29.3 C
Munich
Sabtu, Juli 11, 2026

Mengalun di Nadi Pasar Ketika Pancasila Menemukan Jiwanya di Medan Labuhan

Must read

 

​Medan Labuhan | suaraburuhnasional.com – Di antara riuh tawar-menawar, aroma komoditas, dan deru langkah kaki di Pasar Inpres Simpang Kantor, sebuah pemandangan tidak biasa tersaji pada Sabtu (11/7/2026).

Pusat ekonomi rakyat yang biasanya riuh oleh urusan domestik itu bersalin rupa menjadi sebuah panggung kebangsaan yang megah. Ratusan pasang mata mulai dari pedagang yang jemarinya masih menyisakan aroma tanah, warga sekitar, hingga tokoh lintas etnis melebur menjadi satu. Mereka hadir untuk merawat sesuatu yang lebih besar dari sekadar transaksi dagang: menjaga urat nadi kebangsaan.

​Adalah Janses Simbolon, legislator dari Fraksi Partai Hanura DPRD Kota Medan, yang memantik nyala api tersebut melalui agenda Sosialisasi Pembinaan Ideologi Pancasila dan Wawasan Kebangsaan. Sebuah acara yang dengan elegan mengawinkan diskursus politik berbobot tinggi dengan pendekatan kultural yang membumi.

​Acara ini tidak bergerak kaku seperti seminar di ruang-ruang hotel berbintang. Janses membawa ideologi negara ke tempat di mana ia seharusnya hidup: di tengah-tengah rakyat.

​Atmosfer acara bergerak dinamis, memadukan kegembiraan dan kekhidmatan: Melalui kuis interaktif sejarah bangsa, tawa warga pecah sekaligus membakar kembali memori patriotisme yang mungkin sempat berdebu oleh rutinitas harian.

Suasana mendadak magis saat lagu Indonesia Raya berkumandang. Di bawah tenda kebangsaan, suara ratusan warga menyatu, bergetar menyusuri sudut-sudut pasar, lalu dikunci oleh doa kedamaian untuk Medan Labuhan yang dihantarkan secara syahdu oleh St. Tarigan.

​Dalam orasi kebangsaannya, Janses Simbolon menggarisbawahi bahwa pasar tradisional adalah wujud paling murni dari miniatur Indonesia. Di tempat inilah sekat-sekat primordial runtuh oleh kebutuhan untuk saling mendukung.

​”Pancasila bukanlah dogma mati yang tersimpan di dalam lemari buku sejarah. Ia adalah benteng hidup, prinsip yang mengalir dalam darah kita sehari-hari. Memastikan roh gotong royong tetap bernyawa di pusat ekonomi rakyat seperti pasar ini adalah tugas ideologis yang mutlak,”tegas Janses dengan nada retoris yang memukau hadirin.

​Kompas Moral di Tengah Arus Zaman
​Bobot intelektual acara ini semakin solid dengan paparan dari narasumber ahli, Alboin Sidauruk. Ia tidak sekadar berbicara teori, melainkan membedah tantangan geopolitik modern dan disrupsi informasi yang mengancam kohesi sosial saat ini. Di hadapan para pedagang dan warga, ia mengingatkan bahwa di tengah derasnya arus globalisasi, Pancasila harus tetap menjadi kompas moral agar bangsa ini tidak kehilangan arah.

​Kehadiran solid jajaran Partai Hanura yang berbaur dengan komunitas Partokoaan Bana Dame seolah menegaskan pesan tersirat: di bawah panji kebangsaan, perbedaan etnis dan latar belakang bukanlah pemisah, melainkan kekayaan energi untuk bersatu.

​Ketika acara ditutup dengan sesi ramah tamah yang hangat, ada sebuah kesimpulan besar yang tertinggal di Pasar Simpang Kantor. Narasi kebangsaan dan ideologi negara tidak akan pernah kehilangan daya pikatnya jika disampaikan dengan ketulusan dan menyentuh realitas hidup masyarakat bawah.

​Hari itu, Medan Labuhan bukan sekadar mencatat perputaran rupiah, melainkan menjadi saksi bagaimana Pancasila dipraktikkan secara anggun, langsung di jantung kehidupan rakyatnya. (Liputan: Nelson Siregar)

- Advertisement -spot_img

More articles

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisement -spot_img

Latest article