22.8 C
Munich
Minggu, Mei 31, 2026

Nestapa Warga Jalan Kampar Belawan Terperangkap “Waduk” Raksasa

Must read

 

Belawan | suaraburuhnasional.com – Kawasan Jalan Kampar, Uni Kampung, Kelurahan Belawan I, kini menjadi potret buram drainase perkotaan di utara Kota Medan. Hujan dengan intensitas ringan hingga sedang kini sudah cukup untuk menyulap kawasan tersebut menjadi genangan air permanen yang mengisolasi aktivitas ekonomi warga dan mencoreng estetika lingkungan, Minggu (16/2/2026).

​Pembangunan tembok penahan air di sepanjang bibir pantai yang sejatinya diproyeksikan sebagai solusi banjir rob, kini justru berbalik menjadi bumerang bagi masyarakat. Tanpa sistem pintu air yang memadai dan pompa pembuangan yang tidak berfungsi optimal, tembok tersebut kini berperan layaknya bendungan yang memerangkap air hujan di pemukiman warga tanpa jalan keluar menuju laut.

​Dampak dari tersumbatnya jalur pembuangan ini sangat dirasakan oleh para pelaku UMKM. Pedagang yang terbiasa mencari nafkah di pinggiran pantai kini harus gigit jari lantaran sepinya pembeli akibat genangan air yang mencapai ketinggian setengah meter.

​Tak hanya soal perut, ancaman kesehatan pun mulai menghantui. Berikut adalah beberapa dampak kritis yang dirasakan warga: ​Sektor perdagangan lokal mati suri karena akses jalan yang sulit dilalui. ​Genangan air yang mengendap hingga satu minggu menjadi sarang empuk bagi jentik nyamuk Aedes aegypti (Demam Berdarah) dan berbagai penyakit kulit.

​Keberadaan Markas Komando (Mako) Marinir di kawasan tersebut seharusnya menjadi ikon kewibawaan, namun kini justru terbalut pemandangan kumuh akibat banjir yang tak kunjung surut. ​”Seharusnya pembangunan tembok pinggiran pantai beriringan dengan penyediaan infrastruktur pembuangan yang matang. Tanpa pintu air dan mesin pompa yang beroperasi, kami seperti tinggal di dalam kolam yang menunggu waktu untuk menjadi sumber penyakit,”keluh salah seorang A Pasaribu yang didampingi R Barus.
​
​Masyarakat mendesak Pemerintah Kota Medan, khususnya Wali Kota Medan, untuk segera turun tangan melakukan evaluasi teknis terhadap proyek benteng pantai di Jalan Kampar. Aspirasi warga sangat jelas: Agar air hujan dari daratan dapat mengalir keluar saat laut surut. ​Memastikan mesin pompa tidak hanya menjadi pajangan, tetapi beroperasi penuh saat debit air meningkat. ​Pembersihan saluran air yang terintegrasi menuju muara.

​Warga berharap pemerintah tidak menutup mata atas kondisi ini. Belawan sebagai pintu gerbang maritim Medan tidak boleh dibiarkan tenggelam dalam kebijakan infrastruktur yang kurang terintegrasi. Sudah saatnya solusi jangka panjang dihadirkan, sebelum “waduk paksa” di Jalan Kampar memakan korban kesehatan yang lebih luas. (Liputan : Nelson Siregar)

- Advertisement -spot_img

More articles

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisement -spot_img

Latest article