Belawan | suaraburuhnasional.com – Sebuah potret ironi yang menyayat hati tengah mencabik wajah Kelurahan Belawan Bahagia. Di kawasan yang seharusnya menjadi episentrum intelektualitas dan spiritualitas, kini justru terkepung oleh polusi aroma yang menghina indra. Di balik tembok sekolah dan kesucian rumah ibadah, tumpukan limbah menggunung, menjadi saksi bisu atas lambannya respons birokrasi, Jumat (10/4/2026).
Keheningan doa di Gereja HKBP Pajak Baru dan konsentrasi para siswa SD Negeri dalam menuntut ilmu kini menjadi kemewahan yang terenggut. Udara yang seharusnya menjadi hak dasar warga, kini terkontaminasi oleh senyawa busuk dari tumpukan sampah yang membusuk di area Pajak Baru. Para siswa dipaksa bernapas dalam kepungan bau menyengat, sementara jemaat gereja harus bertarung dengan aroma limbah demi menjaga kekhusyukan ibadah.
Pengamat Publik sekaligus pemerhati lingkungan, NSP, menegaskan bahwa pembiaran ini adalah bentuk pengabaian nyata terhadap hak asasi warga untuk hidup sehat. “Kita tidak sedang membicarakan sampah rumah tangga biasa. Kita sedang membicarakan ancaman Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA), ledakan populasi vektor penyakit, hingga degradasi mental warga akibat stres lingkungan yang kronis,”tegas NSP dengan nada retoris.
Namun, puncak dari segala ironi ini adalah letak gunungan sampah yang tepat bersinggungan dengan Makam Pahlawan. Area yang seharusnya menjadi altar penghormatan suci bagi mereka yang bertaruh nyawa demi kemerdekaan, kini justru diperlakukan tak ubahnya tempat pembuangan akhir yang terlantar.
”Ini bukan sekadar masalah teknis kebersihan; ini adalah degradasi moral. Membiarkan sampah menggunung di samping makam pahlawan adalah bentuk penghinaan nyata terhadap jasa para martir bangsa. Di mana letak martabat kita jika tempat suci dan bersejarah dibiarkan bersanding dengan busuknya limbah?,” tambah NSP.
Masyarakat kini melayangkan tatapan tajam ke arah Kantor Camat Medan Belawan. Nama Robby Kurniawan menjadi sorotan utama sebagai pemegang mandat otoritas yang dinilai belum menunjukkan “tajinya” dalam menyelesaikan krisis ekologis ini. Publik mulai mempertanyakan: sejauh mana empati pemimpin saat aroma busuk ini setiap hari dihirup oleh anak-anak sekolah dan para jemaat?.
Dalam konfirmasi sebelumnya kepada awak media suaraburuhnasional.com, Camat Medan Belawan menyatakan komitmennya untuk membawa perubahan menuju Belawan yang lebih baik, aman, kondusif, dan indah. Namun, realitas di lapangan hari ini memicu pertanyaan besar: Apakah janji tersebut hanya menjadi lips service atau “angin surga” belaka?.
Warga kini menuntut langkah konkret yang melampaui janji di atas kertas: Memindahkan titik pembuangan sampah menjauh dari nadi pemukiman, institusi pendidikan, dan rumah ibadah. Mengembalikan martabat Makam Pahlawan melalui pembersihan total dan penghijauan kembali. Evaluasi menyeluruh terhadap sistem pengelolaan sampah di Kecamatan Medan Belawan yang dianggap sudah berada di titik nadir.
Keindahan lingkungan adalah hak rakyat, namun menjaga kehormatan simbol bangsa adalah kewajiban mutlak pemimpin. Publik tidak butuh narasi manis di balik meja kerja; publik butuh aksi nyata di lapangan. Jangan biarkan Belawan dikenang karena tumpukan sampahnya, dan jangan biarkan sejarah mencatat nama otoritas sebagai pihak yang abai terhadap kesucian rumah Tuhan dan kehormatan para pahlawan. (Liputan : Nelson Siregar)


