13.5 C
Munich
Selasa, Mei 26, 2026

Saat Kodaeral I dan Kesultanan Deli Melarung Doa, Merajut Kejayaan Maritim Nusantara

Must read

 

​Belawan | suaraburuhnasional.com — TNI Angkatan Laut, dalam bentangan sejarah Nusantara, tak pernah menjadi pemisah. Ia adalah urat nadi yang menghubungkan diplomasi, budaya, dan kejayaan. Semangat adiluhung inilah yang kembali bergelora di Markas Komando Daerah Angkatan Laut I (Kodaeral I) Belawan, saat menerima kunjungan kehormatan (courtesy call) dari pemangku adat dan keluarga besar! Kesultanan Deli, Senin (25/5/2026).

​Pertemuan dua institusi penjaga gerbang Selat Malaka ini berlangsung dalam atmosfer yang sarat akan nilai historis dan keakraban. Komandan Kodaeral I (Dankodaeral I), Laksamana Muda TNI Deny Septiana, S.I.P., M.A.P., bersama jajaran Pejabat Utama (PJU) menyambut langsung delegasi kesultanan.

Di bawah panji “Pargomgom Samudora” Sang Penguasa Samudra pertemuan ini bukan sekadar seremonial militer dan adat, melainkan sebuah manifestasi konkret untuk merekatkan kembali visi maritim yang sempat membawa tanah Deli mendominasi jalur perdagangan dunia berabad-abad silam.

​Simfoni Dua Penjaga Peradaban Bahari
​Sumatra Utara, khususnya wilayah Deli dan pesisir Belawan, adalah wilayah dengan memori kolektif bahari yang sangat kuat. Melalui silaturahmi ini, Kodaeral I dan Kesultanan Deli sepakat bahwa menjaga kedaulatan laut modern tidak bisa dilepaskan dari akar sejarah dan budaya tempatan.

​Sinergi ini menjadi krusial. Ketika pertahanan negara berpadu dengan restu tradisi, maka kedamaian wilayah maritim akan berdiri di atas fondasi yang paling kokoh: hati rakyatnya. ​”Menjaga laut Indonesia bukan hanya tentang menghitung jumlah armada atau kecanggihan alutsista di cakrawala. Ini adalah tentang bagaimana kita merawat memori kolektif bangsa, menghormati leluhur, dan menggandeng pemangku adat sebagai pilar penjaga identitas bahari kita,” tegas Laksamana Muda TNI Deny Septiana.

​Puncak dari jalinan silaturahmi ini mewujud dalam sebuah prosesi yang menggetarkan. Tepat pukul 09.30 WIB, rombongan bertolak dari dermaga menuju perairan Lampu 1 Belawan, membelah ombak menggunakan salah satu unsur kapal perang kebanggaan jajaran Kodaeral I, KRI Tuna-876.

​Di atas gelombang Selat Malaka yang legendaris, Ziarah Laut Adat Kesultanan Deli dilaksanakan. Angin laut seolah mengheningkan cipta saat kelopak-kelopak bunga ditaburkan ke hamparan samudra. Prosesi larung ini menjadi simbol penghormatan, sebuah pesan rindu dan doa yang dilarungkan bagi para leluhur, pelaut perkasa, dan syuhada maritim yang jasadnya mungkin telah menyatu dengan karang, namun semangatnya tetap hidup menjaga selat ini. Tepat pukul 11.30 WIB, KRI Tuna-876 kembali merapat, meninggalkan riak doa yang larut bersama arus laut Belawan.

​Melalui momentum ini, Kodaeral I dan Kesultanan Deli mengirimkan pesan luhur kepada dunia, khususnya generasi muda Indonesia: bahwa modernitas hari ini tidak boleh membuat kita amnesia terhadap jati diri bangsa. Kita adalah bangsa pelaut, dan di laut pulalah kejayaan kita akan kembali dijemput. (Liputan: Nelson Siregar/Dipen Kodaeral I)

- Advertisement -spot_img

More articles

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisement -spot_img

Latest article