​Medan | suaraburuhnasional.com – Di bawah langit yang kian terik, ratusan pasang mata menatap nanar ke arah kantor pusat PT Kawasan Industri Medan (KIM). Rabu pagi (22/4/2026), bukan deru mesin pabrik yang mendominasi, melainkan pekik perjuangan yang dibawa oleh massa Gerakan Buruh Bergerak (GEBRAK). Mereka hadir membawa satu pesan sederhana namun fundamental: Kembalikan hak mobilitas kami.
​Tuntutan mereka lugas: nonaktifkan portal di KIM 1. Bagi manajemen, portal mungkin hanyalah alat manajemen lalu lintas, namun bagi para buruh, palang besi itu telah menjelma menjadi “penjagal” pendapatan mereka yang sudah kian tergerus inflasi.
​Koordinator aksi, Ahmad Rifa’i, menggetarkan suasana dengan orasi yang menyentuh urat nadi kemanusiaan. Ia membedah ironi yang dialami para pekerja di negeri ini sebuah potret tentang bagaimana “ongkos” bekerja justru menjadi beban tambahan bagi mereka yang sedang berupaya menyambung hidup. ​”Negara sudah mengambil bagiannya lewat pajak; gaji kami dipotong, THR kami dipangkas. Lantas, mengapa jalan menuju nafkah pun harus dipersulit?,”tanya Rifa’i retoris di atas mimbar orasi.
​Ia memaparkan realita pahit di lapangan: kemacetan sistemik akibat portal tersebut telah menciptakan efek domino. Buruh yang terlambat berarti upah yang dipotong. Sopir logistik yang terjebak macet berarti amarah pengusaha dan sanksi finansial. Di titik ini, portal bukan lagi soal keamanan, melainkan soal keadilan ekonomi.
​Aksi yang berjalan dengan tensi tinggi namun tetap kondusif di bawah pengawasan Polres Pelabuhan Belawan ini akhirnya membuka ruang dialog. Di balik pintu ruang pertemuan PT KIM, perwakilan buruh duduk berhadapan dengan pengambil kebijakan, mencari jalan keluar dari kebuntuan yang selama ini mengular di pintu gerbang.
​Mewakili Direktur Utama PT KIM, Dalimuliana, Humas Niko memberikan pernyataan yang menyejukkan, meski publik masih menunggu pembuktiannya.​”Kami menghormati setiap aspirasi. PT KIM berkomitmen untuk mengevaluasi kebijakan ‘gate pass’ ini. Untuk masa perbaikan infrastruktur, penutupan sementara portal sedang kami rumuskan hari ini,”jelas Niko kepada awak media.
​Kawasan Industri Medan bukan sekadar deretan gedung beton dan angka-angka statistik ekspor. Di sana ada keringat ribuan jiwa yang menggantungkan hidup pada kelancaran akses dan kebijakan yang manusiawi.
​Hari ini, GEBRAK telah mengingatkan kita semua bahwa efisiensi sebuah kawasan industri tidak boleh mengorbankan kesejahteraan para penggeraknya. Kini, bola panas ada di tangan manajemen PT KIM. Akankah keputusan hari ini menjadi oase bagi para buruh, atau sekadar janji manis di tengah kemacetan yang kian mencekik?. ​Masyarakat kini menunggu: Apakah palang pintu itu akan terangkat untuk selamanya?. (Liputan: Nelson Siregar)


