Rabu, April 29, 2026
[tds_menu_login inline="yes" guest_tdicon="td-icon-profile" logout_tdicon="td-icon-log-out" tdc_css="eyJhbGwiOnsibWFyZ2luLWJvdHRvbSI6IjAiLCJtYXJnaW4tbGVmdCI6IjMwIiwiZGlzcGxheSI6IiJ9LCJwb3J0cmFpdCI6eyJtYXJnaW4tbGVmdCI6IjIwIiwiZGlzcGxheSI6IiJ9LCJwb3J0cmFpdF9tYXhfd2lkdGgiOjEwMTgsInBvcnRyYWl0X21pbl93aWR0aCI6NzY4fQ==" icon_color="#ffffff" icon_color_h="var(--tt-accent-color)" toggle_txt_color_h="var(--tt-accent-color)" f_toggle_font_family="tt-extra_global" f_toggle_font_weight="600" show_menu="yes" f_btn2_font_family="tt-extra_global" show_version="" show_avatar="" menu_offset_top="eyJhbGwiOiIxMCIsInBvcnRyYWl0IjoiMTEifQ==" menu_horiz_align="content-horiz-right" menu_gh_color="var(--tt-primary-color)" f_btn1_font_family="tt-extra_global" f_gh_font_family="tt-primary-font_global" f_uf_font_family="tt-extra_global" f_links_font_family="tt-extra_global" f_uh_font_family="tt-primary-font_global" menu_uh_color="var(--tt-primary-color)" menu_uf_border_color="var(--tt-primary-color)" menu_ul_link_color="var(--tt-primary-color)" menu_ul_link_color_h="var(--tt-accent-color)" f_uh_font_weight="600" f_links_font_weight="600" f_uf_font_weight="600" f_uh_font_size="eyJhbGwiOiIxNCIsInBvcnRyYWl0IjoiMTMifQ==" f_uh_font_line_height="1.2" f_links_font_size="eyJhbGwiOiIxMyIsInBvcnRyYWl0IjoiMTIifQ==" f_uf_font_size="eyJhbGwiOiIxMyIsInBvcnRyYWl0IjoiMTIifQ==" f_gh_font_size="eyJhbGwiOiIxNCIsInBvcnRyYWl0IjoiMTMifQ==" f_gh_font_line_height="1.2" f_btn1_font_size="eyJhbGwiOiIxMyIsInBvcnRyYWl0IjoiMTIifQ==" f_btn2_font_size="eyJhbGwiOiIxMyIsInBvcnRyYWl0IjoiMTIifQ==" f_gh_font_weight="600" f_btn1_font_weight="600" f_btn2_font_weight="600" toggle_txt_color="#ffffff" menu_bg="#ffffff" menu_uf_txt_color="var(--tt-primary-color)" menu_ul_sep_color="var(--tt-accent-color)" menu_uf_txt_color_h="var(--tt-accent-color)" menu_gc_btn1_color="#ffffff" menu_gc_btn1_color_h="#ffffff" menu_gc_btn1_bg_color="var(--tt-accent-color)" menu_gc_btn1_bg_color_h="var(--tt-hover)" menu_gc_btn2_color="var(--tt-accent-color)" menu_gc_btn2_color_h="var(--tt-hover)" ia_space="10" toggle_horiz_align="content-horiz-left" menu_offset_horiz="6" menu_shadow_shadow_size="16" menu_uh_border_color="var(--tt-primary-color)" menu_gh_border_color="var(--tt-primary-color)" f_btn1_font_line_height="1.2" f_btn2_font_line_height="1.2" f_uf_font_line_height="1.2" f_links_font_line_height="1.2" menu_ul_space="10" icon_size="eyJhbGwiOjI0LCJwb3J0cmFpdCI6IjIyIn0=" avatar_size="eyJwb3J0cmFpdCI6IjIzIn0=" f_toggle_font_size="eyJhbGwiOiIxMyIsInBvcnRyYWl0IjoiMTIifQ==" f_toggle_font_line_height="1.2" menu_shadow_shadow_offset_vertical="4" menu_shadow_shadow_color="rgba(0,0,0,0.15)"]

