Minggu, Mei 3, 2026
[tds_menu_login inline="yes" guest_tdicon="td-icon-profile" logout_tdicon="td-icon-log-out" tdc_css="eyJhbGwiOnsibWFyZ2luLWJvdHRvbSI6IjAiLCJtYXJnaW4tbGVmdCI6IjMwIiwiZGlzcGxheSI6IiJ9LCJwb3J0cmFpdCI6eyJtYXJnaW4tbGVmdCI6IjIwIiwiZGlzcGxheSI6IiJ9LCJwb3J0cmFpdF9tYXhfd2lkdGgiOjEwMTgsInBvcnRyYWl0X21pbl93aWR0aCI6NzY4fQ==" icon_color="#ffffff" icon_color_h="var(--tt-accent-color)" toggle_txt_color_h="var(--tt-accent-color)" f_toggle_font_family="tt-extra_global" f_toggle_font_weight="600" show_menu="yes" f_btn2_font_family="tt-extra_global" show_version="" show_avatar="" menu_offset_top="eyJhbGwiOiIxMCIsInBvcnRyYWl0IjoiMTEifQ==" menu_horiz_align="content-horiz-right" menu_gh_color="var(--tt-primary-color)" f_btn1_font_family="tt-extra_global" f_gh_font_family="tt-primary-font_global" f_uf_font_family="tt-extra_global" f_links_font_family="tt-extra_global" f_uh_font_family="tt-primary-font_global" menu_uh_color="var(--tt-primary-color)" menu_uf_border_color="var(--tt-primary-color)" menu_ul_link_color="var(--tt-primary-color)" menu_ul_link_color_h="var(--tt-accent-color)" f_uh_font_weight="600" f_links_font_weight="600" f_uf_font_weight="600" f_uh_font_size="eyJhbGwiOiIxNCIsInBvcnRyYWl0IjoiMTMifQ==" f_uh_font_line_height="1.2" f_links_font_size="eyJhbGwiOiIxMyIsInBvcnRyYWl0IjoiMTIifQ==" f_uf_font_size="eyJhbGwiOiIxMyIsInBvcnRyYWl0IjoiMTIifQ==" f_gh_font_size="eyJhbGwiOiIxNCIsInBvcnRyYWl0IjoiMTMifQ==" f_gh_font_line_height="1.2" f_btn1_font_size="eyJhbGwiOiIxMyIsInBvcnRyYWl0IjoiMTIifQ==" f_btn2_font_size="eyJhbGwiOiIxMyIsInBvcnRyYWl0IjoiMTIifQ==" f_gh_font_weight="600" f_btn1_font_weight="600" f_btn2_font_weight="600" toggle_txt_color="#ffffff" menu_bg="#ffffff" menu_uf_txt_color="var(--tt-primary-color)" menu_ul_sep_color="var(--tt-accent-color)" menu_uf_txt_color_h="var(--tt-accent-color)" menu_gc_btn1_color="#ffffff" menu_gc_btn1_color_h="#ffffff" menu_gc_btn1_bg_color="var(--tt-accent-color)" menu_gc_btn1_bg_color_h="var(--tt-hover)" menu_gc_btn2_color="var(--tt-accent-color)" menu_gc_btn2_color_h="var(--tt-hover)" ia_space="10" toggle_horiz_align="content-horiz-left" menu_offset_horiz="6" menu_shadow_shadow_size="16" menu_uh_border_color="var(--tt-primary-color)" menu_gh_border_color="var(--tt-primary-color)" f_btn1_font_line_height="1.2" f_btn2_font_line_height="1.2" f_uf_font_line_height="1.2" f_links_font_line_height="1.2" menu_ul_space="10" icon_size="eyJhbGwiOjI0LCJwb3J0cmFpdCI6IjIyIn0=" avatar_size="eyJwb3J0cmFpdCI6IjIzIn0=" f_toggle_font_size="eyJhbGwiOiIxMyIsInBvcnRyYWl0IjoiMTIifQ==" f_toggle_font_line_height="1.2" menu_shadow_shadow_offset_vertical="4" menu_shadow_shadow_color="rgba(0,0,0,0.15)"]

Puluhan Pasien Diduga Korban Keracunan MBG Tidak Dirujuk ke Rumah Sakit Lantaran Dinilai Cukup Ditangani Bidan di Aula Desa

Share

- Advertisement -

 


dLXHLU54O2876Ijyf22opx1wE4BqkuMICmXEo/s320/SAVE_20250715_152536.jpg" width="255" />

 

Jabar | suaraburuhnasional.com – Baru saja sepekan berlalu viral tersiar kabar mengagetkan masyarakat luas soal meninggalnya salah seorang balita warga Kecamatan Leles, Kabupaten Cianjur, Jawa Barat yang disinyalir akibat keracunan sajian Makan Bergizi Gratis (MBG), kini giliran warga kecamatan sukaluyu dikabarkan mengalami keracunan serupa usai menyantap sajian MBG dari salah satu dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) dibilangan Kecamatan Sukaluyu.

Sumber dari bagian keluarga korban, pada awak media suaraburuhnasional.com, menuturkan, ada sekitar 29 orang warga diduga mengalami keracunan usai menyantap sajian MBG pada kamis 28 April lalu, penerima manpaat MBG yang terindikasi mengalami keracunan adalah murid PAUD dan SD ditambah dua orang pendidik dari SDN setempat.

Sumber menambahkan, sejumlah korban yang tengah menderita kesakitan tidak segera dilarikan ke rumah sakit, melainkan hanya diberikan tindakan medis oleh beberapa orang bidan desa dan tenaga medis dari puskesmas pada Kamis malam di aula desa dengan fasilitas yang sangat terbatas, padahal, menurut sumber, kejadian tersebut sudah diketahui oleh kepala dan wakil puskesmas serta pihak Dinas Kesehatan setempat, sumber meyakini, tindakan medis yang tidak berlanjut rujukan pada rumah sakit terdekat merupakan suatu siasat agar kejadian yang dapat mencoreng marwah MBG tersebut tidak terendus oleh publik guna menghindari tindakan tegas dari BGN.

Holid selaku Ketua Korcam SPPG setempat belum berhasil dimintai keterangan, lantan tiap kali dihubungi melalui WhatsApp tidak ada jawaban yang disampaikan Holid pada awak media suaraburuhnasional.com.

Prihatin atas kejadian yang menimpa puluhan warga penerima manpaat MBG, Wilson Sijabat ahli hukum pidana angkat bicara, menurutnya, apabila cukup bukti atau petunjuk yang dapat membuktikan kausalitas dan relevansi antara pihak penanggung jawab MBG dengan penerima manpaat yang terdampak dugaan keracunan, hal tersebut dapat menjadi dasar menuntut pertanggung jawaban hukum baik secara pidana maupun perdata.

Banyaknya pihak yang menduga, kasus keracunan MBG di wilayah Sukaluyu disebabkan oleh buruknya hygiene dapur, kontaminasi bakteri/virus akibat bahan tidak segar, serta lemahnya pengawasan standar keamanan pangan di SPPG. karenanya, tak sedikit masyarat yang mendesak pemerintah pusat dan daerah agar lebih meningkatkan standar pengawasan dan sertifikasi keamanan pangan disetiap dapur SPPG guna mencegah kejadian serupa dikemudian hari. (Kamal)

Read more

Local News