Senin, April 20, 2026
[tds_menu_login inline="yes" guest_tdicon="td-icon-profile" logout_tdicon="td-icon-log-out" tdc_css="eyJhbGwiOnsibWFyZ2luLWJvdHRvbSI6IjAiLCJtYXJnaW4tbGVmdCI6IjMwIiwiZGlzcGxheSI6IiJ9LCJwb3J0cmFpdCI6eyJtYXJnaW4tbGVmdCI6IjIwIiwiZGlzcGxheSI6IiJ9LCJwb3J0cmFpdF9tYXhfd2lkdGgiOjEwMTgsInBvcnRyYWl0X21pbl93aWR0aCI6NzY4fQ==" icon_color="#ffffff" icon_color_h="var(--tt-accent-color)" toggle_txt_color_h="var(--tt-accent-color)" f_toggle_font_family="tt-extra_global" f_toggle_font_weight="600" show_menu="yes" f_btn2_font_family="tt-extra_global" show_version="" show_avatar="" menu_offset_top="eyJhbGwiOiIxMCIsInBvcnRyYWl0IjoiMTEifQ==" menu_horiz_align="content-horiz-right" menu_gh_color="var(--tt-primary-color)" f_btn1_font_family="tt-extra_global" f_gh_font_family="tt-primary-font_global" f_uf_font_family="tt-extra_global" f_links_font_family="tt-extra_global" f_uh_font_family="tt-primary-font_global" menu_uh_color="var(--tt-primary-color)" menu_uf_border_color="var(--tt-primary-color)" menu_ul_link_color="var(--tt-primary-color)" menu_ul_link_color_h="var(--tt-accent-color)" f_uh_font_weight="600" f_links_font_weight="600" f_uf_font_weight="600" f_uh_font_size="eyJhbGwiOiIxNCIsInBvcnRyYWl0IjoiMTMifQ==" f_uh_font_line_height="1.2" f_links_font_size="eyJhbGwiOiIxMyIsInBvcnRyYWl0IjoiMTIifQ==" f_uf_font_size="eyJhbGwiOiIxMyIsInBvcnRyYWl0IjoiMTIifQ==" f_gh_font_size="eyJhbGwiOiIxNCIsInBvcnRyYWl0IjoiMTMifQ==" f_gh_font_line_height="1.2" f_btn1_font_size="eyJhbGwiOiIxMyIsInBvcnRyYWl0IjoiMTIifQ==" f_btn2_font_size="eyJhbGwiOiIxMyIsInBvcnRyYWl0IjoiMTIifQ==" f_gh_font_weight="600" f_btn1_font_weight="600" f_btn2_font_weight="600" toggle_txt_color="#ffffff" menu_bg="#ffffff" menu_uf_txt_color="var(--tt-primary-color)" menu_ul_sep_color="var(--tt-accent-color)" menu_uf_txt_color_h="var(--tt-accent-color)" menu_gc_btn1_color="#ffffff" menu_gc_btn1_color_h="#ffffff" menu_gc_btn1_bg_color="var(--tt-accent-color)" menu_gc_btn1_bg_color_h="var(--tt-hover)" menu_gc_btn2_color="var(--tt-accent-color)" menu_gc_btn2_color_h="var(--tt-hover)" ia_space="10" toggle_horiz_align="content-horiz-left" menu_offset_horiz="6" menu_shadow_shadow_size="16" menu_uh_border_color="var(--tt-primary-color)" menu_gh_border_color="var(--tt-primary-color)" f_btn1_font_line_height="1.2" f_btn2_font_line_height="1.2" f_uf_font_line_height="1.2" f_links_font_line_height="1.2" menu_ul_space="10" icon_size="eyJhbGwiOjI0LCJwb3J0cmFpdCI6IjIyIn0=" avatar_size="eyJwb3J0cmFpdCI6IjIzIn0=" f_toggle_font_size="eyJhbGwiOiIxMyIsInBvcnRyYWl0IjoiMTIifQ==" f_toggle_font_line_height="1.2" menu_shadow_shadow_offset_vertical="4" menu_shadow_shadow_color="rgba(0,0,0,0.15)"]

