Belawan | suaraburuhnasional.com — Laut tidak pernah menjanjikan ketenangan, dan bagi empat Anak Buah Kapal (ABK) KMN Teratai, perairan perbatasan internasional hampir saja menjadi akhir dari cerita mereka. Namun, takdir berkata lain. Setelah melewati hari-hari penuh kecemasan dan tertahan di gugusan Kepulauan Ko Sarai, Provinsi Satun, Thailand, keempat penjaga laut Nusantara ini akhirnya berhasil menapakkan kaki kembali di bumi Pangkalan Brandan dengan selamat.
Kisah yang menguras emosi ini bermula ketika mesin KMN Teratai mendadak lumpuh di koordinat perbatasan yang rawan. Terombang-ambing di tengah ketidakpastian, di bawah tatapan langit asing, para ABK terpaksa bertahan hidup dengan logistik seadanya, merajut harapan di tengah deburan ombak yang kian mengikis asa.
Tertahan di wilayah hukum Kerajaan Thailand bukan perkara mudah. Prosedur hukum dan pemeriksaan ketat segera membayangi keempat nelayan tersebut. Di sinilah urgensi kehadiran negara diuji.
Melalui gerak senyap yang taktis, sebuah simfoni diplomasi maritim dijalin secara apik, melibatkan: TNI Angkatan Laut (TNI AL) melalui garis komando taktis Komando Armada (Koarmada) I, Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Thailand
Pemilik kapal yang bertanggung jawab penuh.
Sinergi tripartit ini tidak hanya berhasil menembus sekat-sekat birokrasi internasional, tetapi juga memastikan aspek humanis para nelayan tetap terjaga. Pasokan logistik dijamin, dan hak-hak mereka sebagai warga negara dilindungi. Hingga akhirnya, pada Selasa malam (16/6/2026), lampu hijau menyala. KMN Teratai diizinkan melepas sauh, membelah kegelapan malam menuju rumah.
Ketika siluet KMN Teratai muncul di cakrawala Pangkalan Brandan, ada rasa lega yang membuncah. Personel Pos Pengamat (Posmat) TNI AL Pangkalan Brandan dengan sigap menyambut mereka bukan sebagai periksa biasa, melainkan sebagai saudara yang kembali dari medan juang.
Prosedur pemeriksaan fisik dan psikologis segera dilakukan demi memastikan tidak ada trauma yang tertinggal. Keempat ABK dinyatakan dalam kondisi kesehatan yang prima, tanpa kurang suatu apa pun. Kapal pun bersandar tanpa kerusakan materiil yang berarti.
Keberhasilan kepulangan KMN Teratai ini bukan sekadar cerita tentang kapal yang rusak lalu diperbaiki. Ini adalah manifesto nyata tentang kedaulatan, tentang bagaimana negara menolak abai terhadap keselamatan rakyatnya, bahkan hingga ke jengkal laut paling ujung di perbatasan internasional. (Liputan: Nelson Siregar/Dispen Kodaeral I)


