Belawan | suaraburuhnasional.com – Pelabuhan Ujung Baru Belawan adalah salah satu episentrum yang membuat roda ekonomi Sumatera Utara terus berputar. Di sini, ribuan truk bertonase besar bergerak setiap hari, membawa komoditas, dan mengantar harapan. Namun, di balik urgensi mobilitas logistik tersebut, tersimpan tantangan besar yang mengintai di aspal jalanan: risiko fatalitas lalu lintas.
Memahami bahwa jalan raya harus menjadi ruang yang aman bagi semua orang, Sat Lantas Polres Pelabuhan Belawan mengambil langkah taktis yang sarat akan nilai humanis.
Pada Kamis (9/7/2026), aparat kepolisian tidak hadir dengan sirine yang menegangkan atau surat tilang di tangan. Mereka turun ke kantong-kantong parkir dan dermaga untuk merangkul para sopir truk dalam sebuah dialog persuasif bertajuk sosialisasi Kamseltibcar Lantas (Keamanan, Keselamatan, Ketertiban, dan Kelancaran Lalu Lintas).
Langkah preventif ini melampaui sekadar imbauan normatif; ini adalah sebuah upaya menyuntikkan kultur keselamatan (safety culture) langsung ke jantung sektor transportasi logistik.
Di bawah terik matahari pesisir, personel Sat Lantas membangun komunikasi dua arah yang hangat dengan para pengemudi. Pendekatan ini dipilih untuk meruntuhkan sekat kaku antara penegak hukum dan masyarakat, sehingga pesan keselamatan dapat diterima sebagai sebuah kebutuhan, bukan paksaan.
Kasat Lantas Polres Pelabuhan Belawan, AKP Andi K. Barus, SH., MH., menegaskan bahwa sopir truk adalah pahlawan logistik yang sekaligus memikul tanggung jawab moral yang besar di jalan raya. Dimensi kendaraan yang raksasa menuntut kedewasaan berkendara yang juga besar.
”Kami ingin menyentuh ruang kesadaran terdalam para pengemudi. Di balik kemudi truk-truk besar ini, ada kehidupan yang harus dijaga baik kehidupan sopir itu sendiri, keluarga yang menanti di rumah, maupun hak pengguna jalan lain untuk sampai dengan selamat. Keselamatan tidak boleh ditawar oleh target waktu,”ujar AKP Andi K. Barus secara filosofis.
Dalam edukasi yang berlangsung interaktif tersebut, Sat Lantas Polres Pelabuhan Belawan membedah tiga aspek krusial yang kerap menjadi pemicu kerawanan di jalan raya: Menolak keras budaya ugal-ugalan dan aksi saling serobot. Keandalan seorang pengemudi profesional tidak dilihat dari kecepatannya, melainkan dari tingkat kesabaran dan toleransinya di jalanan. Menekankan pentingnya kepemilikan SIM dan STNK yang valid sebagai bukti absah atas kompetensi dan legalitas mereka di atas aspal. Mengingatkan para sopir untuk disiplin memeriksa sistem pengereman, fungsi lampu, hingga kondisi ban sebelum roda berputar, demi mengantisipasi malafungsi teknis yang kerap berujung tragedi.
Tidak memihak, Sat Lantas juga memberikan edukasi tegas namun humanis kepada para pengendara roda dua di area pelabuhan mengenai kewajiban mutlak menggunakan helm berstandar SNI demi proteksi kepala yang optimal.
Melalui momentum ini, Sat Lantas Polres Pelabuhan Belawan menaruh harapan besar agar para sopir truk di Pelabuhan Ujung Baru dapat bertransformasi menjadi Duta Kamseltibcar Lantas. Mereka diharapkan menjadi contoh nyata bagaimana profesionalisme di jalan raya diterapkan.
”Tujuan akhir kita adalah mengubah paradigma. Kita ingin disiplin lalu lintas lahir dari kesadaran moral pribadi, bukan karena takut pada sanksi hukum atau keberadaan petugas di lapangan. Ketika kesadaran kolektif ini terbentuk, kita sedang membangun peradaban transportasi yang aman, tertib, dan bermartabat,” pungkas AKP Andi K. Barus.
Melalui sinergi yang harmonis antara aparat dan elemen transportasi ini, Polres Pelabuhan Belawan optimis angka kecelakaan dapat ditekan secara signifikan. Langkah ini membuktikan bahwa pertumbuhan ekonomi dan keselamatan jiwa dapat berjalan beriringan tanpa harus ada yang dikorbankan. (Liputan: Nelson Siregar/Hms)


