Denting kengerian, ketika keheningan malam ditembus air mata alam
​dari Bumi Serambi Mekkah, kami menyaksikan dan merasakan duka yang sama. Di tengah keheningan malam, ribuan jiwa di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat terbangun bukan oleh fajar, melainkan oleh raungan purba air bah dan longsoran bumi yang menelan tanpa sisa. Ini bukan sekadar hujan; ini adalah air mata duka yang tak terbendung dari tiga provinsi bersaudara, Minggu (30/11/2025).
​Tragedi ini melampaui statistik meteorologi biasa. Ia adalah manifesto alam, jeritan dari tubuh tanah yang telah kita lukai parah, dan langit yang akhirnya menyerah, tak lagi mampu menahan beban dosa ekologis kita. Ketika sungai-sungai meluap bagai amarah yang tersimpan lama, dan bukit-bukit runtuh tanpa belas kasihan, kita dipaksa berdiri di hadapan cermin retak ekologi, melihat refleksi dari tindakan kita sendiri.
​Kepada saudara-saudari kami para korban, kami tunduk dalam hening yang paling dalam. Tak ada untaian kata yang sanggup menggantikan kehilangan. Kami berikrar, sebagai sesama warga Sumatera dan Indonesia: suara penderitaan dan kepedihan kalian tidak akan kami biarkan tenggelam dalam lumpur dan kebisuan politik.
​Inilah momen krusial, bapak/ibu Pemerintah Pusat dan Daerah. Saatnya menyimak lebih dalam, melampaui tumpukan laporan administratif. Tragedi di Sumatera ini bukan sekadar angka korban; ini adalah Tragedi Kemanusiaan Berskala Penuh yang mendesak pengakuan tertinggi:
​Status ini bukanlah ritual birokrasi, melainkan manifestasi tanggung jawab moral dan konstitusional negara kepada rakyat yang sedang berada di jurang keputusasaan. Ini adalah pengakuan bahwa skala penderitaan telah melampaui kemampuan lokal dan menuntut mobilisasi sumber daya negara secara totalitas. Ketika akses terputus dan harapan logistik pupus, kita sedang mempertaruhkan integritas bangsa. Ketika masa depan generasi muda terancam di tenda pengungsian, kita sedang menggadaikan peradaban.
​Sebuah Kejahatan terhadap Kemanusiaan
​Mengapa bencana di Sumatera kali ini begitu mematikan? Jawabannya tidak hanya bersemayam pada anomali iklim semata. Jawabannya terletak pada tangan-tangan kita sendiri. ​Pada hutan yang telah kita cabuti akarnya demi keserakahan ekonomi yang buta, pada bukit-bukit yang digerogoti oleh izin pertambangan dan eksploitasi ilegal, dan pada sungai yang dicekik oleh limbah tanpa etika. Secara ilmiah, bencana ini adalah konsekuensi logis dari hilangnya daya serap tanah. Ketika akar-akar purba tak lagi memeluk bumi, maka air hujan, yang seharusnya menjadi berkah, berubah menjadi senjata pemusnah.
​Kepada para aktor perusak lingkungan, saksikanlah tragedi ini: Yang tumbang bukan hanya pohon, tetapi juga atap rumah rakyat. Yang digali bukan hanya tanah, tetapi juga liang lahat bagi anak-anak yang tak sempat diselamatkan. Kerusakan lingkungan yang masif dan terstruktur adalah Kejahatan terhadap Kemanusiaan. Dan bencana di jantung Sumatera ini adalah bukti epik yang paling tak terbantahkan.
​Seruan Aksi Global dan Reformasi
​Skala kehancuran ini menuntut respons yang setara, melampaui kapasitas Pemerintah Daerah. Pemerintah Pusat harus hadir secara substantif, bukan sekadar dengan bantuan simbolik. Kita butuh koordinasi nasional, audit ekologis, dan, yang terpenting, Pemulihan Komprehensif yang menyentuh akar persoalan: dari rehabilitasi lingkungan, penataan ruang yang berbasis mitigasi, hingga penegakan hukum lingkungan yang tegas, adil, dan transparan.
​Kepada seluruh masyarakat Indonesia dan mata dunia: Jangan biarkan tragedi ini menjadi berita sesaat. Jadikan ini Momentum Kebangkitan Nasional dan Kesadaran Global untuk menuntut keadilan ekologis. Kita tidak boleh terus-menerus terjebak dalam siklus yang mematikan: Rusak – Bencana – Tangis – Lupa – Rusak Lagi. Kita harus berani mengakui: Kita telah mengkhianati Alam. ​Di balik reruntuhan fisik, sesungguhnya ada reruntuhan komitmen kebijakan. Di balik luapan air, ada banjir izin eksploitasi.
Untuk memutus rantai ini, kita harus membangun kembali Kesadaran Kolektif dan menanamkan nilai-nilai tanggung jawab ekologis. ​Pesan Kunci: Doa tanpa aksi adalah kesia-siaan. Aksi tanpa doa adalah kesombongan. Marilah kita padukan keduanya: berserah kepada Tuhan sebagai Pemegang Kuasa, namun bertanggung jawab penuh atas amanah Bumi. Jangan tunggu korban bertambah, jangan tunggu dunia menegur kita. Segera tetapkan status bencana nasional.
​Sumatera sedang mengajarkan kita pelajaran termahal: bahwa pembangunan yang tidak dilandasi etika adalah kehancuran, dan bahwa alam, jika dilukai, akan membalas dengan cara yang tak terduga. Mari kita dengarkan tangisan tanah. Mari kita jawab dengan tindakan nyata dan reformasi menyeluruh. Karena jika kita berdiam diri, kita sedang menandatangani kontrak untuk bencana berikutnya. (*)
Penulis : ​Muhammad Ramadhanur Halim, S.H.I. (Pemerhati Lingkungan dan Hukum Humaniora, Lhokseumawe, Aceh)
Editor : Nelson Siregar


