Belawan | suaraburuhnasional.com – Republik Indonesia hari ini tidak sekadar berada dalam status darurat narkotika, melainkan sedang menghadapi ancaman eksistensial yang sistemik: sebuah gerakan genosida masif terselubung. Sebagai kejahatan luar biasa (extraordinary crime), peredaran narkoba secara terstruktur, sistematis, dan masif tengah memutus urat nadi masa depan bangsa dengan menyasar generasi penerus secara radikal, Senin (29/6/2026).
Namun, di balik retorika pemberantasan yang kerap didengungkan, sebuah pertanyaan besar dan skeptis menyeruak di ruang publik: Mengapa bisnis haram yang merusak peradaban ini begitu digdaya, tumbuh subur, dan seolah menyentuh status imunitas hukum?.
Ironi keprihatinan ini terpampang nyata di wilayah hukum Polres Pelabuhan Belawan. Berdasarkan investigasi korps media dan jeritan sosiologis masyarakat akar rumput, peredaran barang haram tersebut kini disinyalir telah merambah hingga ke sendi-sendi kelurahan, beroperasi menyerupai sindikat yang mapan dan tak tersentuh.
Publik mulai mempertanyakan efektivitas dan ketajaman penegakan hukum lokal. Mengapa sejauh ini tindakan tegas baru menyasar para kurir gurem dan pengguna di tingkat bawah, sementara para aktor intelektual sang bandar besar yang mengendalikan putaran uang hitam ini masih melenggang bebas menikmati gurita bisnis mereka?.
Kondisi darurat yang kian mengkhawatirkan ini memantik reaksi keras dan analisis tajam dari Pengamat Publik, Akademisi, sekaligus Rais Am NU Belawan, K.H. Ilham Maulana, S.H., M.H. Dalam sebuah diskusi eksklusif bersama awak media suaraburuhnasional.com, praktisi hukum yang juga dikenal sebagai da’i dan pemerhati sosial ini memaparkan potret buram kehancuran moralitas pemuda akibat kontaminasi narkotika.
”Generasi muda adalah aset geopolitik terbesar sekaligus fondasi utama penyangga kedaulatan negara. Jika fondasi ini dihancurkan secara sistematis dari dalam, kita sebenarnya sedang berjalan menuju keruntuhan sebuah peradaban. Ini bukan lagi sekadar problematika kriminalitas biasa, ini adalah bentuk penjajahan modern yang melakukan destruksi moral secara massal,” tegas K.H. Ilham Maulana dengan nada lugas dan berbobot.
Lebih lanjut, K.H. Ilham Maulana melayangkan kritik konstruktif yang sangat tajam terhadap performa penegakan hukum teritorial di wilayah tersebut. Beliau menilai ada kepincangan penanganan yang menuntut komitmen radikal dan keberanian progresif dari aparat penegak hukum. ”Mengapa episentrum peredaran ini justru mendapatkan iklim yang subur di tanah air yang kita cintai?. Apakah kita harus menunggu kehancuran total negara ini baru ada tindakan yang revolusioner?,”gugatnya.
”Realitas di lapangan hari ini sangat menyayat hati. Eskalasi kriminalitas melonjak tajam seiring dengan maraknya peredaran narkoba yang tak terbendung. Salah satu indikator riilnya adalah pecahnya kembali aksi tawuran remaja yang anarkis di kawasan Pajak Baru. Ini adalah alarm keras bagi kita semua,”urai K.H. Ilham Maulana dengan retorika yang kuat.
Beliau menggarisbawahi bahwa seluruh polemik sosial, disintegrasi moral, kemiskinan sistemik, hingga tingginya angka kriminalitas jalanan di wilayah Belawan hampir seluruhnya bermuara pada satu titik ekstrem: lingkaran hitam narkoba. Oleh karena itu, beliau menyerukan gerakan kolektif dan konsolidasi total dari seluruh elemen masyarakat, tokoh agama, tokoh pemuda, dan pranata sosial untuk bersatu padu mengibarkan genderang perang secara total tanpa kompromi.
Kini, bola panas penegakan hukum dan penyelamatan moral bangsa berada sepenuhnya di tangan nakhoda baru Korps Bhayangkara setempat. Masyarakat Medan Belawan menaruh fajar harapan dan ekspektasi yang sangat tinggi di pundak Kapolres Pelabuhan Belawan yang baru. Publik menegaskan bahwa wilayah Belawan tidak lagi membutuhkan seremonial di atas kertas atau sekadar retorika formalitas. Kehadiran pimpinan baru ini ditantang untuk membawa paradigma perubahan yang signifikan, berani, progresif, dan tanpa pandang bulu.
Keberanian Polres Pelabuhan Belawan untuk merangsek maju, memotong jalur logistik, dan meringkus para bandar besar akan menjadi pembuktian sejati bagi publik: Apakah hukum di wilayah Pelabuhan Belawan memiliki taji untuk tegak lurus ke atas, atau justru terus kalah oleh dominasi gurita bisnis haram?. Semua demi menyelamatkan masa depan Belawan yang aman, bersih, dan bermartabat. (Liputan: Nelson Siregar)


