20.5 C
Munich
Sabtu, Mei 23, 2026

Menjemput Detak Jantung yang Bocor Pertaruhan Nyawa Arisha di Batas Waktu Dua Tahun

Must read

 

​Jakarta | suaraburuhnasional.com — Di dalam ruang perawatan yang sunyi, waktu seolah berjalan lebih lambat bagi Rohana Boru Barus. Matanya yang sembap menatap lekat-lekat pada dada putri kecilnya, Arisha Zainabba Nasution, yang naik-turun dengan cepat dan berat. Setiap tarikan napas bocah berusia dua tahun itu adalah sebuah unjuk kekuatan sekaligus penderitaan—sebuah usaha keras yang dipaksakan agar jiwanya tidak terlepas dari tubuh mungil yang kian menyusut, Sabtu (23/5/2026).

​Sebuah selang Nasogastric Tube (NGT) melekat di pipi Arisha, mengalirkan tetes demi tetes susu khusus langsung ke lambungnya. Di hidungnya, sepasang kanula oksigen mendesis pelan, mengirimkan udara kehidupan yang tak lagi mampu diproduksi secara mandiri oleh tubuhnya. ​Bagi anak-anak seusianya, bernapas adalah berkah yang gratis dan otomatis. Namun bagi Arisha, bernapas adalah sebuah pertempuran yang menguras seluruh tenaganya.

​Arisha lahir di Deli Serdang, Sumatera Utara, pada 14 April 2024. Sejak hari pertama menghirup udara dunia, takdir telah meletakkan beban yang teramat berat di dadanya. Tim dokter spesialis jantung anak di RSUP H. Adam Malik, Medan, menemukan sebuah robekan besar pada organ paling vitalnya: Large Ventricular Septal Defect (VSD) perimembran inlet-outlet, yang kini menjalar menjadi hipertensi pulmonal ringan-sedang.

​Dalam bahasa awam, ada lubang menganga di sekat jantung Arisha. Darah bersih yang seharusnya menghidupi tubuhnya justru bocor, merembes, dan membanjiri paru-parunya. Jantungnya kelelahan bekerja dua kali lipat, sementara paru-parunya perlahan mulai tenggelam.

​Perlombaan Melawan Waktu yang Kritis
​Selama hampir dua puluh empat bulan, kebocoran itu bekerja layaknya musuh dalam selimut. Ia merampas hak Arisha untuk tumbuh. Nutrisi yang masuk sering kali dimuntahkan kembali karena tubuhnya terlalu lemah untuk mencerna. Akibatnya, bobot tubuhnya tertinggal jauh dari anak-anak sebayanya. Namun di balik tubuh ringkih itu, sepasang mata Arisha selalu menyala bulat—seolah menegaskan kepada sang ibu bahwa ia belum ingin menyerah.

​Rekomendasi dari RS Jantung Jakarta menjadi lonceng peringatan yang menggetarkan hati: paru-paru Arisha telah berada di ambang batas kerusakan permanen (irreversible). Operasi penutupan lubang jantung tidak bisa lagi ditunda seminggu, bahkan sehari pun.

​Secara medis, emasnya waktu (golden period) untuk menyelamatkan anak dengan kondisi seperti ini adalah sebelum usia dua tahun—masa di mana jaringan tubuh masih memiliki elastisitas untuk pulih. Arisha kini berdiri tepat di garis batas kritis tersebut. Jika waktu ini terlewati, kerusakan pada paru-parunya tidak akan pernah bisa disembuhkan lagi.

​”Saya tidak meminta kemewahan. Saya hanya ingin melihat anak saya bisa bernapas tanpa bantuan tabung, bisa tidur nyenyak tanpa saya harus ketakutan setiap malam kalau-kalau napasnya terhenti,” lirih Zulfikar Nasution (32), ayah Arisha, dengan suara yang bergetar menahan air mata.

​Melihat Arisha yang baru bisa menginjakkan kaki di Jakarta saat ini bukanlah karena kelalaian orang tuanya, melainkan karena sebuah realitas yang menyakitkan. Zulfikar adalah seorang buruh harian di sebuah pabrik sabun di kawasan Patumbak, Deli Serdang. Jari-jarinya yang kasar bekerja setiap hari demi upah yang pas-pasan untuk menyambung hidup. ​Selama dua tahun, ia telah membelah tubuh dan pikirannya: mengayuh sepeda ke pabrik, lalu berlari ke rumah sakit untuk menebus obat pembuang cairan di paru-paru Arisha yang harganya kerap menguras dompet.

