Medan | suaraburuhnasional.com – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang diarsiteki oleh Presiden Prabowo Subianto bukan lagi sekadar kebijakan sosial biasa. Program strategis nasional ini telah bertransformasi menjadi sebuah manifesto politik ekonomi, sebuah investasi kemanusiaan terbesar abad ini, sekaligus jangkar utama dalam memutus rantai kemiskinan sistemik menuju peradaban Indonesia Emas 2045, Jumat (29/5/2026).
Namun, di tengah akselerasi masif program ini, riak-riak skeptisisme dari segelintir elite masih saja terdengar.
Menanggapi fenomena tersebut, Pengamat Publik Nasional, BM, memberikan analisis teoretis yang sangat tajam dan menohok saat ditemui oleh awak media di kediamannya, kawasan Marelan. Dengan retorika yang lugas dan berbobot, BM menegaskan bahwa pihak-pihak yang mencoba menjegal atau mendiskreditkan program MBG ini telah mengalami disorientasi berpikir, kebutaan empiris, dan hilangnya empati terhadap realitas ekonomi di akar rumput.
”Hanya akal sehat yang telah mati yang tega menyatakan bahwa program Makan Bergizi Gratis ini tidak benar. Ini bukan sekadar tentang membagikan sepiring makanan; ini adalah instrumen kedaulatan bangsa dan mesin penggerak ekonomi rakyat yang paling riil saat ini,”ujar BM dengan nada yang bergetar penuh penegasan.
Dalam pemaparannya yang komprehensif, BM memperingatkan dampak katastrofik jika program ini sampai dihambat atau ditiadakan. Indonesia tidak hanya akan kehilangan jutaan anak potensial akibat jebakan gizi buruk (stunting), tetapi juga akan menghadapi guncangan ekonomi domestik yang luar biasa besar akibat hilangnya lapangan pekerjaan secara masif.
BM membedah kalkulasi ekonomi makro secara presisi untuk menunjukkan betapa dahsyatnya efek pengganda (multiplier effect) yang diciptakan oleh ekosistem MBG terhadap ketahanan nasional. Saat ini, ekosistem MBG ditopang oleh infrastruktur produksi yang sangat masif di tingkat bawah.
Coba bayangkan dengan jernih menggunakan data. Saat ini ada 25.925 unit dapur yang beroperasi aktif di seluruh penjuru negeri. Setiap dapur mempekerjakan 47 orang masyarakat lokal. Artinya, ada lebih dari 1,2 juta tenaga kerja langsung yang diserap oleh program ini,” urai BM membedah data secara matematis.
BM melemparkan pertanyaan retoris yang menantang para pengkritik kebijakan. ”Jika program MBG ini ditiadakan, mau dikemanakan 1,2 juta lebih pekerja ini?. Mau diberi makan apa keluarga mereka?. Logistik program ini mengakar ke bawah: petani sayur, peternak telur, peternak ayam, hingga pedagang pasar tradisional di daerah menjadi pemasok utama. Inilah pengejawantahan sejati dari Ekonominya Pancasila yang berdaulat, bukan sekadar teori di atas kertas.
Salah satu poin paling krusial yang diangkat oleh BM adalah mengenai tata kelola (governance) dan akuntabilitas moral program. Guna mengunci rapat segala potensi kebocoran anggaran, pemerintah telah membangun benteng pengawasan berlapis yang sangat ketat melalui pembentukan Badan Pengawas Gizi. Para personel di dalamnya tidak dipilih sembarangan, melainkan dididik secara khusus berstandar nasional untuk kemudian didelegasikan ke seluruh penjuru negeri sebagai Satuan Pengawas Program Gizi (SPPG).
”Langkah preventif ini membuat tindakan korupsi menjadi mustahil secara sistemik. Mengapa?, karena alur logistiknya transparan, berbasis data, dan dikawal ketat oleh tenaga ahli terdidik. Di dalam ekosistem MBG ini, tidak ada satu pun pihak yang dirugikan. Rakyat diuntungkan, gizi anak-anak terpenuhi, ekonomi daerah bergerak serentak. Lalu, atas dasar moral dan logika apa mereka berani memprotesnya?,”tanya BM.
Menutup perbincangan mendalam tersebut, BM mengimbau seluruh elemen bangsa—khususnya kaum buruh, petani, nelayan, dan masyarakat prasejahtera—untuk merapatkan barisan, menyatukan frekuensi, dan membentengi kebijakan Presiden Prabowo Subianto ini dari segala bentuk distorsi opini negatif.
”Kita harus cerdas secara intelektual untuk memilah mana kritik yang berbasis data akademis dan mana yang sekadar sinisme politik murahan. Kami dari Marelan, berdiri kokoh bersama suara buruh dan rakyat kecil di seluruh penjuru Indonesia, menyatakan dukungan mutlak dan total 100 persen untuk program Makan Bergizi Gratis ini. Ini adalah langkah suci, berani, dan patriotik demi menyelamatkan peradaban anak cucu kita,” pungkas BM mengakhiri wawancara dengan optimisme yang membakar semangat. (Liputan: Nelson Siregar)


