21.9 C
Munich
Senin, Mei 25, 2026

Perayaan Paskah di Dairi: APUK Serukan Perlindungan Alam dan Pertanian Berkelanjutan untuk Masa Depan

Must read

 

Sidikalang | suaraburuhnasional.com –
Ratusan petani yang tergabung dalam Aliansi Petani untuk Keadilan (APUK) turut ambil bagian dalam perayaan Paskah yang digelar Pemerintah Kabupaten Dairi di Gedung Olahraga (GOR) Sidikalang, Senin (21/4/2025).

Dengan tema “Damai Sejahtera Kristus dengan Keluarga” dan sub tema “Kebangkitan Kristus Mewujudkan Damai Sejahtera di Tengah Keluarga dan Masyarakat Dairi Demi Meningkatkan Kualitas Sumber Daya Manusia yang Berdaya Saing dan Berkeadilan”, perayaan ini menjadi momentum refleksi mendalam tentang pentingnya menjaga kelestarian alam sebagai warisan bagi generasi mendatang.

Dalam rangkaian perayaan tersebut, APUK menyerahkan sekitar 2.000 bibit tanaman unggulan khas Dairi, mulai dari durian, kelapa, kakao, pinang, duku, manggis, jeruk purut, kopi, jengkol, kemiri, cengkeh, alpukat, aren, rambutan, matao hingga kayu manis. Aksi ini bukan sekadar seremoni, melainkan simbol pengingat bahwa Dairi memiliki kekayaan agraris yang telah menopang penghidupan 83% warganya selama berpuluh-puluh tahun.

“Melalui bibit ini, kami ingin menyampaikan pesan bahwa pertanian adalah tulang punggung ekonomi Dairi, dan keberlanjutannya harus dijaga demi anak cucu kami,”ungkap perwakilan APUK dalam sela-sela acara.

Sektor pertanian, yang hingga kini menyumbang sekitar 42% terhadap perputaran ekonomi Kabupaten Dairi, dinilai sebagai salah satu pondasi ketahanan pangan dan kesejahteraan masyarakat lokal. Namun, kondisi ini terancam oleh aktivitas industri ekstraktif, khususnya pertambangan, yang berpotensi merusak lingkungan hidup secara sistematis.

APUK menegaskan bahwa keberadaan tambang tidak sejalan dengan visi keberlanjutan dan penguatan sektor pertanian. Mereka mengkritisi kecenderungan pemerintah daerah yang kerap memanfaatkan isu pertanian sebagai komoditas politik saat pemilihan umum, namun di sisi lain justru memberi ruang luas bagi industri tambang yang sarat risiko ekologis.

“Industri ekstraktif tambang bukan hanya menggerus ruang hidup petani, tapi juga mengancam sumber air, merusak tanah, dan memutus rantai produksi pangan lokal. Jika ini dibiarkan, anak-anak petani akan kehilangan masa depan, dan Dairi akan kehilangan identitasnya sebagai lumbung pangan,” tambah pernyataan tersebut.

Selain dampak sosial, APUK juga menyoroti ancaman perubahan iklim yang kian nyata. Ketidakpastian cuaca telah membuat banyak petani kesulitan menentukan pola tanam dan meningkatkan kerentanan terhadap gagal panen, yang pada akhirnya akan berdampak serius terhadap ketahanan pangan regional.

Melalui momentum Paskah ini, APUK menyerukan refleksi kolektif agar semua pihak kembali menghormati keteraturan alam, menghentikan pembalakan hutan, mengevaluasi izin-izin pertambangan, bijak dalam penggunaan energi, serta memperkuat sistem pertanian yang ramah lingkungan.

“Semoga Paskah ini tidak sekadar menjadi perayaan ritual tahunan, tetapi menjadi panggilan iman untuk menegakkan keadilan ekologis. Salib yang kita pikul adalah kesetiaan menjaga hutan, air, tanah, dan kehidupan, demi memastikan anak-anak kita tidak kehilangan masa depan di tanah yang subur dan damai ini,”pungkasnya.

APUK berharap kehadiran pemerintah daerah menjadi pelindung utama lingkungan hidup, sebab kualitas sumber daya manusia akan mustahil terwujud tanpa lingkungan yang sehat, air bersih, dan ruang hidup yang aman bagi para petani. (cls)

- Advertisement -spot_img

More articles

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisement -spot_img

Latest article