18.1 C
Munich
Sabtu, Juni 20, 2026

Kala Imigrasi dan KBB Membasuh Air Mata Anak Yatim

Must read

 

​Belawan | suaraburuhnasional.com – Ada getaran humanis yang magis di sudut pesisir Medan Belawan pada Jumat (19/6/2026) siang. Di bawah langit Muharam yang khidmat bulan yang karib diagungkan sebagai oase bagi anak-anak yatim sebuah simfoni kepedulian yang megah tercipta.

Kantor Imigrasi Kelas II TPI Belawan bersama lembaga sosial Kolaborasi Belawan Berkah (KBB) melebur sekat formalitas demi memeluk dan menyantuni puluhan anak yatim di Kelurahan Belawan Bahagia. ​Riuh senyum dan binar mata anak-anak tanpa ayah ini seketika mengubah atmosfer Markas KBB di Jalan Gulama No.28 A menjadi begitu hangat. Di sinilah esensi sejati dari gotong royong modern dipertontonkan: ketika birokrasi, korporasi, dan pejuang sosial bergerak dalam satu frekuensi kemanusiaan.

​Ketua KBB, Ustadz Tgk Zakaria Yusuf, dalam bait-bait tausiyahnya yang menyentuh kalbu, menegaskan bahwa merangkul anak yatim bukan sekadar aksi filantropi musiman. Ia adalah sebuah manifestasi iman yang memiliki daya transendental.

​”Secara spiritual, amalan ini adalah penawar paling mujarab bagi hati yang mulai mengeras oleh urusan dunia. Ia tidak hanya melipatgandakan rezeki dan mengundang rahmat Allah SWT, tetapi juga menjadi garansi kedekatan kita bersama Rasulullah SAW di surga sedekat jari telunjuk dan jari tengah,” urai Ustadz Zakaria dengan nada yang menggetarkan jiwa hadirin.

​Ia juga menambahkan bahwa gerakan ini adalah urat nadi pergerakan KBB yang konsisten merawat moralitas publik, beriringan dengan program pemberdayaan umat seperti pengajian rutin kaum ibu pesisir.

​Bobot dari peristiwa ini kian berkelas dengan hadirnya para pemangku kebijakan yang turun langsung ke akar rumput. Duduk berdampingan di tengah-tengah anak yatim: ​Eko Yudis Parlin Rajagukguk (Kepala Kantor Imigrasi Kelas II TPI Belawan), ​Rizki Ramadhan (Manager SPBU Station Singapore),  ​Abdul Halil (Humas KBB) bersama jajaran pengurus teras.

​Kehadiran Kepala Kantor Imigrasi Belawan, Eko Yudis Parlin Rajagukguk, memberikan pesan kuat kepada publik. Institusi penjaga pintu gerbang negara ini membuktikan bahwa mereka tidak hanya prima dalam penegakan hukum keimigrasian, tetapi juga memiliki “jantung” yang berdenyut untuk kesejahteraan sosial lokal.

​”Komitmen kami telah bulat. Imigrasi Belawan tidak akan menjadi penonton dalam kemaslahatan umat. Kami akan terus mengawal dan menyokong penuh KBB, memosisikan diri sebagai donatur tetap untuk memastikan pemenuhan pangan dan sembako bagi kaum duafa serta anak yatim di wilayah ini tetap terjaga,” tegas Eko Yudis dengan penuh wibawa.

​Langkah mulia birokrasi ini disambut dengan komitmen setara oleh Rizki Ramadhan. Mewakili sektor swasta, Manager SPBU Station Singapore ini menegaskan bahwa korporasi memiliki tanggung jawab moral untuk tumbuh dan berbagi bersama masyarakat grassroot. Pihaknya memastikan akan selalu siap menjadi support system utama di garda depan bagi setiap aksi kemanusiaan KBB.

​Ketika santunan dan paket kasih sayang diserahkan, ruangan itu larut dalam keharuan. Jabat tangan erat dan doa-doa tulus yang meluncur dari bibir mungil anak-anak yatim menjadi penutup yang dramatis sekaligus membanggakan.

​Berita hari ini bukan sekadar catatan seremonial, melainkan sebuah refleksi besar bagi kita semua. Di tengah dinamika pelabuhan Belawan yang sibuk, potret kolaborasi ini adalah bukti bahwa ketika birokrasi yang humanis, swasta yang peduli, dan lembaga sosial yang amanah menyatu, maka kesejahteraan dan keberkahan bukan lagi sekadar impian di atas kertas ia sedang nyata dirajut bersama. (​Liputan: Nelson Siregar/AH)

- Advertisement -spot_img

More articles

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisement -spot_img

Latest article