Medan | suaraburuhnasional.com – Di tengah derasnya arus digitalisasi, ruang publik kembali dinodai oleh praktik hitam character assassination (pembunuhan karakter). Jagat maya Kota Medan mendadak diguncang oleh narasi provokatif yang mengabarkan bahwa Wakil Ketua DPRD Kota Medan, Hadi Suhendra, S.H., telah berpulang. Namun, setelah ditelusuri secara saksama, informasi tersebut dipastikan murni sebagai berita bohong alias hoaks yang direkayasa secara manipulatif.
Politisi muda andalan Partai Golkar sekaligus tokoh pemuda Medan Utara tersebut mengonfirmasi bahwa dirinya berada dalam kondisi prima, sehat secara holistik, dan tetap menjalankan amanah konstitusi sebagai wakil rakyat seperti biasa. ”Alhamdulillah, saya sehat walafiat. Saya dalam kondisi yang sangat baik, sehat jasmani maupun rohani,” tegas Hadi Suhendra saat memberikan klarifikasi resmi kepada awak media, Senin (1/6/2026).
Berdasarkan investigasi digital, muara dari kegaduhan ini berasal dari sebuah unggahan di platform TikTok oleh akun ‘Cerita Belawan’. Akun tersebut memajang foto formal Hadi Suhendra yang mengenakan seragam kebesaran Pemuda Pancasila.
Daya rusak dari konten ini terletak pada ambiguitas visual dan tekstual yang sengaja diciptakan untuk memicu misinformasi massal: Di dalam bingkai foto, tertulis narasi sakral duka cita: ‘Turut Berduka Cita yang Mendalam atas Berpulangnya Bapak Hadi Suhendra. Semoga Amal Ibadah Almarhum Diterima di Sisi Allah SWT…’ Teks ini secara psikologis langsung menggiring persepsi pembaca pada kematian fisik.
Sang pemilik akun kemudian berlindung di balik caption bertuliskan, “Innalillahi wainnailaihi rojiun matinya jiwa dan rohani Ketua PAC Belawan…” Sebuah upaya satire keliru yang mencoba mengalihkan substansi dari hoaks menjadi sekadar “kritik metaforis”.
Menanggapi fenomena digital yang tidak sehat ini, Hadi Suhendra yang juga menakhodai PAC PP Medan Belawan angkat bicara dengan nada lugas namun tetap tenang. Sebagai pejabat publik, ia menegaskan tidak pernah menutup diri dari dinamika dialektika maupun kritik masyarakat.
”Sejujurnya, sebagai pejabat publik saya sama sekali tidak anti-kritik. Demokrasi membutuhkan itu. Namun, tolong sampaikan kritik dengan metodologi yang sehat dan beradab. Apa yang dipertontonkan ini jelas melenceng jauh dari koridor kritik yang sehat, tidak mendidik, dan sangat menyesatkan opini publik. Kita sangat menyesalkan dekadensi moral dalam bermedia sosial ini,”papar pimpinan DPRD Kota Medan dari Fraksi Golkar tersebut.
Meski dirugikan secara moril oleh kampanye hitam (black campaign) ini, Hadi memperlihatkan kematangan kepemimpinan (statesmanship) yang luar biasa. Alih-alih merespons dengan kemarahan, ia justru mendoakan sang pembuat konten agar selalu diberi kesehatan.
Kendati demikian, demi menjaga marwah institusi publik dan memberikan edukasi hukum bagi masyarakat, upaya litigasi tetap menjadi opsi yang dipertimbangkan secara matang. ”Terkait langkah hukum ke depan, tim hukum kami saat ini sedang mendiskusikan dan mempelajari pemenuhan unsur-unsur pasalnya. Namun yang menjadi prinsip dasar kami: kita menolak keras dan harus melawan segala tindakan digital yang tidak bertanggung jawab seperti ini,”pungkasnya dengan nada tegas.
Upaya provokasi murah ini nyatanya gagal total di pasaran. Netizen Medan yang kian melek literasi digital justru berbalik arah melakukan resistensi, memasang badan, dan membersihkan ruang komentar dari racun disinformasi. “Jangan menyebarkan berita hoaks ya. Bijaklah dalam bersosial media. Terima kasih,” tulis akun ryy$ TRANS, mengingatkan pentingnya etika digital. ”Jangan sebarkan berita kebencian, bro,” kata Andika Prasetya, mengidentifikasi motif asli di balik konten tersebut. “Panjang umurnya untuk Bapak Hadi Suhendra. Semalam saya baru saja menghadiri undangan dan bertemu langsung dengan beliau di Jalan Selebes,” ungkap Khai Rani, memberikan kesaksian faktual secara instan yang mematahkan narasi hoaks tersebut.
Fenomena ini menjadi pengingat penting bagi khalayak ramai: di tengah kontestasi politik dan dinamika sosial, kecerdasan dalam menyaring informasi (digital literacy) adalah benteng terakhir kita untuk menjaga ruang publik tetap sehat, beradab, dan bermartabat. (Liputan: Nelson Siregar/Hen)


