Belawan | suaraburuhnasional.com – Di balik riak tenang perairan Pangkalan Brandan, sebuah drama kemanusiaan yang memilukan terjadi dalam kesenyapan. Tiga pejuang laut Sumatera Utara Iwan (51), Garto (50), dan Mamat (45) gugur bukan karena amukan gelombang samudra, melainkan akibat kepungan raksasa tak kasatmata yang terperangkap di dalam palka KM Pulau Samosir, Senin (31/8/2026).
Tragedi ini menjadi preseden buruk sekaligus alarm keras mengenai bahaya laten confined space (ruang terbatas) dalam industri perikanan tangkap nasional. KM Pulau Samosir membelah kegelapan malam, bertolak dari Gudang Bincuan Gabion, Bagan Deli, membawa sembilan awak kapal menuju zona tangkap (fishing ground).
Garto memicu awal mula insiden saat turun ke palka depan untuk pembersihan rutin. Kompartemen baja yang terisolasi tanpa sistem forced ventilation (ventilasi mekanis) tersebut rupanya telah mengalami severe oxygen depletion (deplesi oksigen ekstrem) akibat reaksi oksidasi dan akumulasi gas toksik biomassa (hydrogen sulfide/H₂S dan methane/CH₄). Hanya dalam hitungan detik, Garto mengalami sudden loss of consciousness (kehilangan kesadaran seketika).
Menyaksikan temannya terkulai, Mamat menerobos masuk tanpa alat pelindung pernapasan (Self-Contained Breathing Apparatus/SCBA). Paparan asphyxiant gas bertekanan tinggi langsung memicu toxic hypoxia akut pada sistem saraf pusatnya. Impuls kebaikan Iwan yang menyusul kemudian berujung fatalitas serupa; ia menjadi korban ketiga dari efek domino toksisitas udara tersebut.
Nakhoda Yusri M. Jamil bertindak presisi dengan menerapkan protokol isolasi area, melarang keras awak tersisa mendekati kompartemen maut. Langkah intuitif ini secara efektif memutus mata rantai secondary casualties (korban susulan). Kapal melakukan manuver emergency return memutar haluan kembali ke dermaga asal demi evakuasi medis darurat.
Tim taktis Posal Medan Labuhan di bawah pimpinan Komando Daerah Angkatan Laut I (Kodaeral I) bersama armada medis bergerak cepat melakukan prosedur ekstraksi korban dari ruang bersuhu konstan dan berventilasi buruk. Tepat pukul 17.30 WIB, ketiga jenazah berhasil dievakuasi untuk dipulangkan ke rumah duka.
”Secara patofisiologi medis dan analisis maritim awal, para korban mengalami anoksia sistemik akibat lingkungan yang mengalami deplesi oksigen secara drastis serta tingginya konsentrasi gas sisa pembusukan organik. Kejadian ini menegaskan bahwa deteksi gas (gas clearance test) dan kepatuhan terhadap standar K3 Maritim adalah harga mati sebelum mengizinkan personel memasuki kompartemen tertutup.”
Dinas Penerangan Kodaeral I
Tragedi KM Pulau Samosir meninggalkan pesan tajam bagi dunia maritim: bahwa keberanian menantang samudra tidak boleh mengabaikan sains keselamatan. Tak ada hasil laut setinggi apa pun yang sebanding dengan harga nyawa manusia. (Nelson Siregar/Dispen Kodaeral I)















