Jakarta | suaraburuhnasional.com — Ada sebuah aksioma tak tertulis yang terpahat dalam pada sabuk pengabdian setiap insan berloreng: Seragam bisa ditanggalkan, pangkat bisa menjadi masa lalu, namun darah persaudaraan yang lahir dari rahim Ibu Pertiwi tidak akan pernah mengenal kata pensiun, Minggu (24/5/2026).
Suasana di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat tidak lagi sekadar menjadi panggung bagi perdebatan pasal-pasal hukum yang kaku. Ruang sidang itu bertransformasi menjadi sebuah palung emosional yang agung ketika ratusan purnawirawan TNI melangkah masuk. Mereka mulai dari para bintara yang dahulunya mengendap di belantara pertempuran, hingga jenderal-jenderal legendaris yang kenyang mengarsiteki strategi bangsa hadir merapatkan barisan. Di usia senja, mereka berdiri tegap, mengunci pandangan, dan mengawal jalannya persidangan Mayor Jenderal TNI (Purn) Kivlan Zen.
Fenomena ini bukan lagi sekadar tontonan solidaritas biasa. Ini adalah sebuah manifesto epik, sebuah pembuktian bahwa Jiwa Korsa bukanlah slogan mati yang terkubur di dalam buku saku, melainkan detak jantung yang tetap memompa kehormatan hingga napas terakhir.
Kasus dugaan kepemilikan senjata api ilegal yang diarahkan kepada mantan Kepala Staf Komando Cadangan Strategis Angkatan Darat (Kostrad) ini memang bergulir di atas rel konstitusi formal. Namun, bagi publik yang jernih memandang dan ribuan purnawirawan yang mengiringi, aroma kontroversi politik terasa terlalu tebal untuk diabaikan.
Dalam konstelasi sejarah militer kontemporer, Kivlan Zen bukanlah figur yang pandai bersolek dengan kata-kata manis demi mengamankan posisi. Ia adalah personifikasi dari watak perwira komando tulen: lurus, vokal, dan meledak-ledak jika mencium aroma ancaman terhadap ideologi negara.
Ketika ia meneriakkan bahaya laten radikalisme atau komunisme, ia tidak sedang bermain retorika politik; ia sedang mengumandangkan kembali doktrin suci yang membakar dadanya sejak hari pertama ia mencium panji-panji kehormatan di Lembah Tidar.
”Kami tidak datang untuk meruntuhkan wibawa hukum. Kami datang membawa sisa-sisa raga kami untuk mengingatkan negara, bahwa kehormatan seorang prajurit yang telah menyerahkan masa mudanya demi tegaknya Republik ini, tidak boleh dikorbankan begitu saja di atas altar pragmatisme politik,”ucap seorang purnawirawan perwira tinggi dengan suara berat yang bergetar, namun tatapan matanya tetap setajam elang.
Melihat seorang Kivlan Zen duduk di kursi pesakitan laksana melihat bayas-bayas diri mereka sendiri. Ada luka kolektif yang merembes ke sanubari para “Serdadu Tua” ini. Gerakan dukungan yang masif, organik, dan tanpa komando struktural ini mengirimkan pesan sosiologis yang sangat kuat kepada khalayak ramai: Bagi korps militer, membela seorang rekan sejawat yang tengah dihantam badai adalah cara mereka mempertahankan martabat dan marwah seluruh korps.
Masyarakat umum yang menyaksikan peristiwa ini disuguhi sebuah pelajaran moral yang mahal. Di tengah kepungan zaman modern yang kian oportunis di mana manusia begitu mudah saling meninggalkan demi keselamatan pribadi para purnawirawan ini justru menunjukkan antitesisnya: loyalitas absolut yang melampaui sekat waktu, ruang, dan kepentingan pribadi.
Rambut mereka memang telah memutih sepenuhnya. Langkah kaki mereka tak lagi menghentak bumi segegap puluhan tahun silam saat memimpin defile pasukan. Fisik mereka mungkin mulai digerogoti usia, namun jangan pernah salah menilai: begitu kehormatan salah satu saudara kandung seprajuritnya diusik, “jiwa macan” di dalam dada para serdadu tua itu membuktikan bahwa apinya belum dan tidak akan pernah padam.
Kini, jalannya sejarah bertumpu pada ketukan palu Majelis Hakim. Ada harapan yang teramat besar, bukan hanya dari korps purnawirawan, tetapi juga dari seluruh masyarakat yang merindukan keadilan yang hakiki. Publik berharap agar hukum tidak ditegakkan secara mekanis laksana robot yang buta sejarah, melainkan memiliki mata hati yang mampu menimbang dengan adil rekam jejak, tetesan keringat, dan darah yang pernah dipersembahkan Kivlan Zen demi berkibarnya Sang Saka Merah Putih.
Sidang ini pada akhirnya akan selesai dan melahirkan selembar kertas putusan.
Namun, gelombang solidaritas akbar para purnawirawan ini telah mengukir tintanya sendiri dalam sejarah bangsa: Bahwa persaudaraan yang ditempa oleh peluru, kesetiaan yang diikat oleh sumpah prajurit, selamanya tidak akan pernah bisa diceraikan oleh dinginnya jeruji besi. (Liputan: Nelson Siregar/Tim)


