Belawan | suaraburuhnasional.com – Ironi kelam menyelimuti denyut nadi perekonomian Sumatra Utara. Di tengah ambisi besar menjadikan Pelabuhan Belawan sebagai poros logistik kelas dunia, sebuah insiden kriminalitas jalanan yang brutal memicu tamparan keras bagi sistem keamanan kawasan. Seorang supir truk kontainer menjadi korban pembegalan sadis di area pelabuhan peti kemas Belawan New Container Terminal (BNCT) Pelindo sebuah wilayah yang seharusnya menjadi gated area steril dan dijaga ketat 24 jam.
Peristiwa mencekam yang terjadi pada Selasa (23/6/2026) sekira pukul 21.23 WIB ini menimpa Sandy Kancil, seorang pengemudi yang tengah bertaruh nyawa menembus malam demi menjaga rantai pasok logistik tetap berputar. Korban yang mencoba mempertahankan barang-barangnya terlibat perlawanan sengit dengan tiga orang pelaku, hingga mengakibatkan kepalanya mengalami luka parah akibat dihantam martil oleh komplotan tersebut.
Dalam aksi brutal itu, para pelaku berhasil menggasak telepon genggam (HP), dompet, serta surat-surat kendaraan korban. Namun, kepanikan tampaknya membuat para bandit ini kocar-kacir; mereka terpaksa melarikan diri dan meninggalkan sepeda motor milik mereka sendiri di lokasi kejadian. Insiden berdarah ini seketika menyulut gelombang keresahan massal, sekaligus mengundang gugatan besar: Seberapa amankah kawasan vital nasional kita hari ini?.
Merespons tragedi yang mencoreng wajah pelabuhan ini, Ketua PUK Serikat Pekerja Transportasi Nusantara (FSPTN) Pengemudi Angkutan Khusus Pelabuhan Belawan, Sentris Patar Panjaitan, angkat bicara dengan nada bergetar namun tegas. Ia menyampaikan keprihatinan mendalam sekaligus melayangkan protes keras atas rapuhnya proteksi terhadap para pekerja di lapangan.
”Ini bukan sekadar kriminalitas biasa; ini adalah ancaman langsung terhadap urat nadi ekonomi. Kawasan pelabuhan seharusnya menjadi ring satu yang super aman. Ketika seorang sopir truk dibegal hingga kepalanya pecah di dalam atau di sekitar ring pelabuhan, artinya ada sistem pengamanan yang lumpuh total,”tegas Sentris Patar Panjaitan.
Sentris memperingatkan dengan keras bahwa insiden ini bagaikan fenomena gunung es. Jika tidak ada intervensi radikal dan atensi khusus dari pemangku kebijakan, Pelabuhan Belawan dikhawatirkan akan berubah menjadi “zona merah” yang menakutkan bagi para pelaku usaha dan investor.
Menyikapi situasi yang kian genting, FSPTN secara resmi mendesak langkah taktis, cepat, dan kolaboratif dari dua instansi penanggung jawab utama:
Polres Pelabuhan Belawan: Didesak untuk tidak sekadar menerima laporan di atas kertas, melainkan segera melakukan perburuan masif terhadap sindikat begal pelabuhan dan menggelar patroli skala besar pada jam-jam rawan.
Manajemen Pelindo dan BNCT: Dituntut melakukan audit total terhadap sistem pengamanan internal. Minimnya penerangan jalan, maraknya titik buta (blind spot) tanpa pantauan CCTV, serta longgarnya akses masuk bagi pihak non-kepentingan harus segera dibenahi tanpa tapi.
Di tengah ketegangan yang memuncak, sebuah titik terang muncul beberapa jam pasca-kejadian. Bak senjata makan tuan, salah satu dari tiga pelaku bernasib apes saat mencoba kembali ke tempat kejadian perkara (TKP).
Pelaku yang berniat mengendap-endap untuk mengambil kembali sepeda motornya yang tertinggal justru berhasil diendus oleh pihak keamanan (Satpam) BNCT yang sedang bersiaga. Pelaku langsung diringkus di tempat tanpa perlawanan berarti, dan kini telah diserahkan ke Mapolres Pelabuhan Belawan untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya serta menguak identitas dua rekannya yang masih buron.
Di hadapan ratusan pengemudi yang kini dibayangi rasa cemas, Sentris Patar Panjaitan meniupkan peluit kewaspadaan. Ia menginstruksikan seluruh Sopir Angkutan Khusus yang bernaung di bawah Koperasi dan FSPTN untuk mempererat solidaritas saat melintasi jalur rawan tersebut.
”Kepada seluruh rekan-rekan juang di lapangan, peluru kecerobohan adalah musuh terbesar kita saat ini. Tingkatkan kewaspadaan, bergeraklah dalam kelompok jika mobilitas malam hari, dan saling menjaga satu sama lain. Kita tidak boleh kalah dan tunduk oleh teror jalanan!” seru Sentris membakar semangat anggotanya.
Truk kontainer yang berlalu lalang di Belawan bukan sekadar tumpukan besi, melainkan simbol pertumbuhan ekonomi daerah. Ketika keselamatan para “pahlawan logistik” ini digadaikan oleh kelalaian sistem keamanan, yang dipertaruhkan bukan lagi sekadar materi, melainkan reputasi investasi Sumatra Utara di mata internasional.
Masyarakat dan pelaku dunia usaha kini menunggu: Apakah Pelindo dan Kepolisian akan memberikan jawaban nyata lewat tindakan represif yang tegas secara tuntas, atau membiarkan malam-malam di Belawan terus dicekam ketakutan dan bersimbah darah?. (Liputan: Nelson Siregar)


