18.3 C
Munich
Sabtu, Juni 27, 2026

Menakar Ironi Jalan Pelabuhan Belawan Urat Nadi Ekonomi Internasional yang Dikutuk Kubangan Maut

Must read

 

​Belawan | suaraburuhnasional.com — Gerbang megah perdagangan internasional Sumatera Utara, Pelabuhan Belawan, saat ini tengah mempertontonkan sebuah ironi yang meremukkan nalar publik. Infrastruktur vital yang menjadi urat nadi utama logistik nasional membentang dari Simpang Buaya Kampung Salam hingga gerbang utama Gate 3 berada dalam kondisi hancur lebur, Sabtu (27/6/2026).

Pembiaran yang berlangsung selama bertahun-tahun ini bukan lagi sekadar perkara jalan rusak, melainkan sebuah kelalaian sistemik yang telah menjelma menjadi jalur pencabut nyawa bagi para pekerja jalanan.

​Pantauan investigatif di lapangan menyajikan kontras yang sangat menyakitkan mata. Di balik dinding-dinding kaca perkantoran elite PT Pelindo yang berdiri kokoh, ribuan truk kontainer bermuatan komoditas ekspor-impor bernilai miliaran rupiah terpaksa merayap di atas jalanan yang tak ubahnya kubangan kerbau. Air hitam pekat bercampur oli menggenang di lubang-lubang dalam berlumut. Jalanan yang licin dan bergelombang ini laksana jebakan tak terlihat, siap menggulingkan armada truk raksasa atau menghempaskan para pengendara motor yang melintas.

​Dalam ekosistem logistik global, waktu adalah mata uang utama. Namun, di jalur Simpang Buaya menuju Gate 3, waktu justru terbuang percuma akibat hambatan infrastruktur. Efek domino dari kerusakan jalan ini menyerang berbagai sektor secara simultan: ​Bagi Para Supir Truk: Mereka harus bertaruh nyawa dan menanggung waktu tempuh operasional yang molor hingga berjam-jam demi jarak yang seharusnya bisa ditempuh dalam hitungan menit.

​Bagi Pengusaha Angkutan: Pembengkakan biaya perawatan armada (maintenance) menjadi momok yang tak terhindarkan. Patah as roda, suspensi hancur, hingga ban pecah di tengah genangan air menjadi kerugian materiil yang harus ditelan setiap hari. Bagi Sektor Ekspor-Impor: Keterlambatan pasokan barang menuju lambung kapal mengakibatkan delay cargo yang merusak reputasi bisnis Indonesia di mata mitra dagang internasional.

​Tragedi pembiaran bertahun-tahun ini memicu reaksi keras dari berbagai tokoh nasional. BM, seorang pengamat publik terkemuka yang dikenal memiliki kedekatan taktis dengan lingkaran RI 1, melayangkan kritik tajam dan tanpa basa-basi saat ditemui oleh awak media suaraburuhnasional.com di kediaman pribadinya, kawasan Marelan.

​”Ini adalah skandal visual dan manajerial. Sebuah Pelabuhan Internasional yang lokasinya hanya selemparan batu dari pusat peradaban bisnis Pelindo, tetapi akses jalannya dibiarkan seperti kubangan kerbau. Sungguh pemandangan yang merusak martabat bangsa,” ujar BM dengan nada bergetar menahan geram.

​BM tidak hanya melihat ini sebagai masalah teknis jalan rusak, melainkan adanya indikasi pembiaran yang patut dipertanyakan motifnya. ​”Jalan ini licin, penuh lumut, dan sudah memakan banyak korban jiwa. Para supir menjerit, pengusaha logistik merugi besar. Kita patut bertanya secara kritis: ke mana perginya triliunan rupiah keuntungan yang dikeruk oleh Pelindo setiap tahunnya?. Mengapa untuk memperbaiki akses jalan utama sepanjang ini saja tidak mampu? Apakah pembiaran selama bertahun-tahun ini merupakan sebuah strategi ‘cipta kondisi’ demi kepentingan pihak-pihak tertentu?. Ini harus diusut!,”tegasnya menukik.

​Persoalan Jalan Pelabuhan Belawan bukan lagi sekadar urusan domestik pemerintah daerah atau manajemen lokal Pelindo. Ini adalah masalah marwah ekonomi nasional. Pembiaran yang terus berlanjut adalah bentuk pengabaian terhadap hak hidup para pekerja transportasi dan hak berusaha para pelaku ekonomi.
​Melalui laporan mendalam ini, masyarakat luas, asosiasi supir truk, dan para pelaku industri ekspor-impor mendesak pemerintah pusat khususnya Kementerian BUMN dan Kementerian Perhubungan untuk segera melakukan intervensi total. Perbaikan infrastruktur dari Simpang Buaya menuju Gate 3 harus dilakukan secara permanen dengan spesifikasi beton berkualitas tinggi yang mampu menahan beban berat, bukan sekadar tambal sulam yang akan hancur dalam hitungan minggu.
​Menunda perbaikan jalan ini sama saja dengan membiarkan urat nadi ekonomi kita mati perlahan, sekaligus membiarkan nyawa para pejuang logistik terus digadaikan di atas kubangan lumpur Belawan. (Liputan : Nelson Siregar)

- Advertisement -spot_img

More articles

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisement -spot_img

Latest article