Simfoni Duka dan Heroisme TNI AL di Perairan Belawan

Share

- Advertisement -

 


dLXHLU54O2876Ijyf22opx1wE4BqkuMICmXEo/s320/SAVE_20250715_152536.jpg" width="255" />

 

​Belawan | suaraburuhnasional.com — Laut tidak pernah menjanjikan ketenangan yang abadi. Di balik hiruk-pikuk industrial Dermaga 103 Pelindo Ujung Baru, sebuah drama kehidupan mencapai titik nadirnya. Selasa siang (28/4/2026), menjadi saksi saat takdir mempertemukan sampan kayu sederhana milik Jainal Abidin (37) dengan raksasa besi MV Segara Bali.

​Dalam sebuah insiden yang terjadi nyaris tanpa suara di tengah gemuruh pelabuhan, sampan kecil itu terhimpit di antara lambung kapal dan dinding beton dermaga. Diduga akibat dorongan arus buangan (wash) yang tak terelakkan saat proses sandar, perahu itu karam dalam hitungan detik. Jainal, sang pejuang nafkah, hilang ditelan keruhnya perairan Belawan, meninggalkan jejak sisa tangkapan yang terapung sepi.

​Tragedi ini memicu alarm kesiapsiagaan. TNI Angkatan Laut (TNI AL) melalui Posal Medan Labuhan bergerak bukan sekadar sebagai otoritas, melainkan sebagai tumpuan harapan. Dengan taktis, personel Babinpotmar dikerahkan untuk membelah kepadatan aktivitas pelabuhan, mengoordinasikan kekuatan bersama Basarnas dan unsur maritim terkait.

​Aksi cepat ini menjadi krusial. Di tengah arus bawah laut yang sulit diprediksi dan lalu lintas kapal komersial yang padat, TNI AL mengamankan zona pencarian demi memastikan operasi penyelamatan berjalan tanpa hambatan. Di sisi lain dermaga, sebuah pemandangan menyentuh kalbu tersaji: keluarga korban bertahan menantang angin malam, menyisir permukaan air dengan tatapan kosong, menjaga api harapan agar tidak padam.

​Kepulangan Sang Nelayan di Fajar Menyingsing

​Penantian panjang itu menemui titik akhir pada Rabu pagi (29/4/2026). Saat matahari baru saja menyentuh cakrawala Belawan pukul 06.50 WIB, tim gabungan menemukan jasad Jainal Abidin di bawah badan kapal, tak jauh dari lokasi awal ia terhempas. ​Proses pemulangan korban menjadi momentum yang sarat emosi. TNI AL hadir hingga detik terakhir, mengawal ambulans laut yang membawa jenazah kembali ke rumah duka di Belawan Bahagia.

Kehadiran seragam loreng di tengah pelayat bukan sekadar formalitas, melainkan simbol bahwa negara hadir di tengah duka rakyatnya. ​”Kehadiran kami adalah bentuk komitmen. Di laut kita jaya, namun di saat duka, kami adalah saudara yang merangkul sesama,” tulis sebuah pesan tersirat dari kesigapan personel di lapangan.

​Kini, Dermaga 103 telah kembali ke ritme biasanya. Namun, serpihan kayu sampan yang tersisa menjadi monumen bisu tentang dua hal: Betapa tipisnya batas antara mencari penghidupan dan menghadapi maut bagi para nelayan tradisional di tengah modernisasi pelabuhan. Keberhasilan koordinasi antara TNI AL, Basarnas, dan masyarakat yang membuktikan bahwa efektivitas penyelamatan lahir dari empati yang terorganisir.

​Berita ini bukan sekadar catatan tentang kehilangan, melainkan penghormatan atas dedikasi mereka yang menjaga perairan—baik mereka yang mencari nafkah di atasnya, maupun mereka yang bersiaga menjaga nyawa di dalamnya. Belawan kembali tenang, namun narasi tentang kecepatan, koordinasi, dan kemanusiaan ini akan terus beresonansi di hati masyarakat. (Liputan: Nelson Siregar/Dispen Kodaeral I)

Read more

Local News