Medan | suaraburuhnasional.com — Sejarah mencatat bahwa bangsa yang besar tidak hanya dibangun oleh tajamnya lini pertahanan, tetapi juga oleh kokohnya kedaulatan pangan. Di bawah konstelasi geopolitik modern yang menuntut kemandirian total,
Komando Daerah Angkatan Laut I (Kodaeral I) menerjemahkan doktrin tersebut menjadi sebuah aksi nyata yang megah di atas tanah Sumatera.
Selasa (23/6/2026), suasana di Komplek Barakuda, Medan, terasa berbeda.
Komandan Kodaeral I, Laksamana Muda TNI Deny Septiana, S.I.P., M.A.P., melangkah mantap meninjau langsung transformasi radikal lahan-lahan produktif yang kini disulap menjadi sabuk hijau ketahanan pangan terpadu. Kehadiran sang jenderal bintang dua ini menegaskan satu hal: TNI Angkatan Laut tidak hanya bersiaga menjaga cakrawala samudera, tetapi juga ikut merawat denyut nadi kehidupan bangsa di daratan.
Di bawah pengawasan ketat, Kodaeral I berhasil merancang sebuah Integrated Farming System (sistem pertanian terpadu) yang mengawinkan kelestarian ekologis dengan modernisasi agrikultur. Cetak biru yang ditinjau langsung oleh Laksamana Muda TNI Deny Septiana memancarkan fajar baru bagi pemanfaatan lahan militer: Lembaran hijau sayuran premium yang tumbuh di atas instalasi modern, mengalirkan efisiensi air dan nutrisi tanpa ketergantungan pada luasnya tanah. Denyut kehidupan di kolam-kolam air tawar yang mengombinasikan budidaya ikan patin dan ikan nila sebuah langkah taktis penyediaan protein tinggi yang adaptif terhadap perubahan iklim.
”Ketahanan pangan adalah jangkar dari ketahanan nasional. Ketika sebuah bangsa mampu berdikari atas apa yang mereka makan, maka di situlah kedaulatan sejati berdiri. Melalui pengelolaan lahan yang terintegrasi ini, kita sedang membangun fondasi masa depan,”ujar Komandan Kodaeral I dengan penuh wibawa.
Langkah strategis yang diinisiasi oleh Kodaeral I ini sejatinya memuat filosofi mendalam tentang pengabdian tanpa batas. Proyek mercusuar ini dirancang untuk melahirkan dampak berganda (multiplier effect) yang menyentuh dua dimensi fundamental: Menjadi lumbung pangan mandiri yang menjamin kualitas gizi, kesejahteraan, sekaligus ruang edukasi agribisnis bagi keluarga besar prajurit Kodaeral I. Menjadi mercusuar percontohan (role model) bagi masyarakat urban sekitar tentang bagaimana mengubah keterbatasan lahan menjadi peluang ekonomi yang melimpah.
Melalui inovasi yang elegan ini, Kodaeral I mengirimkan pesan kuat kepada publik bahwa tentara dan rakyat senantiasa bernafas dalam ritme yang sama. Ketahanan pangan bukan lagi sekadar program, melainkan sebuah gerakan moral yang digelorakan dari balik barak untuk kemakmuran Indonesia Raya. Humaniora | Kedaulatan Hijau | Geopolitik Pangan. (Liputan : Nelson Siregar/Dispen Kodaeral I)


