Senin, April 27, 2026
[tds_menu_login inline="yes" guest_tdicon="td-icon-profile" logout_tdicon="td-icon-log-out" tdc_css="eyJhbGwiOnsibWFyZ2luLWJvdHRvbSI6IjAiLCJtYXJnaW4tbGVmdCI6IjMwIiwiZGlzcGxheSI6IiJ9LCJwb3J0cmFpdCI6eyJtYXJnaW4tbGVmdCI6IjIwIiwiZGlzcGxheSI6IiJ9LCJwb3J0cmFpdF9tYXhfd2lkdGgiOjEwMTgsInBvcnRyYWl0X21pbl93aWR0aCI6NzY4fQ==" icon_color="#ffffff" icon_color_h="var(--tt-accent-color)" toggle_txt_color_h="var(--tt-accent-color)" f_toggle_font_family="tt-extra_global" f_toggle_font_weight="600" show_menu="yes" f_btn2_font_family="tt-extra_global" show_version="" show_avatar="" menu_offset_top="eyJhbGwiOiIxMCIsInBvcnRyYWl0IjoiMTEifQ==" menu_horiz_align="content-horiz-right" menu_gh_color="var(--tt-primary-color)" f_btn1_font_family="tt-extra_global" f_gh_font_family="tt-primary-font_global" f_uf_font_family="tt-extra_global" f_links_font_family="tt-extra_global" f_uh_font_family="tt-primary-font_global" menu_uh_color="var(--tt-primary-color)" menu_uf_border_color="var(--tt-primary-color)" menu_ul_link_color="var(--tt-primary-color)" menu_ul_link_color_h="var(--tt-accent-color)" f_uh_font_weight="600" f_links_font_weight="600" f_uf_font_weight="600" f_uh_font_size="eyJhbGwiOiIxNCIsInBvcnRyYWl0IjoiMTMifQ==" f_uh_font_line_height="1.2" f_links_font_size="eyJhbGwiOiIxMyIsInBvcnRyYWl0IjoiMTIifQ==" f_uf_font_size="eyJhbGwiOiIxMyIsInBvcnRyYWl0IjoiMTIifQ==" f_gh_font_size="eyJhbGwiOiIxNCIsInBvcnRyYWl0IjoiMTMifQ==" f_gh_font_line_height="1.2" f_btn1_font_size="eyJhbGwiOiIxMyIsInBvcnRyYWl0IjoiMTIifQ==" f_btn2_font_size="eyJhbGwiOiIxMyIsInBvcnRyYWl0IjoiMTIifQ==" f_gh_font_weight="600" f_btn1_font_weight="600" f_btn2_font_weight="600" toggle_txt_color="#ffffff" menu_bg="#ffffff" menu_uf_txt_color="var(--tt-primary-color)" menu_ul_sep_color="var(--tt-accent-color)" menu_uf_txt_color_h="var(--tt-accent-color)" menu_gc_btn1_color="#ffffff" menu_gc_btn1_color_h="#ffffff" menu_gc_btn1_bg_color="var(--tt-accent-color)" menu_gc_btn1_bg_color_h="var(--tt-hover)" menu_gc_btn2_color="var(--tt-accent-color)" menu_gc_btn2_color_h="var(--tt-hover)" ia_space="10" toggle_horiz_align="content-horiz-left" menu_offset_horiz="6" menu_shadow_shadow_size="16" menu_uh_border_color="var(--tt-primary-color)" menu_gh_border_color="var(--tt-primary-color)" f_btn1_font_line_height="1.2" f_btn2_font_line_height="1.2" f_uf_font_line_height="1.2" f_links_font_line_height="1.2" menu_ul_space="10" icon_size="eyJhbGwiOjI0LCJwb3J0cmFpdCI6IjIyIn0=" avatar_size="eyJwb3J0cmFpdCI6IjIzIn0=" f_toggle_font_size="eyJhbGwiOiIxMyIsInBvcnRyYWl0IjoiMTIifQ==" f_toggle_font_line_height="1.2" menu_shadow_shadow_offset_vertical="4" menu_shadow_shadow_color="rgba(0,0,0,0.15)"]

Ketika Drainase Berubah Menjadi ‘Hutan’, Dimana P3SU

Share

- Advertisement -

 


dLXHLU54O2876Ijyf22opx1wE4BqkuMICmXEo/s320/SAVE_20250715_152536.jpg" width="255" />

