Dairi | suaraburuhnasional.com – Ketua Dewan Pimpinan Cabang Perkumpulan Jurnalis Indonesia Demokrasi (DPC-PJID) Kabupaten Dairi, St. Koting Tumangger, S.M.PAK, menyampaikan harapannya kepada St. Drs. Rasmon Sinamo, M.AP selaku Sekretaris Jenderal Pengurus Besar Lembaga Kebudayaan Pakpak (PB-LKP) yang akan dilantik pada hari ini, Selasa (25/2/2025), di Gedung Nasional Djauli Manik, Jalan Sisingamangaraja, Sidikalang, Kabupaten Dairi, Sumatera Utara.
Dalam komentarnya kepada wartawan, Senin (24/2/2025), di kediamannya, St. Koting Tumangger menegaskan keyakinannya bahwa St. Drs. Rasmon Sinamo, M.AP mampu membawa perubahan dan kemajuan bagi PB-LKP dalam masa kepengurusannya lima tahun ke depan. Ia menilai bahwa kepemimpinan Rasmon Sinamo akan semakin memperkokoh eksistensi dan pengembangan budaya Pakpak, tidak hanya di Kabupaten Dairi, tetapi juga di seluruh Indonesia.
Harapan Besar bagi Kepemimpinan Baru PB-LKP
Selain menjabat sebagai Sekjend PB-LKP, St. Drs. Rasmon Sinamo, M.AP juga merupakan Majelis Pusat di Gereja Kristen Pakpak Dairi (GKPPD) serta Guru Kuria (Porhanger) di GKPPD Sukadame, Jalan Air Bersih, Sidikalang. Dengan latar belakang tersebut, Tumangger optimis bahwa Rasmon Sinamo memiliki kapasitas mumpuni dalam mengelola administrasi organisasi serta membangun sinergi di antara pengurus PB-LKP.
Pada pelantikan hari ini, St. Drs. Rasmon Sinamo, M.AP akan berpasangan dengan Drs. Zuhri Bintang, M.AP sebagai Ketua Umum dan Sri Dewi Manik, S.Sos., M.M sebagai Bendahara. Kepengurusan PB-LKP kali ini diperkirakan akan melibatkan ratusan orang. Tumangger menekankan bahwa kekompakan, kesediaan menerima kritik, dan kerja sama yang solid antaranggota sangat diperlukan demi kemajuan organisasi.
Tantangan dan Upaya Pengembangan PB-LKP
Menurut Tumangger, pengembangan PB-LKP harus dilakukan secara menyeluruh di seluruh Indonesia, bukan hanya di Kabupaten Dairi. Hal ini penting untuk memperkuat identitas budaya Pakpak yang terdiri dari lima suak, yaitu, 1. Suak Keppas dan Pegagan – Kabupaten Dairi, 2. Suak Simsim – Kabupaten Pakpak Bharat, 3. Suak Boang – Kabupaten Aceh Singkil dan Kota Subulussalam, Nanggroe Aceh Darussalam (NAD), 4. Suak Kelasan – Kabupaten Humbang Hasundutan, termasuk Parlilitan, Tara Bintang, dan Pakkat, 5. Sebagian wilayah Tapanuli Tengah, khususnya Manduamas.
Ia mengakui bahwa mengembangkan organisasi Pakpak tidaklah mudah. Banyak tantangan yang harus dihadapi, mulai dari keterbatasan sumber daya, waktu, hingga strategi yang diperlukan. Selain itu, salah satu tantangan terbesar adalah perbedaan pemahaman di wilayah Suak Kelasan, di mana sebagian masyarakat lebih mengidentifikasi diri sebagai “Dairi” daripada “Pakpak.”
Pengalaman dalam Membangun Organisasi Pakpak
St. Koting Tumangger juga berbagi pengalamannya saat menjabat sebagai Sekretaris Jenderal Dewan Pimpinan Pusat Komite Nasional Pemuda Pakpak Indonesia (DPP-KNPPI) 15 tahun lalu. Ia mengungkapkan bahwa membentuk organisasi Pakpak di Suak Kelasan adalah tantangan yang cukup besar karena adanya perbedaan identitas budaya di daerah tersebut.
Namun, dengan berbagai strategi persuasif, sosialisasi intensif, serta kerja sama dengan tokoh-tokoh masyarakat seperti Eppy br. Berutu, pihaknya akhirnya berhasil mendirikan Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) KNPPI Suak Kelasan. Saat itu, kepengurusan dipimpin oleh Janpiter Tumanggor sebagai Ketua Umum dan T. Banurea sebagai Sekretaris Umum, dengan kehadiran tokoh-tokoh seperti Raja Umar Ujung, Masrianto Ujung, dan Ruslan Berutu.
Harapan ke Depan
Sebagai Ketua PJID Kabupaten Dairi, Tumangger berharap kepemimpinan PB-LKP yang baru mampu merangkul seluruh pengurus dan menerima masukan dari berbagai pihak demi kemajuan organisasi. Ia menegaskan bahwa kepemimpinan yang baik bukan hanya tentang jabatan, tetapi juga tentang kesediaan mendengar kritik dan saran demi kepentingan jangka panjang, bukan sekadar kepentingan sesaat.
“Dengan kepemimpinan St. Drs. Rasmon Sinamo, M.AP yang berpasangan dengan Drs. Zuhri Bintang, M.AP serta Sri Dewi Manik, S.Sos., M.M, kami optimis PB-LKP akan semakin berkembang dan menjadi wadah yang lebih kuat dalam melestarikan budaya Pakpak,” tutup Tumangger. (Clara.s)