Saat Sistem “Smart Card” Menjadi Algojo Logistik Sumatera Utara

Share

- Advertisement -

 


dLXHLU54O2876Ijyf22opx1wE4BqkuMICmXEo/s320/SAVE_20250715_152536.jpg" width="255" />

 

​Medan | suaraburuhnasional.com – Narasi besar tentang Smart City dan transformasi digital yang digaungkan Kementerian Perhubungan kini tengah membentur tembok kenyataan yang pahit. Di Terminal Amplas, sebuah krisis birokrasi pecah, mengubah pusat pergerakan transportasi tersebut menjadi “monumen” kegagalan sistem. Hari ini, Senin (20/4/2026), ribuan truk trailer terjebak dalam status ilegal administratif sebuah nestapa yang dipicu oleh apa yang disebut para pelaku usaha sebagai “Dosa Digital.”

​Krisis ini berakar pada ketidaksinkronan aplikasi pusat milik Kementerian Perhubungan dengan realitas di lapangan. Sistem Smart Card yang seharusnya menjadi akselerator pelayanan, justru mengalami malfungsi sistemik dalam mendeteksi nomor rangka kendaraan dan kereta tempelan. Akibatnya, ribuan armada kelas berat tulang punggung distribusi barang dari Pelabuhan Belawan terkunci dalam sistem yang “koma.”

​Ironi memuncak ketika kegagalan server ini berujung pada tindakan represif di jalanan. Para pengusaha angkutan kini menjadi sasaran empuk penegakan hukum (tilang), seolah-olah kesalahan teknis negara adalah dosa yang harus ditebus oleh kantong rakyat.

​”Kami dipaksa hijrah ke ekosistem digital, namun pintunya dikunci dari dalam. Kendaraan kami dianggap ilegal karena kegagalan sistem mereka sendiri. Ini bukan lagi kebijakan, ini adalah penjebakan berbaju modernitas,”ungkap Ay, salah satu tokoh pengurus angkutan dengan nada getir.

​Menanggapi kegaduhan yang kian memanas, perwakilan Dishub Medan, Wahyu dan Rahmat, mengakui adanya kendala teknis pada pendeteksian nomor rangka. Namun, solusi yang ditawarkan justru dianggap sebagai penghinaan terhadap nalar logistik: Surat Keterangan (SUKET) dengan masa berlaku hanya 10 hari.

​Kebijakan “tambal sulam” ini dinilai fatal karena tiga alasan fundamental: Tanpa sertifikat KIR yang sah secara sistem, klaim asuransi dipastikan gugur jika terjadi kecelakaan. Pemilik armada dipaksa bertaruh nyawa dan harta di atas ketidakpastian. Kegagalan validasi KIR memicu matinya Pajak Kendaraan (BK) hingga tertahannya rekomendasi Organda, menciptakan kebuntuan legalitas yang sistemik. ​Memberikan surat jalan 10 hari untuk armada lintas provinsi menunjukkan ketidakpahaman birokrasi terhadap ritme dan durasi logistik nasional yang melintasi ribuan kilometer.

​Sudah hampir dua bulan para pejuang logistik ini berjuang melawan tembok birokrasi yang tuli. Digitalisasi yang seharusnya menjadi katalisator kesejahteraan, kini justru bertindak sebagai “algojo” bagi hak-hak warga negara.

​Tragedi di Terminal Amplas adalah alarm keras. Transformasi teknologi tanpa mitigasi risiko yang matang hanyalah bentuk penindasan gaya baru yang bersalin rupa dalam kode-kode digital. Jika sistem ini tidak segera “dibangkitkan dari kubur”, maka pelambatan ekonomi di Sumatera Utara bukan lagi sekadar ancaman, melainkan keniscayaan yang tinggal menunggu waktu.

​Pemerintah Kota Medan dan Kementerian Perhubungan harus menyadari satu hal: piring nasi rakyat dan kelancaran arus barang tidak boleh dikorbankan demi sebuah label kecanggihan yang prematur.​(Laporan Khusus: Nelson Siregar)

Read more

Local News