dLXHLU54O2876Ijyf22opx1wE4BqkuMICmXEo/s320/SAVE_20250715_152536.jpg" width="255" />
Marelan | suaraburuhnasional.com – Di bawah langit Minggu (10/5/2026) yang teduh, suasana di Café KIP Pasar 4 Marelan mendadak berubah magis. Riuh pikuk perkotaan sejenak luruh, digantikan oleh lantunan syahdu ayat-ayat suci yang menggema membelah cakrawala. Di sinilah, Komunitas Kepersaudaraan Itu Penting (KIP) kembali menorehkan bakti nyatanya bagi umat melalui perhelatan Festival Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ) antar-masjid se-Kecamatan Medan Marelan.
Bukan sekadar ajang adu teknik vokal dan tajwid, festival ini hadir sebagai sebuah manifesto spiritual: sebuah upaya kolektif untuk membentengi generasi muda dari degradasi moral di tengah arus modernitas yang kian menderu.
Kemeriahan acara ini semakin berbobot dengan kehadiran para tokoh penting yang memberikan legitimasi moral bagi pergerakan KIP. Tampak hadir Kasat Binmas Polres Pelabuhan Belawan, AKP Khairi Amri, perwakilan MUI Dr. Syamsul Hadi, M.Pd, jajaran Muspika, hingga Danramil setempat.
Dalam orasinya, AKP Khairi Amri menegaskan bahwa kegiatan berbasis keagamaan merupakan instrumen “pertahanan sosial” yang paling ampuh.
”Kami memberikan apresiasi setinggi-tingginya. Hari ini mereka melantunkan kalam Ilahi di Marelan, namun esok, kita ingin melihat bibit-bibit unggul ini mengguncang panggung Nasional,” ujar AKP Khairi dengan nada optimis
Senada dengan itu, Dr. Syamsul Hadi dari MUI menekankan pentingnya keberlanjutan. Ia berharap KIP bertransformasi menjadi “lokomotif kemajuan” bagi remaja di Medan Utara, di mana aksi sosial yang selama ini dilakukan dapat dikonversi menjadi investasi pendidikan jangka panjang.
Ketua KIP, Dedy, tak mampu menyembunyikan keharuannya saat merefleksikan perjalanan komunitas yang ia nakhodai sejak 2017. Baginya, KIP adalah “Rumah Kemanusiaan” yang berdiri di atas pondasi sosial murni. ”Kepada 13 ksatria Al-Qur’an yang berkompetisi hari ini, tanamkan dalam sanubari kalian: ‘Aku mampu menjadi juara’. Kami ingin mengorbitkan kalian bukan hanya sebagai pemenang lomba, tapi sebagai teladan nyata di tengah masyarakat,”tegas Dedy di hadapan para hadirin yang antusias.
Di sisi lain, tokoh masyarakat Edi Sutrisno (Tongat Jawa), menyoroti urgensi kegiatan ini dari sudut pandang sosial kemasyarakatan. Menurutnya, festival ini adalah cara paling elegan untuk memutus rantai kenakalan remaja. Transformasi Energi: Mengubah energi agresif (seperti tawuran) menjadi prestasi literasi Al-Qur’an. Investasi Karakter: Mengisi hati dan pikiran pemuda dengan nilai persaudaraan.
Simbol Kepedulian dan Penutup yang Berkah
Acara yang dipandu apik oleh MC Ahmad Fauzi dan di bawah komando Ketua Panitia Zulkifli ini juga diwarnai dengan momen menyentuh saat KIP menyalurkan santunan dan paket sembako secara simbolis kepada anak-anak yatim. Ini membuktikan bahwa nafas Al-Qur’an selalu berjalan beriringan dengan kasih sayang terhadap sesama.
Gema doa yang dipimpin oleh Suyetno menutup perhelatan tersebut dengan khidmat. Melalui Festival MTQ ini, Komunitas KIP telah mengirimkan pesan kuat ke seluruh penjuru Medan: Bahwa di tangan pemuda yang mencintai Al-Qur’an, masa depan bangsa tak akan pernah kehilangan arah. (Liputan: Nelson Siregar)

