahnya.

​Sebagai langkah darurat untuk memutus “sinetron” kekerasan yang tak kunjung usai, para tokoh masyarakat mendesak APH dan Pemerintah Kota untuk segera: Mengaktifkan Kembali Tim Pemburu Preman: Menghidupkan satuan khusus dengan otoritas penuh dan tindakan tegas terukur untuk menyikat habis premanisme jalanan tanpa kompromi.

Penanganan narkoba dan judi harus dilakukan secara holistik, menyisir dari bandar besar hingga ke akar rumput, bukan sekadar penangkapan sporadis. Memperbanyak pos keamanan statis dan patroli dinamis di titik-titik buta (blind spots), termasuk pengamanan ketat di akses jalan tol yang kini rawan penjarahan.

​Sudah saatnya Aparat Penegak Hukum dan Pemerintah Kota Medan membuka mata dan nurani. Narasi “Medan Kondusif” akan selamanya menjadi fiksi jika Medan Utara masih dibiarkan membara di bawah ancaman senjata tajam dan peredaran zat haram.

​Negara tidak boleh kalah oleh premanisme yang bertindak layaknya teroris. Rakyat tidak meminta kemewahan atau fasilitas berlebih; mereka hanya menagih janji paling mendasar dari sebuah pemerintahan: Hak untuk hidup tenang tanpa rasa takut. (Liputan : Nelson Siregar)

- Advertisement -spot_img

More articles

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisement -spot_img

Latest article