15 C
Munich
Minggu, Mei 31, 2026

Duri dalam Daging Ramadan, Ironi Perjudian Skala Besar di Jalan Veteran Pasar 7 Desa Manunggal

Must read

 

​Belawan | suaraburuhnasional.com – Di saat gema takbir dan lantunan ayat suci seharusnya mendominasi atmosfer bulan suci Ramadan, sebuah potret kelam justru tersaji secara kontras di kawasan Jalan Veteran Pasar 7, Desa Manunggal. Praktik perjudian berskala besar disinyalir masih berdenyut kencang, menantang kesucian bulan Ramadan sekaligus menguji wibawa hukum di wilayah tersebut. ​Seolah kebal terhadap instruksi penertiban, aktivitas di lokasi ini berjalan tanpa canggung, Senin (2/2/2026).

Berdasarkan pantauan di lapangan dan keresahan kolektif masyarakat, lokalisasi ini menyuguhkan berbagai varian praktik haram mulai dari hiruk-pikuk judi dadu, rolet, mesin tembak ikan, hingga atraksi sabung ayam yang digelar secara terbuka.

​Kondisi ini memicu tanda tanya besar terkait efektivitas penegakan hukum di tingkat akar rumput. Padahal, Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo telah menggariskan komando tegas: berantas habis segala bentuk perjudian tanpa kompromi.

​Namun, realita di Pasar 7 Desa Manunggal seolah menunjukkan adanya jurang pemisah antara instruksi pusat dan implementasi di lapangan. Praktik yang berlangsung nyaris tanpa henti ini mencerminkan hilangnya empati terhadap masyarakat yang sedang meniti jalan spiritualitas di bulan puasa.

​”Kami merasa marwah bulan suci ini tercederai. Ramadan adalah waktu untuk refleksi dan pembersihan diri, namun suara riuh dari meja judi justru lebih nyaring terdengar ketimbang kekhusyukan ibadah,” keluh Ilham pegamat Publik.

​Keberadaan lapak judi yang dibiarkan berlarut-larut ini bukan sekadar masalah moral, melainkan bom waktu yang mengancam ketahanan masyarakat: Mengikis tatanan nilai agama dan norma sosial di tengah generasi muda.
Uang yang seharusnya menjadi sandaran kebutuhan pokok keluarga di tengah fluktuasi harga pangan, justru tersedot ke dalam “lubang hitam” meja judi. Tingginya ketergantungan pada judi seringkali menjadi pemicu tindak kriminalitas demi menutupi kekalahan.

​Publik kini menaruh harapan besar pada pundak Aparat Penegak Hukum (APH) untuk segera melakukan tindakan represif yang konkret. Penutupan permanen bukan lagi sekadar aspirasi, melainkan kebutuhan mendesak untuk menjaga marwah Tanah Deli Serdang.

​Jangan sampai pembiaran ini mengikis kepercayaan masyarakat terhadap institusi Polri. Ketegasan aparat sangat dinantikan untuk menyapu bersih praktik perjudian hingga ke akar-akarnya tanpa pandang bulu, tanpa negosiasi. Masyarakat menunggu: Apakah hukum akan tegak berdiri, ataukah ia akan terus tertunduk di hadapan riuhnya dadu di Pasar 7?. ​(Liputan: Nelson Siregar)

- Advertisement -spot_img

More articles

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisement -spot_img

Latest article