26.9 C
Munich
Kamis, Juni 25, 2026

Menakar Marwah BNCT Ketika Tokoh Agama dan Masyarakat Bersatu Menuntut Sterilisasi Premanisme di Gerbang Logistik Internasional

Must read

 

​Belawan | suaraburuhnasional.com – Pelabuhan Belawan bukan sekadar hamparan beton, deretan bangkai kontainer, atau simbol aktivitas maritim konvensional. Sebagai pelabuhan terbesar ketiga di Republik Indonesia, Belawan New Container Terminal (BNCT) adalah urat nadi ekonomi, benteng strategis nasional, sekaligus wajah martabat Sumatra Utara di mata dunia. Namun hari ini, reputasi global yang dibangun puluhan tahun itu berada di ujung tanduk, terancam runtuh oleh bayang-bayang kelam teror premanisme jalanan yang kian merajalela.

​Eskalasi aksi pembegalan dan penjarahan di kawasan vital nasional ini memicu keprihatinan mendalam dari berbagai elemen bangsa. Guna membedah carut-marut keamanan ini, Tokoh Agama (Toga) sekaligus Pemerhati Hukum dan Lingkungan terkemuka, KH. Ilham Maulana, S.H., M.H. bersama barisan Tokoh Masyarakat (Tomas) Belawan menggelar diskusi strategis bersama awak media pada Rabu (24/6/2026) pagi di kawasan Pajak Baru, Belawan.

​Dalam dialog yang berlangsung hangat namun sarat akan analisis tajam tersebut, Kiai Ilham membedah dampak domino dari runtuhnya pilar keamanan di obyek vital nasional ini. Menurutnya, predikat “Pelabuhan Internasional” yang disandang BNCT menuntut jaminan keamanan dengan standar internasional pula. Membiarkan kejahatan jalanan tumbuh subur di wilayah ini adalah bentuk kelalaian fatal yang dapat menghancurkan iklim investasi global.

​”Ini adalah aset vital nasional. Jika aksi pembegalan terus dibiarkan tanpa tindakan luar biasa (extraordinary measures), dampaknya akan sangat destruktif. Kita menghadapi risiko nyata di mana para inspektur maritim internasional dan investor global enggan menginjakkan kaki di Belawan karena menganggapnya sebagai zona merah. Ini bukan lagi soal kriminalitas lokal, ini soal marwah dan martabat bangsa di mata dunia,”ujar Kiai Ilham dengan nada tegas dan penuh penekanan.

​Lebih lanjut, perwakilan Tokoh Masyarakat Belawan membeberkan fakta memilukan yang dialami para supir truk konvoi logistik. Jalur yang membentang dari kawasan Kampung Salam hingga titik-titik krusial pelabuhan kini menjelma menjadi “rute maut” yang mencekam.

​Modus operandi para pelaku dinilai sudah sangat terorganisir dan melampaui batas kemanusiaan. Mereka tidak hanya merampas uang jalan, dompet, dan ponsel genggam, tetapi juga menjarah dokumen-dokumen penting kendaraan (surat jalan) yang kemudian dijadikan sandera untuk memeras para supir dengan uang tebusan tinggi.

​Para supir truk adalah pejuang nafkah yang bertaruh nyawa di jalanan demi menyambung hidup anak dan istri mereka.
​Sangat tidak adil jika para pengawal logistik nasional ini harus menghadapi ancaman senjata tajam hanya karena lemahnya proteksi keamanan di lapangan. Kehadiran negara secara nyata mutlak diperlukan untuk melindungi darah dan keringat para pekerja logistik.

​Melihat situasi yang berada di titik nadir, KH. Ilham Maulana bersama Tokoh Masyarakat mengeluarkan desakan keras kepada Aparat Penegak Hukum (APH) dan Komando Daerah Maritim (Kodaeral) untuk segera menggelar operasi pembersihan skala besar yang taktis, terukur, dan tanpa ampun.

​Berikut adalah tiga poin krusial yang dirumuskan untuk segera dieksekusi: Tuntutan Strategi Eksekusi, 1. Sterilisasi Total KawasanMenutup rapat-rapat ruang gerak bagi pelaku kejahatan, premanisme, dan bajing loncat di seluruh kawasan vital nasional. 2. Penetrasi Kantong Kriminalitas Mendesak Kodaeral bersama Polres Pelabuhan Belawan melakukan penyisiran total ke basis-basis premanisme di sekitar pelabuhan tanpa pandang bulu. 3. Pos Pengamanan Taktis harus di bangun

“Kita tidak boleh memberikan toleransi sekecil apa pun kepada para penjahat ini. Kawasan Pelabuhan Internasional Belawan harus steril dan aman. Kami meminta dengan sangat kepada APH dan Kodaeral: tangkap, bersihkan, dan sikat habis tanpa ampun! Kembalikan kejayaan Pelabuhan Belawan sebagai gerbang ekonomi yang aman, berwibawa, dan membanggakan,” pungkas Kiai Ilham mengakhiri perbincangan.

​Fajar telah menyingsing di Belawan, dan kini bola panas berada di tangan aparat berwenang. Publik serta para pelaku usaha internasional kini menunggu pembuktian nyata: apakah hukum akan tegak berdiri menggilas premanisme, ataukah gerbang ekonomi internasional ini akan dibiarkan terus tercoreng oleh aksi jalanan yang merugikan bangsa?. ​Negara harus memilih: menyelamatkan marwah internasionalnya, atau kalah oleh intimidasi preman jalanan. (Liputan: Nelson Siregar)

- Advertisement -spot_img

More articles

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisement -spot_img

Latest article