 

​Belawan | suaraburuhnasional.com – Kelurahan Belawan Bahagia kini berada dalam dekapan krisis infrastruktur yang ironis sekaligus memprihatinkan. Di saat Pemerintah Kota Medan gencar menggaungkan program penataan kota, wilayah ini justru mempertontonkan sebuah anomali lingkungan yang mencolok: saluran drainase yang seharusnya menjadi urat nadi pembuangan air, kini telah bermutasi menjadi daratan hijau yang ditumbuhi belukar dan pohon mangrove, Senin (27/4/2026).

​Hasil investigasi mendalam di sepanjang jalur strategis, mulai dari Simpang Belawan Bahagia hingga kawasan Ujung Banteng, menyuguhkan potret pilu yang sulit dinalar akal sehat. Sedimentasi yang telah mengeras dan menumpuk selama bertahun-tahun telah menutup total fungsi drainase.

​Kondisi ini bukan sekadar pendangkalan teknis biasa, melainkan bentuk pengabaian sistemik. Alam seolah dipaksa “mengambil alih” infrastruktur publik karena tangan-tangan otoritas yang berwenang enggan menyentuhnya.

Kehadiran rumput tebal hingga pohon mangrove yang tumbuh kokoh di tengah parit menjadi saksi bisu atas absennya perawatan rutin yang seharusnya menjadi kewajiban mutlak.

​P3SU Kecamatan: Mandul di Tengah Anggaran, Tidur di Tengah Banjir,

​Sorotan tajam kini mengarah langsung kepada tim Pemeliharaan Prasarana dan Sarana Umum (P3SU) Kecamatan Medan Belawan. Sebagai unit reaksi cepat yang dibiayai negara untuk menjaga estetika dan fungsi lingkungan, kinerja P3SU di Kelurahan Belawan Bahagia dinilai mandul dan nihil eksistensi.

​Pengamat Publik dan Lingkungan, NPS, menyatakan bahwa fenomena “hutan dalam selokan” ini adalah bukti nyata kegagalan manajerial di tingkat kecamatan.

​”Ini adalah preseden buruk bagi tata kelola lingkungan. Sangat tidak masuk akal jika pohon mangrove bisa tumbuh besar di dalam drainase jika pengawasan dilakukan secara berkala. Kondisi ini menunjukkan adanya pembiaran masif. Anggaran negara dikucurkan, namun realitanya, sedimen dibiarkan membatu hingga menjadi hutan kecil,” tegas NPS dengan nada bicara yang dalam.

​NPS juga mempertanyakan komitmen mitigasi banjir wilayah pesisir yang selama ini digaungkan. Menurutnya, P3SU seolah-olah “menutup mata” terhadap sedimentasi yang mengeras, yang pada akhirnya menjadikan masyarakat sebagai korban utama banjir instan meski hujan hanya turun dalam intensitas ringan.

​Masyarakat Belawan Bahagia kini berada pada titik nadir kesabaran. Mereka tidak lagi membutuhkan kunjungan seremonial atau janji-janji manis di atas kertas. Desakan publik kian menguat agar dilakukan audit transparansi terkait penggunaan anggaran P3SU yang dianggap tidak tepat sasaran dan tidak menyentuh akar permasalahan di lapangan.

​Kekecewaan warga sangat beralasan; kelumpuhan drainase ini secara langsung mencederai marwah pelayanan publik di Kota Medan. Jika normalisasi total dan pengerukan sedimen tidak segera dilakukan, Belawan Bahagia akan terus terperangkap dalam siklus banjir yang mematikan aktivitas ekonomi.

​Kini bola panas berada di tangan otoritas terkait. Rakyat Belawan Bahagia tengah menanti: akankah Pemerintah Kota segera mengevaluasi kinerja P3SU Kecamatan yang dinilai tertidur pulas, atau membiarkan wilayah ini benar-benar lumpuh permanen oleh sedimen dan ketidakpedulian birokrasi?. ​Satu hal yang pasti, pohon mangrove dan rumput yang berdiri tegak di dalam parit tersebut adalah monumen kegagalan yang tidak bisa dibantah dengan kata-kata saja. (Liputan: Nelson Siregar)

Read more

Local News