dLXHLU54O2876Ijyf22opx1wE4BqkuMICmXEo/s320/SAVE_20250715_152536.jpg" width="255" />
Medan | suaraburuhnasional.com – Kedaulatan negara bukan sekadar urusan administrasi, melainkan manifestasi dari kesiapan personel yang tangguh di lapangan. Menyadari krusialnya aspek tersebut, Kantor Imigrasi Kelas II TPI Belawan mengambil langkah progresif dengan mengikuti pelatihan menembak intensif yang diinisiasi oleh Kantor Wilayah Kementerian Hukum dan HAM Sumatera Utara pada Sabtu (18/4/2026).
Bertempat di medan latihan Batalyon 463 Kopasgat, Medan Polonia, kegiatan ini bukan sekadar rutinitas fisik, melainkan sebuah simposium kedisiplinan yang mempertemukan ketajaman intuisi intelijen dengan presisi tindakan hukum. Kegiatan ini dibuka secara khidmat oleh Kepala Bagian Tata Usaha, Gelora Adil Ginting, S.H., yang hadir mewakili Kepala Kantor Wilayah Kemenkumham Sumut, Dr. Perlindungan, S.H., M.H.
Dalam sambutannya, dirinya menggarisbawahi bahwa penguasaan taktis adalah instrumen pendukung dalam menjaga integritas wilayah. ”Ini adalah langkah strategis. Kami tidak hanya mengasah kemampuan teknis, tetapi juga membangun resonansi sinergi antarinstansi guna menciptakan sistem pengawasan yang tak celah,”ujar Gelora Adil Ginting di hadapan para peserta.
Senada dengan visi tersebut, Komandan Batalyon 463 Kopasgat, John Heriansyah Siregar, menegaskan bahwa kemahiran menembak adalah filosofi dari pengendalian diri. Menurutnya, senjata di tangan aparatur negara adalah simbol perlindungan yang harus dibarengi dengan kematangan mental dan tanggung jawab moral yang tinggi.
Kepala Kantor Imigrasi Kelas II TPI Belawan, Eko Yudis Parlin Rajagukguk, mengirimkan delegasi terbaiknya yang terdiri dari jajaran pejabat struktural dan staf ahli dari bidang Intelijen, Pengawasan, dan Penindakan (Inteldak). Langkah ini merupakan investasi jangka panjang untuk memperkuat otot penegakan hukum di wilayah kerja Belawan.
Dalam keterangannya, Eko Yudis menekankan tiga pilar utama yang menjadi target dari pelatihan ini: Kedisiplinan: Membentuk mentalitas yang tenang di bawah tekanan tinggi. Ketangkasan: Menjamin respons cepat dan tepat dalam situasi tak terduga di lapangan. Kesiapsiagaan: Memastikan setiap personel garda terdepan memiliki kesiapan operasional yang paripurna.
”Tugas keimigrasian, khususnya pada fungsi intelijen dan penindakan, menuntut personel untuk memiliki kewaspadaan yang tajam. Pelatihan ini adalah sarana kami untuk memastikan bahwa setiap petugas bukan hanya cerdas secara administratif, tapi juga tangkas dan berani dalam menegakkan aturan,” tegas Eko Yudis dengan penuh optimisme.
Melalui latihan intensif yang melibatkan instruktur elit dari Kopasgat ini, Imigrasi Belawan mengirimkan pesan kuat kepada masyarakat: bahwa pengawasan terhadap lalu lintas orang asing dan perlindungan pintu gerbang negara dilakukan oleh tangan-tangan yang terlatih secara profesional.
Transformasi ini diharapkan mampu meningkatkan kepercayaan publik terhadap institusi imigrasi sebagai lembaga yang berwibawa, modern, dan selalu siap menghadapi tantangan Belawan. (Liputan : Nelson Siregar)


