dLXHLU54O2876Ijyf22opx1wE4BqkuMICmXEo/s320/SAVE_20250715_152536.jpg" width="255" />
Belawan | suaraburuhnasional.com – Di tengah kepungan dekadensi sosial yang kian merisaukan, sebuah fajar harapan menyingsing dari ufuk utara Medan. Polisi Militer Angkatan Laut (Pomal) Kodaeral I, di bawah panji kedaulatan samudera, baru saja melancarkan manifestasi ketegasan yang melampaui tugas konvensional. Bukan sekadar pengamanan teritorial, mereka hadir sebagai kurator masa depan bangsa dengan meruntuhkan episentrum narkotika dan aksi kriminalitas yang selama ini menyandera nurani masyarakat Belawan.
Kamis (7/5/2026), menjadi tonggak sejarah atas kolaborasi presisi antara Pomal Kodaeral I dan otoritas kecamatan. Langkah strategis ini disambut dengan gelombang optimisme oleh publik yang mendambakan pemulihan tatanan sosial di wilayah pesisir yang legendaris ini.
Dalam sebuah dialog eksklusif dengan awak media online suaraburuhnasional.com, Ustadz Ilham Maulana, tokoh agama sekaligus pemerhati lingkungan yang dikenal vokal dalam isu kemanusiaan, memberikan resonansi apresiasi yang mendalam. Baginya, tindakan Pomal Kodaeral I adalah sebuah “operasi penyelamatan jiwa.”
”Menghancurkan sarang maksiat di Belawan Bahari bukan sekadar aksi fisik di lapangan, melainkan sebuah pernyataan ideologis bahwa negara tidak akan membiarkan musuh peradaban menjamah anak cucu kita. Pomal Kodaeral I telah memilih untuk bertarung di pihak masa depan,”tutur Ustadz Ilham dengan intonasi sarat wibawa.
Dirinya menegaskan bahwa narkotika adalah “penyakit” utama yang melahirkan “gejala” berupa pembegalan dan kekerasan jalanan. Melepaskan generasi muda ke dalam jerat narkotika sama saja dengan membiarkan kedaulatan negara hancur secara perlahan dari dalam.
Menolak “Mati di Lumbung Padi”: Gugatan Keadilan Ekonomi Putra Daerah
Namun, pembersihan polusi moral hanyalah satu sisi dari koin perjuangan. Momentum keberanian Pomal ini memicu desakan sosial yang lebih mendasar: Keadilan Ekonomi. Masyarakat Belawan kini bersuara lantang menolak kenyataan pahit bahwa putra daerah kerap menjadi penonton di tanah kelahirannya sendiri.
Kehadiran ratusan tenaga kerja luar yang membanjiri industri Belawan setiap hari menjadi kontradiksi yang menyakitkan. Di tengah potensi “Generasi Emas” yang dimiliki Belawan, isu diskriminasi lapangan kerja masih menjadi kerikil dalam sepatu pembangunan.
Mewakili suara masyarakat, muncul desakan agar Wali Kota Medan dan instansi terkait meninjau kembali implementasi UU Ketenagakerjaan dan UU Cipta Kerja. Perusahaan yang memanen kemakmuran di tanah Belawan wajib membuka pintu seluas-luasnya bagi putra daerah tanpa sekat diskriminasi.
Menghilangkan stigma negatif terhadap anak Belawan dengan memberikan pembinaan dan akses lapangan kerja yang setara. Menyadari bahwa keamanan yang dibangun Pomal harus berbanding lurus dengan kesejahteraan ekonomi yang diciptakan pemerintah.
Keberanian Pomal Kodaeral I telah menjadi katalisator bagi bangkitnya harga diri warga. Kehadiran mereka membuktikan bahwa militer bukan hanya benteng fisik di garis pantai, tetapi juga pelindung integritas sosial di tengah pemukiman.
”Jika kegelapan ini dibiarkan merajalela, kita sedang menulis surat kematian bagi bangsa ini. Namun, dengan langkah tegas Pomal Kodaeral I, kita melihat fajar harapan. Kini, saatnya negara hadir memastikan anak-anak Belawan tidak mati di lumbung padi sendiri,”pungkas Ustadz Ilham dengan penuh haru.
Belawan kini tidak lagi hanya dikenal dengan pelabuhannya yang sibuk, tetapi juga dengan keberaniannya untuk pulih, berdiri tegak, dan menjemput kedaulatan di tanah sendiri. Bravo Pomal! Selamatkan Generasi, Jaga Kehormatan Bangsa. (Liputan: Nelson Siregar)

