dLXHLU54O2876Ijyf22opx1wE4BqkuMICmXEo/s320/SAVE_20250715_152536.jpg" width="255" />
Medan | suaraburihnasional.com – Di bawah naungan atap sekretariat Jalan Lombok No. 2, sebuah narasi besar tentang kemanusiaan kembali dituliskan. Yayasan Lansia Merdeka Indonesia (YLMI), yang kini menjadi mercusuar harapan bagi kaum sepuh di Kota Medan, kembali menyelenggarakan agenda rutin “Selasa dan Jumat Berkah” dengan khidmat dan penuh kehangatan, Jumat (17/4/2026).
Acara ini tidak hanya sekadar ritual filantropi, tetapi menjadi momentum berkumpulnya para tokoh penggerak sosial yang memiliki visi serupa: Menjaga martabat orang tua adalah kehormatan bagi generasi muda.
Kehadiran Tokoh: Pilar Penyokong Kebaikan
Kehangatan acara kian terasa dengan kehadiran deretan tokoh masyarakat yang dikenal memiliki kepedulian tinggi terhadap isu sosial. Turut hadir mendampingi Dr. Tjahndra Hartono (Ketua YLMI) antara lain:Bp. Ahai, Ibu Mariani, Ibu Eli, Bapak Hartono Tjandra, Bapak Tan A Liong, Bapak Hendri Tan.
Kehadiran para tokoh ini memberikan pesan kuat bahwa misi memuliakan lansia adalah tanggung jawab kolektif yang melintasi berbagai latar belakang, demi satu tujuan: kemanusiaan yang adil dan beradab.
Pada kesempatan kali ini, sebanyak 350 lansia hadir menghiasi Sekretariat YLMI. Program yang diusung oleh Dr. Tjahndra Hartono ini dirancang secara komprehensif untuk menyentuh aspek paling mendasar dari kehidupan para lansia melalui dua pilar utama: Jamuan makan bersama yang higienis disajikan bukan hanya untuk mengenyangkan, tetapi sebagai media interaksi sosial agar para lansia tidak merasa terisolasi di masa senjanya. Domestik: Penyerahan bantuan beras kemasan 1 Kg kepada setiap lansia sebagai langkah nyata dalam memastikan kebutuhan pokok harian mereka tetap terjaga dengan layak.
”Kami tidak sekadar mendistribusikan logistik. Di balik setiap butir beras dan setiap jamuan yang tersaji, ada kehormatan yang kami titipkan. Ini adalah cara kami berterima kasih kepada mereka yang telah membangun pondasi zaman untuk kita nikmati hari ini,”ujar Dr. Tjahndra Hartono dengan nada yang penuh ketulusan.
Visi Peradaban Empati
YLMI di bawah kepemimpinan Dr. Tjahndra Hartono telah bertransformasi menjadi lebih dari sekadar organisasi nirlaba; ia adalah Pusat Peradaban Empati. Dengan konsistensi yang terjaga setiap Selasa dan Jumat, yayasan ini berhasil menetapkan standar baru dalam pelayanan sosial di Kota Medan.
Langkah elegan yang ditempuh YLMI bersama para tokoh seperti Bp. Ahai, Ibu Mariani, Ibu Eli, Hartono Tjandra, Tan A Liong, dan Hendri Tan, seolah menjadi pengingat bagi khalayak ramai. Bahwa di tengah derap modernitas yang kencang, nilai-nilai kemanusiaan (humanisme) harus tetap menjadi panglima.
Aksi nyata ini diharapkan mampu memantik api inspirasi bagi masyarakat luas. YLMI telah membuktikan bahwa keterbatasan fisik di usia senja bukanlah alasan untuk terpinggirkan. Melalui tangan-tangan terbuka para dermawan, senja usia dapat dilewati dengan kemerdekaan, keberdayaan, dan yang terpenting: kebahagiaan.
Semoga gerakan ini menjadi pemantik bagi sektor-sektor lain untuk turut serta menjaga “mutiara-mutiara” bangsa yang kini telah memutih rambutnya, namun tetap memiliki tempat terhormat di hati kita semua. (Liputan: Nelson Siregar)


