dLXHLU54O2876Ijyf22opx1wE4BqkuMICmXEo/s320/SAVE_20250715_152536.jpg" width="255" />
Belawan | suaraburuhnasional.com – Angin segar berhembus bagi warga pesisir Belawan yang selama ini dibayangi keresahan aksi kriminalitas. Komando Daerah Angkatan Laut (Kodaeral) I secara resmi menyerahkan 13 terduga pelaku kejahatan kepada Polres Pelabuhan Belawan, sebuah langkah konkret yang menandai babak baru sinergitas TNI-Polri dalam menjaga stabilitas keamanan wilayah.
Penyerahan para tersangka oleh Polisi Militer Angkatan Laut (POMAL) ini bukan sekadar urusan administratif, melainkan pesan kuat terhadap pelaku kejahatan: bahwa ruang gerak kriminalitas di Belawan kini semakin sempit.
Dari 21 orang yang sempat diamankan dalam operasi senyap, 13 di antaranya diproses lebih lanjut secara hukum, sementara 8 lainnya dikembalikan ke pihak keluarga setelah melalui proses penyaringan ketat.
Kepala Dinas Penerangan (Kadispen) Kodaeral I, Kolonel Laut Wahyu Kurniawan, menegaskan bahwa keterlibatan TNI AL dalam ranah Kamtibmas adalah bentuk respon darurat atas jeritan hati masyarakat.
”Masyarakat datang meminta perlindungan, dan bagi kami, kecepatan adalah harga mati. Kita bergerak bukan untuk melampaui kewenangan, melainkan untuk memastikan bahwa hukum hadir di saat masyarakat sangat membutuhkannya,”ungkap Kolonel Wahyu dengan nada lugas, Jumat (24/4/2026).
Lebih dari sekadar penangkapan, Kodaeral I menunjukkan kematangan dalam berorganisasi dengan mengedepankan koordinasi tingkat tinggi. Dalam waktu dekat, Komandan Kodaeral I bersama Kepala BNN dijadwalkan bertemu dengan Kapolda Sumatera Utara.
Langkah diplomatis ini bertujuan untuk:Harmonisasi Operasional: Memastikan tidak ada tumpang tindih kewenangan di lapangan. Membendung Provokasi: Menutup celah bagi pihak-pihak yang ingin membenturkan institusi TNI dan Polri. Efek Jera Maksimal: Menjamin bahwa pelaku yang telah ditangkap tidak akan kembali ke jalanan tanpa proses hukum yang tuntas.
Dengan sentuhan humor yang cerdas namun sarat makna, Kolonel Wahyu mengibaratkan gerak cepat personilnya seperti prinsip pelayanan publik yang prima. Beliau menekankan bahwa dalam situasi genting seperti menghadapi perampok bersenjata tindakan tegas terukur adalah prioritas utama sebelum masuk ke ranah prosedur administratif.
”Kami ingin menjadi solusi bagi keresahan warga. Jika harus menunggu prosedur yang kaku saat kejahatan terjadi di depan mata, maka pelaku akan hilang tertiup angin. Kami hadir untuk menuntaskan masalah secara tuntas,”tambahnya.
Langkah berani ini berpijak kuat pada Surat Keputusan Wali Kota Medan No: 130/26.K terkait Satuan Tugas Penyelesaian Konflik di Medan Belawan. Ini adalah manifestasi nyata dari sinergitas lintas instansi yang didambakan publik.
Kini, bola panas berada di tangan penyidik kepolisian. Masyarakat menanti pembuktian dari janji pengawalan kasus ini. Kehadiran Kodaeral I di lini depan pengamanan wilayah darat pesisir bukan hanya soal penangkapan, melainkan soal mengembalikan martabat Belawan sebagai wilayah yang aman, tertib, dan berwibawa. (Liputan: Nelson Siregar)

