Simalungun | suaraburuhnasional.com – Di tengah arus modernitas yang bergerak eksponensial dan dinamika peradaban yang makin kompleks, sebuah jeda kontemplatif tercipta di pelataran Pondok Persulukan Serambi Babussalam, Desa Jawa Tongah, Kabupaten Simalungun, Sumatera Utara. Pada Sabtu bertepatan dengan 6 Jumadil Awal 1448 Hijriah (17/10/2026), ribuan jamaah bersama pimpinan nasional, pejabat publik, jajaran aparat keamanan, akademisi, hingga tokoh lintas sektor bersimpuh dalam satu gelombang spiritualisme yang khusyuk untuk memperingati Haul ke-17 Tuan Guru Batak (TGB) Syekh Abdurrahman Rajagukguk Q.S.
Lebih dari sekadar ritual komemoratif, perhelatan akbar ini mengusung fondasi tematik yang sangat kontekstual: “Mempertajam Nurani, Menumbuhkan Empati & Kemanusiaan”. Tema ini merefleksikan manifestasi epistemologi sufistik yang berupaya merekonstruksi kesadaran kolektif masyarakat, mengasah kepekaan sosio-spiritual, serta meneguhkan pilar-pilar kolektivisme demi keselamatan dan keutuhan bangsa.
Salah satu lanskap utama dalam rangkaian peristiwa ini adalah peresmian Rumah Tahfidz Qur’an Haji Sugiat Santoso. Inisiatif strategis ini merupakan hasil Sinergi Kolaboratif antara Tuan Guru Batak (TGB) Syekh Dr. Ahmad Sabban el-Rahmaniy Rajagukguk, MA, bersama jajaran pimpinan nasional.
Secara sosiologis dan akademis, Rumah Tahfidz ini diproyeksikan menjadi pusat kawah candradimuka untuk membangun moral capital (modal moral) serta intellectual capital (modal intelektual) bagi generasi penerus bangsa.
Pendidikan berbasis liturgi dan tahfidz tidak hanya menanamkan memori kognitif terhadap kitab suci, melainkan juga melakukan internalisasi nilai-nilai etis-religius yang siap membentuk karakter humanis, beradab, dan berintegritas tinggi di masa depan.
Suasana transendental kian terasa magis saat alunan Senandung Sufi, ritme spiritual Suluk Untuk Negeri, keheningan zikir dan doa, khatam Al-Qur’an, hingga ekspresi kultural-religius Maulid Nabi bergema di arena persulukan, menciptakan harmoni psikologis yang menenteramkan jiwa jamaah.
Keagungan perhelatan ini menjadi wujud nyata dari integrasi sosial yang kokoh, di mana berbagai elemen penentu kebijakan dan ketahanan nasional hadir berbaur bersama masyarakat.
Tokoh-tokoh nasional dan daerah yang hadir antara lain: Dr. H. Sugiat Santoso, S.E., M.S.P. (Wakil Ketua Komisi XIII DPR RI), H. Zonny Waldi, S.Sos., M.M. (Wakil Bupati Simalungun), Letkol Inf. Agus Muchtadi Rangkuti, S.E., M.I.P. (Dandim 0207/Simalungun), AKBP Dr. Hendri Nupia Dinka Barus (Kapolres Simalungun), AKBP Dhana Noer Kurniawan, S.I.K., M.M. (Kapolres Pematang Siantar), Prof. Dr. Syamsul Gultom (Rektor Universitas Negeri Medan Periode 2019–2023), Gusmiyadi, S.E. (Ketua Fraksi Gerindra DPRD Sumatera Utara).
Hadirnya Kepala Kantor Imigrasi Kelas II TPI Belawan, Eko Yudis Parlin Rajagukguk, memberikan dimensi perspektif keimigrasian modern yang inklusif. Kehadiran instansi pemerintah di tengah majelis spiritual ini menegaskan peralihan paradigma tata kelola publik menuju Humanistic Governance—sebuah konsep di mana otoritas negara tidak hanya menjalankan fungsi regulatif dan administratif, tetapi juga hadir secara aktif dalam memperkuat struktur kebudayaan dan kearifan lokal masyarakat.
Dalam pandangannya yang komprehensif, Eko Yudis Parlin Rajagukguk menegaskan filosofi kehadiran keimigrasian di tengah publik. ”Partisipasi aktif kami dalam agenda spiritual ini merupakan artikulasi nyata dari komitmen untuk membangun sinergi berkelanjutan dengan seluruh entitas masyarakat. Kami berupaya memperkokoh fondasi kemanusiaan, inklusivitas, serta kohesi sosial dalam bingkai NKRI. Langkah ini merupakan akselerasi dari filosofi ‘Imigrasi untuk Rakyat’ yang dicanangkan oleh Direktur Jenderal Imigrasi, Hendarsam Marantoko. Imigrasi tidak boleh dipersepsikan sebatas instrumen kepabeanan dan kewenangan administratif belaka, melainkan harus hadir sebagai elemen kebangsaan yang memberikan kontribusi substantif dan kemanfaatan holistik bagi masyarakat,” tegas Eko Yudis Parlin Rajagukguk.
Peringatan Haul ke-17 Tuan Guru Batak Syekh Abdurrahman Rajagukguk Q.S. pada akhirnya meninggalkan impresi mendalam. Peristiwa ini membuktikan bahwa kombinasi antara kedalaman nilai transendental, sinergi inter-institusional, serta komitmen kemanusiaan mampu menjadi katalisator utama dalam menciptakan tatanan masyarakat yang damai, harmonis, dan bermartabat.
Dari Serambi Babussalam, mercusuar keteladanan itu terus memancarkan cahayanya, menuntun langkah bangsa menuju masa depan yang penuh berkah dan peradaban yang unggul. (Liputan: Nelson Siregar)
















