Labuhan | suaraburuhnasional.com – Di tengah persepsi publik yang kerap mengidentikkan institusi keimigrasian dengan rigiditas birokrasi sekat-sekat kaca loket paspor, penegakan hukum yang kaku, dan pengawasan ketat tapal batas sebuah narasi humanis yang menyentuh sanubari tercipta. Pada Minggu pagi yang khidmat (31/5/2026), Kantor Imigrasi Kelas II TPI Belawan meruntuhkan dinding-dinding formalitas tersebut.
Melalui dedikasi tulus Petugas Imigrasi Pembina Desa (PIMPASA), institusi ini hadir melampaui tugas administratifnya, menenun kepedulian bagi anak-anak penyandang disabilitas di Kelurahan Labuhan Deli, Kecamatan Medan Marelan, Kota Medan. Bukan di ruang sidang atau aula protokoler, melainkan di Aula Kelurahan Labuhan Deli yang bersahaja, negara hadir menyapa warganya.
Berkolaborasi dengan Paguyuban Anak Istimewa Cerebral Palsy Labuhan Deli dan Sekitar (PAIS CP DELTA), Imigrasi Belawan melebur dalam momentum yang sarat akan nilai emosional: mendampingi langkah-langkah perjuangan anak-anak hebat yang sedang menjalani sesi fisioterapi untuk menjemput harapan mereka.
Sejak jarum jam menunjukkan pukul 10.00 WIB, atmosfir aula seketika berubah menjadi ruang komunal yang penuh dengan energi positif dan kehangatan. Sadar bahwa ketulusan memerlukan ketepatan, para petugas PIMPASA terlebih dahulu melakukan koordinasi mendalam dengan perangkat kelurahan dan tim pendamping.
Langkah persuasif ini diambil guna memastikan kehadiran Imigrasi tidak menjadi beban formalitas, melainkan sebuah oase yang sesuai dengan kebutuhan psikologis serta emosional anak-anak istimewa tersebut.
Puncak keharuan membuncah saat para petugas menyerahkan bingkisan kasih kepada anak-anak yang tengah berjuang melawan keterbatasan fisik mereka. Bagi para orang tua yang hadir dengan peluh dan ketegaran, bingkisan tersebut bukan sekadar materi penanda ingatan. Ia adalah sebuah manifesto tersirat yang menegaskan: dalam ruang sunyi perjuangan merawat buah hati istimewa ini, mereka tidak pernah berjalan sendirian.
Di sela-sela kegiatan, sekat antarah aparat penegak hukum dan rakyat sipil runtuh sepenuhnya. Petugas Imigrasi duduk bersimpuh, menatap mata penuh binar, mendengarkan asa, serta meresapi ruang dialog bersama para orang tua. Interaksi yang mengalir tanpa sekat ini sukses menegaskan esensi sejati dari Program Desa Binaan Imigrasi sebuah ruang publik yang inklusif, adaptif, dan memanusiawikan manusia.
Sinergi yang mengawinkan visi kemanusiaan ini menuai resonansi dan apresiasi mendalam dari berbagai elemen masyarakat. Menanggapi gelombang respons positif tersebut, Kepala Kantor Imigrasi Kelas II TPI Belawan, Eko Yudis Parlin Rajagukguk, dengan penuh penegasan menyatakan bahwa agenda ini merupakan refleksi dari transformasi pelayanan publik yang berbasis pada hati nurani.
”Program Desa Binaan Imigrasi adalah wujud pengabdian tanpa batas kami. Ini berjalan selaras dengan garis arahan Direktur Jenderal Imigrasi, Herdarsam Marantoko, bahwa korps Imigrasi tidak boleh terjebak dalam sangkar kekakuan fungsi regulatif semata. Kami harus bergerak dinamis, berkontribusi nyata, dan meletakkan aspek kemanusiaan serta pembinaan sosial sebagai fondasi tertinggi dalam struktur pelayanan kami,” tutur Eko Yudis dengan nada optimis.
Kegiatan yang berlangsung aman, tertib, dan berselimut keakraban ini menjadi pemantik sebuah kesadaran baru. Lebih dari sekadar seremoni satu hari, aksi sosial ini dirancang untuk memicu efek bola salju—sebuah gerakan kepedulian yang lebih masif dari berbagai pemangku kepentingan demi pemenuhan hak-hak anak disabilitas.
Ke depan, Kantor Imigrasi Kelas II TPI Belawan berkomitmen penuh untuk menjaga api kepedulian ini tetap menyala secara konsisten dan berkelanjutan. Melalui penguatan sinergi lintas sektor di wilayah Desa Binaan, Imigrasi Belawan ingin terus membuktikan kepada khalayak ramai bahwa di balik seragam dinas yang gagah dan wibawa hukum yang ditegakkan, bersemayam hati yang tulus untuk mengabdi, merangkul, dan memastikan tidak ada satu pun warga negara yang tertinggal di belakang. (Liputan : Nelson Siregar)


