Rabu, April 22, 2026
[tds_menu_login inline="yes" guest_tdicon="td-icon-profile" logout_tdicon="td-icon-log-out" tdc_css="eyJhbGwiOnsibWFyZ2luLWJvdHRvbSI6IjAiLCJtYXJnaW4tbGVmdCI6IjMwIiwiZGlzcGxheSI6IiJ9LCJwb3J0cmFpdCI6eyJtYXJnaW4tbGVmdCI6IjIwIiwiZGlzcGxheSI6IiJ9LCJwb3J0cmFpdF9tYXhfd2lkdGgiOjEwMTgsInBvcnRyYWl0X21pbl93aWR0aCI6NzY4fQ==" icon_color="#ffffff" icon_color_h="var(--tt-accent-color)" toggle_txt_color_h="var(--tt-accent-color)" f_toggle_font_family="tt-extra_global" f_toggle_font_weight="600" show_menu="yes" f_btn2_font_family="tt-extra_global" show_version="" show_avatar="" menu_offset_top="eyJhbGwiOiIxMCIsInBvcnRyYWl0IjoiMTEifQ==" menu_horiz_align="content-horiz-right" menu_gh_color="var(--tt-primary-color)" f_btn1_font_family="tt-extra_global" f_gh_font_family="tt-primary-font_global" f_uf_font_family="tt-extra_global" f_links_font_family="tt-extra_global" f_uh_font_family="tt-primary-font_global" menu_uh_color="var(--tt-primary-color)" menu_uf_border_color="var(--tt-primary-color)" menu_ul_link_color="var(--tt-primary-color)" menu_ul_link_color_h="var(--tt-accent-color)" f_uh_font_weight="600" f_links_font_weight="600" f_uf_font_weight="600" f_uh_font_size="eyJhbGwiOiIxNCIsInBvcnRyYWl0IjoiMTMifQ==" f_uh_font_line_height="1.2" f_links_font_size="eyJhbGwiOiIxMyIsInBvcnRyYWl0IjoiMTIifQ==" f_uf_font_size="eyJhbGwiOiIxMyIsInBvcnRyYWl0IjoiMTIifQ==" f_gh_font_size="eyJhbGwiOiIxNCIsInBvcnRyYWl0IjoiMTMifQ==" f_gh_font_line_height="1.2" f_btn1_font_size="eyJhbGwiOiIxMyIsInBvcnRyYWl0IjoiMTIifQ==" f_btn2_font_size="eyJhbGwiOiIxMyIsInBvcnRyYWl0IjoiMTIifQ==" f_gh_font_weight="600" f_btn1_font_weight="600" f_btn2_font_weight="600" toggle_txt_color="#ffffff" menu_bg="#ffffff" menu_uf_txt_color="var(--tt-primary-color)" menu_ul_sep_color="var(--tt-accent-color)" menu_uf_txt_color_h="var(--tt-accent-color)" menu_gc_btn1_color="#ffffff" menu_gc_btn1_color_h="#ffffff" menu_gc_btn1_bg_color="var(--tt-accent-color)" menu_gc_btn1_bg_color_h="var(--tt-hover)" menu_gc_btn2_color="var(--tt-accent-color)" menu_gc_btn2_color_h="var(--tt-hover)" ia_space="10" toggle_horiz_align="content-horiz-left" menu_offset_horiz="6" menu_shadow_shadow_size="16" menu_uh_border_color="var(--tt-primary-color)" menu_gh_border_color="var(--tt-primary-color)" f_btn1_font_line_height="1.2" f_btn2_font_line_height="1.2" f_uf_font_line_height="1.2" f_links_font_line_height="1.2" menu_ul_space="10" icon_size="eyJhbGwiOjI0LCJwb3J0cmFpdCI6IjIyIn0=" avatar_size="eyJwb3J0cmFpdCI6IjIzIn0=" f_toggle_font_size="eyJhbGwiOiIxMyIsInBvcnRyYWl0IjoiMTIifQ==" f_toggle_font_line_height="1.2" menu_shadow_shadow_offset_vertical="4" menu_shadow_shadow_color="rgba(0,0,0,0.15)"]

Banjir Rob “Kepung” Pelabuhan Belawan, Dimana Profesionalisme Pelindo?

Share

- Advertisement -

 


dLXHLU54O2876Ijyf22opx1wE4BqkuMICmXEo/s320/SAVE_20250715_152536.jpg" width="255" />

 

​Belawan | suaraburuhnasional.com – Minggu dini hari (20/4/2026), sekira pukul 03.00 WIB, Pelabuhan Ujung Baru yang digadang-gadang sebagai urat nadi logistik internasional, kembali lumpuh. Bukan karena aktivitas bongkar muat yang padat, melainkan karena kepungan banjir rob yang menenggelamkan dermaga. Pemandangan ini menjadi ironi pahit di tengah megahnya narasi “Pelabuhan Kelas Dunia” yang sering didengungkan, Rabu (22/4/2026).

​Publik patut bertanya: ke mana larinya aliran dana Berthing Fee (biaya sandar) yang nilainya mencapai angka fantastis? Sebagai pelabuhan bertaraf internasional, Pelindo menetapkan tarif yang tidak murah bagi kapal-kapal raksasa untuk bersandar. Namun, layanan yang diterima justru jauh dari kata layak. ​”Sangat tidak sinkron antara biaya yang dikeluarkan pengusaha dengan fasilitas yang didapat. Kita membayar tarif internasional, tapi mendapatkan pelayanan dermaga yang ‘tenggelam’ seperti kolam ikan,” keluh salah satu praktisi logistik NPS.

​Banjir rob di Belawan bukanlah fenomena baru yang datang tiba-tiba. Ini adalah siklus alam yang seharusnya sudah bisa dimitigasi oleh otoritas pelabuhan melalui perencanaan infrastruktur yang visioner. ​Genangan air setinggi betis orang dewasa di area vital pelabuhan menunjukkan beberapa poin krusial

Ketidakmampuan sistem pembuangan air menghadapi pasang laut. ​Alokasi anggaran pemeliharaan infrastruktur yang dipertanyakan efektivitasnya. ​Kesan “membiarkan” dari pihak regulator dan pemangku jabatan di Pelindo seolah fenomena ini adalah hal lumrah yang boleh terus berulang.

​Masyarakat dan pelaku usaha kini menagih akuntabilitas. Bagaimana mungkin sebuah pelabuhan yang menjadi pintu masuk devisa negara justru terlihat tidak berdaya menghadapi pasang air laut?. Apakah kursi jabatan di Pelindo hanya menjadi tempat bernaung tanpa ada tanggung jawab moral terhadap kelancaran logistik nasional?.

​Jika kondisi ini terus dibiarkan, bukan tidak mungkin kepercayaan investor internasional terhadap pelabuhan di Indonesia akan merosot tajam. Banjir rob ini bukan sekadar bencana alam; ini adalah simbol kelumpuhan manajemen dan ketidakpedulian birokrasi terhadap wajah ekonomi bangsa. (Liputan : Nelson Siregar)

Read more

Local News