Medan | suaraburuhnasional.com – Wajah pelayanan publik di Indonesia terus mengalami metamorfosis yang progresif. Doktrin lama yang kaku dan pasif kini berganti dengan paradigma baru yang dinamis, proaktif, dan humanis.
Representasi nyata dari transformasi ini tecermin jelas saat Kantor Imigrasi Kelas II TPI Belawan memboyong program unggulannya, Eazy Passport, langsung ke jantung akademis Universitas Medan Area (UMA), Selasa (19/5/2026).
Langkah strategis ini bukan sekadar urusan administrasi rutin, melainkan sebuah manifestasi dari komitmen negara dalam mendekatkan diri dan melebur bersama kebutuhan masyarakat global.
Efisiensi Birokrasi dalam Paradigma Baru
Berlangsung di bawah atmosfer kampus yang dinamis, layanan ini terjadwal secara presisi mulai pukul 09.00 hingga 15.00 WIB. Tanpa antrean yang mengular panjang atau proses yang birokratis, petugas imigrasi yang responsif berhasil merampungkan 26 permohonan paspor secara efektif dan elegan, meliputi: 15 Dokumen untuk Permohonan Paspor Baru. 11 Dokumen untuk Penggantian Paspor (Habis Masa Berlaku/Halaman Penuh).
Melalui asistensi yang bersifat personal, para pemohon yang terdiri dari civitas akademika mendapatkan pengalaman mengurus dokumen negara dengan kenyamanan psikologis yang tinggi. Di sini, birokrasi tidak lagi dirasakan sebagai beban, melainkan sebuah fasilitas yang mengayomi.
Di balik kesuksesan taktis ini, terdapat visi besar yang diusung oleh Kepala Kantor Imigrasi Kelas II TPI Belawan, Eko Yudis Parlin Rajagukguk. Beliau menegaskan bahwa program Eazy Passport dirancang khusus untuk memotong komparasi waktu dan jarak yang kerap menjadi kendala bagi masyarakat modern.
”Kami mengerti bahwa waktu adalah aset paling berharga bagi masyarakat saat ini. Melalui spirit jemput bola, kami menghapus batas jarak tersebut. Masyarakat tidak perlu lagi mendatangi kantor kami; kamilah yang hadir di ruang-ruang produktif mereka. Ini adalah esensi dari pelayanan yang praktis, cepat, dan akuntabel,” papar Eko dengan optimistis
Inovasi ini juga menjadi pengejawantahan dari instruksi Direktur Jenderal Imigrasi, Herdarsam Marantoko, yang secara konsisten menekankan pentingnya jajaran keimigrasian untuk melahirkan layanan yang inklusif, adaptif, serta berorientasi penuh pada kepuasan publik (citizen-centric approach).
Dampak positif dari kehadiran imigrasi di lingkungan kampus ini memantik apresiasi mendalam dari dunia akademik. Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis UMA, Prof. Dr. Syafrida Hafni Sahir, SE., M.Si., menyampaikan kekagumannya atas profesionalisme yang ditunjukkan oleh tim Imigrasi Belawan.
”Apa yang kami saksikan dan rasakan hari ini adalah standar tertinggi dari pelayanan publik. Prosesnya sangat transparan, sistematis, dan dipenuhi oleh keramahtamahan petugas. Sinergi ini sangat membantu kami di dunia akademik yang menuntut mobilitas internasional tinggi,” puji Prof. Syafrida.
Beliau juga menambahkan sebuah harapan besar agar etos kerja dan performa prima yang ditunjukkan oleh Imigrasi Belawan ini dapat diadopsi sebagai blueprint serta role model bagi seluruh institusi pelayanan publik di penjuru Indonesia.
Refleksi Akhir
Keberhasilan agenda Eazy Passport di Universitas Medan Area ini mengirimkan pesan kuat kepada khalayak luas: bahwa inovasi jika dikawinkan dengan ketulusan melayani akan menghasilkan kepuasan publik yang luar biasa. Imigrasi Belawan tidak sekadar menjaga pintu gerbang kedaulatan bangsa, tetapi juga bertindak sebagai jembatan yang mengakselerasi masyarakatnya menuju panggung dunia. (Liputan : Nelson Siregar)


