24.1 C
Munich
Jumat, Juni 19, 2026

Mengapa Program MBG Harus Tetap Berjalan di Tengah Evaluasi

Must read

 

​Medan | suaraburuhnasional.com — Di balik riuh rendah implementasi kebijakan nasional, ada getaran suara yang datang dari pondasi paling murni dalam masyarakat: hati seorang ibu. Menanggapi dinamika pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG), sebuah seruan moral yang kuat kini tengah bergulir ke permukaan publik, mengingatkan semua pihak bahwa masa depan jutaan anak Indonesia tidak boleh dipertaruhkan akibat kelalaian teknis di lapangan, Jumat (19/6/2026).

​Sebuah manifesto terbuka yang disuarakan oleh TereShia Marbun, SE seorang tokoh perempuan sekaligus representasi suara kaum ibu menegaskan sudut pandang yang jernih, tajam, dan mendalam terkait polemik ini. Seruan yang dikemas secara emosional namun tetap rasional tersebut menyoroti batas tegas antara esensi sebuah program nasional yang mulia dengan kelemahan para oknum pelaksananya di tingkat akar rumput.

​Bagi seorang ibu, sepiring makanan yang disajikan untuk anak-anak mereka tidak pernah sekadar tentang pemenuhan kalori, angka-angka statistik dalam laporan, atau formalitas administratif belaka. Di dalam setiap suapan, terkandung curahan kasih sayang yang tulus, perhatian mendalam, serta bait-bait doa agar anak-anak Indonesia tumbuh menjadi generasi yang sehat, kuat, dan cerdas.

​TereShia tidak menampik adanya kekecewaan emosional yang mendalam ketika kualitas makanan yang sampai ke tangan anak-anak di lapangan terkadang jauh dari standar yang diharapkan. Namun, di sinilah letak kedewasaan berpikir yang ia tawarkan: memisahkan antara substansi kebaikan program dengan kelemahan moral para pelaksananya.

​”Saya tidak pernah membenci Program Makan Bergizi Gratis (MBG). Yang membuat saya kecewa adalah oknum-oknum yang menjalankannya tanpa hati nurani. Mereka mungkin lupa bahwa makanan yang mereka siapkan bukan untuk angka-angka dalam laporan, melainkan untuk masa depan anak-anak Indonesia.”

​Melalui analogi yang sangat logis, membumi, dan tak terbantahkan, publik diajak untuk melihat persoalan ini secara proporsional. Ketika sebuah kapal megah mengalami kebocoran di tengah lautan, tindakan yang bijak dan waras tentu saja menambal kebocoran tersebut dan memperbaiki lambung yang rusak bukan justru membakar seluruh kapal beserta isinya.

​Begitu pula ketika sebuah kendaraan publik melaju tidak stabil karena kecerobohan pengemudinya; jalan keluarnya adalah mengganti sang sopir dengan yang lebih kompeten, bukan dengan menutup akses jalan pintas yang sangat dibutuhkan oleh masyarakat. Logika sederhana inilah yang seharusnya diadopsi oleh para pengambil kebijakan dalam menyikapi dinamika Program MBG.

​Sebab, harus disadari sepenuhnya bahwa MBG bukanlah milik segelintir orang atau kelompok. Program ini adalah milik jutaan anak sekolah yang merindukan perut terisi sebelum menuntut ilmu, sekaligus menjadi oase ketenangan bagi para ibu yang setiap hari harus berjuang keras di bawah garis keterbatasan ekonomi demi memenuhi gizi keluarga mereka.

​Tanpa bermaksud membela kesalahan atau membenarkan kelalaian, arus suara dari kaum ibu ini justru mendesak adanya reformasi total dan tindakan hukum yang konkret terhadap segala bentuk ketidakjujuran. Sebuah cetak biru penataan program pun dideklarasikan secara tegas:

​Seruan moral ini pada akhirnya bermuara pada sebuah pesan penuh takzim yang dialamatkan kepada Presiden Prabowo Subianto. Sebagai kepala negara yang memegang mandat tertinggi rakyat, Presiden diyakini memiliki komitmen moral dan politik yang tegak lurus demi kesejahteraan anak bangsa. Kaum ibu memohon agar segala bentuk hambatan segera ditertibkan, tindakan destruktif dibersihkan, dan siapa pun yang berani bermain-main dengan masa depan generasi penerus ditindak dengan hukum yang paling tegas.

​Sebab, di setiap piring makanan bergizi yang tersaji dengan jujur, di sanalah sejatinya tertanam cita-cita konkret Indonesia Emas. Dari piring-piring itulah kelak lahir para dokter, guru, polisi, tentara, gubernur, bahkan presiden masa depan yang akan menjaga kehormatan bangsa ini di panggung dunia. Benahi Pelaksananya, Jangan Hentikan Programnya!. Anak-anak Indonesia Berhak Mendapatkan Masa Depan yang Lebih Baik. Merdeka. (Liputan : Nelson Siregar/TereShia)

- Advertisement -spot_img

More articles

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisement -spot_img

Latest article