dLXHLU54O2876Ijyf22opx1wE4BqkuMICmXEo/s320/SAVE_20250715_152536.jpg" width="255" />
Belawan | suaraburuhnasional.com – Di tengah deburan air terjun yang megah dan kedalaman Danau Toba yang menyimpan misteri, sebuah misi kemanusiaan sedang dipertaruhkan. Memasuki hari ketujuh, harapan belum meredup meski waktu terus bergulir. Tim Search and Rescue (SAR) Kodaeral I kembali mengerahkan segala daya untuk melacak keberadaan Christopher Rustam Muda Dua, mahasiswa semester II STFT St. Yohanes Pematangsiantar yang dilaporkan hilang di kawasan Air Terjun Situmurun, Kabupaten Toba.
Operasi yang dimulai sejak Jumat (17/4/2026) ini dipusatkan di Wisma Bahari, Tiga Raja. Lokasi ini menjadi denyut nadi koordinasi sekaligus staging area bagi para personel yang bertaruh nyawa di lapangan. Tepat pukul 07.00 WIB, satu unit Sea Rider aluminium Marine 5083 membelah tenangnya permukaan Toba, membawa lima personel elite menuju titik nol kejadian.
Kadispen Kodaeral I, Kolonel Wahyu Kurniawan, menegaskan bahwa medan pencarian kali ini memiliki tingkat kesulitan yang tinggi. ”Kami berhadapan dengan kontur dasar danau yang menantang dan arus kuat khas Air Terjun Situmurun. Namun, seluruh unsur, mulai dari perangkat selam hingga teknologi motor tempel 40 PK, telah kami kerahkan secara maksimal,” tegasnya.
Misi ini dipikul oleh tim kecil dengan dedikasi besar. Para prajurit yang terlibat dalam penyisiran ini antara lain: Serka Esa Lumbansiantar, Kopka Mes Adih, Kopka Mar Syahdan, Praka Mar Parulian Simanulang, Kls Amo Muhammad Yusri.
Kelima personel ini dibekali perlengkapan keselamatan standar tinggi, termasuk riding buoy dan perangkat selam canggih, guna memastikan setiap jengkal perairan tersisir dengan akurat. Operasi ini dilakukan dengan sinergi ketat bersama Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan (Basarnas). Evaluasi harian terus dilakukan secara dinamis untuk menentukan strategi pencarian di hari-hari berikutnya.
Demi kelancaran operasi dan faktor keamanan, Kolonel Wahyu Kurniawan memberikan imbauan tegas kepada masyarakat dan wisatawan. “Kami memohon kerja sama masyarakat untuk sementara waktu tidak melakukan aktivitas di sekitar lokasi Air Terjun Situmurun. Sterilisasi area ini krusial agar tim dapat bekerja dengan fokus penuh dan efektivitas maksimal,”tambahnya.
Christopher, pemuda asal Kabil, Batam, kini menjadi pusat perhatian dan doa bagi keluarga serta kerabat. Di balik derasnya arus Situmurun, para prajurit Kodaeral I sedang menuliskan kisah tentang ketangguhan dan empati. Ini bukan sekadar operasi teknis, melainkan sebuah perlombaan antara waktu dan rasa kemanusiaan untuk membawa pulang sang mahasiswa ke pelukan keluarga. (Liputan: Nelson Siregar)