​Memang benar, BPJS Kesehatan menanggung biaya meja operasi dan tindakan medis utama. Namun, penyakit kronis selalu membawa “penumpang gelap” berupa biaya-biaya non-medis yang tak kasat mata, yang justru sering kali mematahkan semangat keluarga miskin:
​Susu formula nutrisi khusus berharga tinggi yang wajib dikonsumsi Arisha agar berat badannya memenuhi syarat minimal operasi.

​Biaya hidup dan akomodasi darurat selama tiga bulan bagi sang ibu yang menjaga Arisha di Jakarta kota yang asing, dingin, dan mahal bagi mereka. ​Kebutuhan logistik darurat seperti sewa tabung oksigen harian, alat medis portabel, vitamin tambahan, hingga tiket kepulangan mereka ke Sumatra Utara kelak.

​Tiket keberangkatan mereka ke Jakarta beberapa waktu lalu hanyalah hasil dari kebaikan hati para tetangga dan sanak saudara yang mengumpulkan koin demi koin. Kini, di tengah ketatnya observasi dokter menjelang hari operasi, tabungan darurat itu telah menipis hingga ke dasar. Saat ini, keluarga kecil ini sedang melakoni sebuah drama perjuangan di dua tempat berbeda.

​Di Jakarta, di bangsal rumah sakit, Rohana Boru Barus melupakan arti tidur nyenyak. Sepanjang malam ia berjaga, membelai dada Arisha, memastikan selang oksigen tidak bergeser dari posisinya, dan berbisik menenangkan setiap kali putrinya terbangun karena sesak yang menyiksa.

​Sementara di sebuah rumah sederhana di Dusun II Desa Lantasan Lama, Deli Serdang, Zulfikar tetap berangkat bekerja saat subuh masih berkabut. Di pundaknya yang legam, ada beban nafkah yang harus terus digulirkan, dan di dadanya ada kecemasan luar biasa yang berkecamuk setiap kali telepon genggamnya berdering. Ia berjuang dari jauh, mengirimkan setiap rupiah yang tersisa dari keringatnya demi menyambung napas sang putri di ibu kota.

​Arisha telah membuktikan diri sebagai pejuang kecil yang tangguh. Ia bertahan melewati dua tahun yang penuh rasa sakit demi tetap berada di pelukan ibunya. Namun, sekuat apa pun seorang anak, ia tetap butuh uluran tangan kita untuk menyeberangi jembatan kritis ini. Waktunya kian sempit, lubang di jantungnya harus segera ditutup sebelum semuanya terlambat.

​Menjadi Jembatan Hidup Bagi Arisha
​Mari menjadi bagian dari detak jantung Arisha yang baru. Uluran tangan, kepedulian, dan doa dari Anda adalah oksigen nyata bagi masa depan bocah malang ini. Bantuan kemanusiaan dapat disalurkan secara langsung melalui rekening resmi ayah kandung Arisha:
​Bank / Nomor Rekening: BNI — 409856729
​Atas Nama: Zulfikar Nasution ​Kontak Orang Tua (WhatsApp/Telepon): 0822-7779-5605 (Zulfikar Nasution & Rohana Boru Barus) ​Kontak Pendamping Lapangan: 0812-6321-136 (Wina Khairina)​Data Validitas Medis & Administratif:
​Nama Lengkap Pasien: Arisha Zainabba Nasution ​Nomor Induk Kependudukan (NIK): 1207215404240001 ​Nomor Kepesertaan BPJS: 0003599023465
​Alamat Asal: Dusun II Desa Lantasan Lama, Kecamatan Patumbak, Kabupaten Deli Serdang, Sumatera Utara.

​Setiap kepedulian yang kita berikan hari ini adalah helaan napas yang melegakan bagi Arisha esok hari. Mari bersama kita pastikan senyum Arisha tidak padam di batas waktu ini. (Liputan : Nelson Siregar)

- Advertisement -spot_img

More articles

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisement -spot_img

Latest article