11.6 C
Munich
Selasa, Juni 2, 2026

Ironi di Hari Lahir Pancasila, Perlawanan Akar Rumput Menghantam Gurita Perjudian Gabion Belawan

Must read

 

​Belawan | suaraburuhnasional.com – Tanggal 1 Juni bagi Pengurus Anak Cabang (PAC) Pemuda Pancasila Kecamatan Medan Belawan bukan sekadar seremoni musiman di kalender. Di tengah riuh gema peringatan Hari Lahir Pancasila, sebuah aksi nyata yang menggetarkan lini masa pecah di pesisir utara Medan, Senin (1/6/2026).

​Alih-alih terjebak dalam retorika upacara, elemen kepemudaan bersama masyarakat mengambil langkah radikal. Mereka bergerak bersama, merangsek masuk, dan melumpuhkan sebuah episentrum judi ketangkasan jenis “tembak ikan” yang beroperasi menantang hukum di kawasan Gabion Belawan, tepat di depan Gudang Janda.

​Aksi yang terekam vulgar dalam video amatir berdurasi singkat (VID-20260601-WA0249.mp4) memperlihatkan ketegasan massa saat meremukkan mesin-mesin judi tersebut. Tindakan ini menjadi simbol dari titik jenuh dan kulminasi kemarahan publik yang sudah lama terpendam.

​Berdasarkan investigasi mendalam di lapangan, jejaring bisnis gelap yang meraup omset fantastis ini diduga kuat dikendalikan oleh seorang aktor utama berinisial AS. Sementara di garda depan, operasional harian dipercayakan kepada Pit seorang wanita yang di kalangan akar rumput pesisir santer dijuluki sebagai “Ratu Judi” tembak ikan.

​Catatan Sosial Wilayah: Markas judi tersebut sesungguhnya telah berulang kali digerebek dan ditutup secara swadaya oleh warga Gabion. Namun, bak anomali yang kebal hukum, bisnis haram ini selalu berhasil “hidup kembali”. Fenomena ini memicu tanda tanya besar di tengah masyarakat: siapa kekuatan tak terlihat (invisible hand) di balik layar yang menjamin imunitas mereka?.

​Membahas judi “tembak ikan” di Belawan bukan lagi sekadar perkara pelanggaran pasal hukum perjudian biasa. Ini telah menjelma menjadi potret kejahatan kemanusiaan yang memiskinkan masyarakat secara struktural. Kawasan Gabion dihuni oleh mayoritas masyarakat yang menggantungkan hidup pada kemurahan samudra. Para nelayan bertaruh nyawa di tengah ombak, menghabiskan malam-malam dingin demi membawa pulang rupiah.

​Namun tragisnya, hasil peluh keringat yang seharusnya menjelma menjadi beras di dapur, biaya pendidikan anak, dan jaminan hari tua, justru menguap tak berbekas dalam hitungan jam di atas meja judi ketangkasan. Keberadaan meja judi ini berfungsi layaknya predator ekonomi; ia menghancurkan tatanan finansial keluarga nelayan, memicu kehancuran domestik, dan menjebak masyarakat pesisir ke dalam lingkaran setan kemiskinan yang akut.

​Gelombang perlawanan yang dimotori oleh elemen pemuda ini seketika memantik dukungan masif dari berbagai tokoh intelektual dan spiritual. Resonansi paling berbobot datang dari Tokoh Agama sekaligus Pemerhati Lingkungan terkemuka, Ustadz Ilham Maulana. Saat ditemui di kediamannya, tokoh yang dikenal memiliki integritas moral tinggi ini tidak dapat menyembunyikan keprihatinannya, sekaligus memberikan apresiasi yang mendalam terhadap gerakan penertiban mandiri tersebut.

​”Apa yang dilakukan oleh Pemuda Pancasila Belawan adalah sebuah manifestasi nyata dari pertahanan moral masyarakat. Ini bukan sekadar aksi massa, ini adalah jeritan hati nurani yang dipaksa bergerak karena melihat hukum yang mandek,” tegas Ustadz Ilham Maulana dengan nada berwibawa.

​Dirinya membedah secara sosiologis mengenai daya rusak dari penyakit masyarakat (pekat) ini yang memiliki efek domino yang mengerikan: Jangan pernah melihat judi tembak ikan ini sebagai masalah tunggal. Ini adalah hulu dari segala kerusakan. Di mana judi dibiarkan tumbuh subur, maka peredaran narkoba akan mengikutinya, dan muaranya adalah lonjakan angka kriminalitas. Pesisir Belawan ini adalah tanah religius, tanah para pekerja keras, jangan biarkan moralnya didegradasi oleh aktivitas haram ini,”tambahnya.

​Menutup pandangannya, Ustadz Ilham melayangkan sebuah manifesto keras yang ditujukan langsung kepada institusi penegak hukum dan pemangku kebijakan negara. Beliau menuntut supremasi hukum ditegakkan tanpa pandang bulu, tanpa ada ruang bagi kompromi.

​”Kita berharap semua elemen atau komponen masyarakat terlibat dalam upaya memberantas kejahatan ini. Penegak hukum harus berada di garda terdepan! Jangan sampai institusi negara kalah dengan kejahatan dan penyakit masyarakat ini. Ini menyangkut wibawa negara,”seru Ustadz Ilham dengan lantang.

​Dirinya juga mendesak agar momentum ini menjadi titik balik pembersihan total:
​Habisi Permanen: Seluruh titik perjudian di Belawan wajib ditutup tanpa sisa.
​Tangkap & Usut: Amankan sang ‘Ratu Judi’ dan kejar bandar utama (AS) yang menghisap darah masyarakat kecil.
​Tindak tegas siapa pun oknum yang menjadi pelindung di balik bisnis ini. ​”Ingat, kewibawaan negara dan hukum tidak boleh kalah, apalagi sampai bertekuk lutut di bawah ketiak para mafia,”pungkas sang Ustadz.

​Aksi heroik di Hari Lahir Pancasila ini telah melempar bola panas ke ranah penegakan hukum. Publik kini tidak lagi sekadar menjadi penonton pasif, melainkan pengawal aktif. ​Apakah tindakan tegas dari elemen masyarakat dan pemuda ini akan bersambut dengan tindakan hukum yang progresif, berani, dan tuntas dari aparat kepolisian?. Ataukah gurita judi Gabion akan kembali menggeliat saat sorotan media mulai meredup?.  ​Satu hal yang pasti: masyarakat Belawan telah mengirimkan pesan terbuka yang jernih mereka menolak kalah oleh mafia. (Liputan: Nelson Siregar)

- Advertisement -spot_img

More articles

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisement -spot_img

Latest article