dLXHLU54O2876Ijyf22opx1wE4BqkuMICmXEo/s320/SAVE_20250715_152536.jpg" width="255" />
Belawan | suaraburuhnasional.com – Di bawah langit yang muram, sebuah istilah satir kini menggema di sudut-sudut Medan Belawan: “Spanyol”. Bukan merujuk pada keindahan negeri di semenanjung beria, melainkan sebuah akronim getir Separoh Nyolong sebuah terminologi yang lahir dari rahim kekecewaan rakyat terhadap megaproyek yang megah di atas kertas, namun keropos secara fungsi dan integritas, Sabtu (18/4/2026), potret kesia-siaan itu terpampang nyata di depan mata.
Apa yang seharusnya menjadi simbol kemajuan infrastruktur, kini justru berdiri membisu sebagai monumen kegagalan. Seperti halnya tragedi Bandara Ciudad Real yang melegenda sebagai “bandara hantu”, proyek-proyek di pesisir ini pun terjebak dalam nasib yang sama. Aspal yang meranggas dan landasan beton yang membisu kini hanyalah hamparan investasi tanpa jiwa, sebuah bukti betapa perencanaan sering kali membutakan diri dari realitas kebutuhan masyarakat bawah.
Ketidakberdayaan infrastruktur ini mencapai titik nadir saat alam menunjukkan kuasanya. Ketika hujan deras berpadu dengan pasang rob yang menyapu daratan, tabir kepalsuan proyek ini tersingkap sepenuhnya. Di saat debit air meningkat dan warga menggantungkan harapan pada teknologi, mesin-mesin pompa yang diklaim sebagai garda terdepan justru teronggok mati. Mereka lumpuh bukan hanya oleh kerusakan teknis, melainkan oleh penyakit pengabaian menahun dan “pemangkasan” komitmen yang tak kasat mata.
Kondisi ini diperparah dengan realita di lapangan, khususnya pada proyek di Pajak Baru, Belawan Bahagia. Pembangunan yang diduga kuat tidak sesuai dengan bestek (peraturan dan syarat pelaksanaan) serta gambaran rencana awal, menciptakan kesan kuat bahwa proyek tersebut hanyalah sebuah kemubaziran. Faktanya, kehadiran infrastruktur ini tidak membawa perubahan signifikan; Belawan Bahagia tetap terendam saat hujan turun maupun ketika banjir rob melanda.
Menyikapi fenomena ini, pengamat lingkungan NPS memberikan pernyataan tegas mendesak pemerintah, mulai dari tingkat Kecamatan Medan Belawan, Wali Kota Medan, hingga Pemerintah Pusat, untuk segera turun tangan. ”Kami meminta pihak berwenang melakukan audit menyeluruh terhadap proyek-proyek yang telah terlaksana ini. Pembangunan yang tidak sesuai keinginan masyarakat dan diduga menyimpang dari spesifikasi teknis tidak boleh dibiarkan tanpa pertanggungjawaban,”tegas NPS.
Setidaknya ada tiga noktah hitam yang menjadi penyebab utama: Politik Estetika yang Dangkal: Pembangunan sering kali hanya dikejar untuk momentum seremoni pengguntingan pita, abai terhadap fungsionalitas jangka panjang. Apatisme Pemeliharaan: Membangun dipandang sebagai prestasi, namun merawat dianggap beban. Integritas pemeliharaan sering kali menguap sesaat setelah anggaran cair. Anomali Moral (Spanyol): Praktik “separuh mencuri” dalam proses konstruksi menciptakan infrastruktur rapuh yang rentan hancur saat berhadapan dengan cuaca ekstrem.
Kisah “Proyek Spanyol” di Medan Belawan adalah pengingat keras bahwa pembangunan tanpa kejujuran hanyalah upaya menghamburkan masa depan. Ketika pompa air berhenti berdetak di saat rakyat paling membutuhkannya, di situlah kita melihat wajah asli dari pembangunan yang kehilangan kompas moralnya.
Kini, infrastruktur yang lumpuh itu berdiri sebagai cermin bagi para pengambil kebijakan. Sebuah peringatan sunyi bahwa keagungan sejati sebuah bangsa tidak terletak pada megahnya beton yang menjulang, melainkan pada keberfungsian dan kejujuran setiap komponennya dalam melindungi serta memuliakan kehidupan masyarakatnya. (Liputan : Nelson Siregar)

