Belawan | suaraburuhnasional.com – Wajah Kelurahan Belawan II kembali berselimut persoalan klasik yang kian mengkhawatirkan. Intensitas hujan yang mengguyur kawasan ini, meski dalam durasi yang relatif singkat, telah cukup memicu transformasi pemukiman warga menjadi kubangan air yang luas, Senin (13/4/2026).
Fenomena ini sejatinya bukan sekadar imbas anomali cuaca, melainkan manifestasi dari disfungsi sistemik drainase perkotaan yang kian akut.
Berdasarkan observasi mendalam di lapangan, kondisi infrastruktur drainase di hampir seluruh penjuru Kelurahan Belawan II berada dalam status memprihatinkan. Parit-parit yang merupakan urat nadi pembuangan air kini tersumbat total. Dua faktor utama akumulasi limbah domestik dan sedimentasi pasir yang kian menebal telah mengunci aliran air hingga kehilangan daya salurnya secara permanen.
Konsekuensinya, air tidak lagi mengalir menuju muara, melainkan meluap ke badan jalan hingga menginvasi ruang privat warga. Dampak domino ini tidak hanya melumpuhkan denyut ekonomi lokal, tetapi juga menciptakan degradasi lingkungan yang mengancam kesehatan masyarakat.
Mencuatnya kondisi ini memicu gelombang kritik keras terkait efektivitas kinerja Petugas Penanganan Prasarana dan Sarana Umum (P3SU) di tingkat Kecamatan. Tim yang seharusnya menjadi garda terdepan dalam pemeliharaan infrastruktur lingkungan tersebut dinilai tengah mengalami “mati suri.”
Publik menyoroti beberapa poin krusial yang dianggap sebagai kegagalan administratif: Pembiaran tumpukan pasir dan sampah yang membatu di dalam parit mencerminkan lemahnya supervisi dan ketiadaan deteksi dini terhadap potensi penyumbatan. Absennya pergerakan masif dari tim P3SU untuk melakukan normalisasi berkala terutama sebelum memasuki siklus penghujan menjadi bukti lemahnya manajemen mitigasi bencana.
Strategi pembersihan yang ada saat ini dinilai hanya bersifat formalitas (kosmetik) tanpa menyentuh akar permasalahan sedimentasi yang fundamental.
Sorotan tajam pun mengarah langsung kepada pimpinan wilayah. Ironi terbesar nampak pada akses jalan menuju Kantor Camat Medan Belawan yang turut tergenang banjir. Kondisi ini menjadi simbol kuat betapa urgensi kedisiplinan dan profesionalisme di internal birokrasi kecamatan perlu segera dibenahi.
Camat Medan Belawan, Robby Kurniawan, didesak untuk melakukan Reformasi Total terhadap jajaran P3SU. Harapannya, petugas di lapangan tidak hanya berorientasi pada pencitraan administratif atau formalitas dokumentasi semata, melainkan benar-benar bekerja secara result-oriented untuk kepentingan publik.
Penyelesaian krisis drainase di Belawan II tidak bisa sekadar mengandalkan tindakan reaktif saat banjir terjadi. Diperlukan revitalisasi menyeluruh terhadap mekanisme kerja birokrasi di level akar rumput. Tanpa adanya aksi nyata berupa pengerukan sedimentasi yang mendalam dan pengaktifan kembali peran krusial P3SU, Belawan II akan tetap terjebak dalam siklus kerugian yang tak berujung.
Sebab, integritas tata kota bukan sekadar tentang estetika jalan raya yang nampak di permukaan, melainkan tentang sejauh mana sistem drainase di bawah tanah mampu “bernapas” dengan lega untuk mengalirkan harapan masyarakat akan lingkungan yang layak. (Liputan : Nelson Siregar)


