Toba | suaraburuhnasional.com – Tradisi leluhur masyarakat Batak kembali mencuri perhatian! Pemerintah Kabupaten Toba menggelar perhelatan budaya Marpangir 2026 di Pakkodian pada Sabtu (24/10/2026) untuk mengangkat kekayaan adat dan kearifan lokal yang diwariskan turun-temurun. Tak sekadar ritual membersihkan diri, Marpangir kini didorong menjadi daya tarik wisata budaya yang mampu memperkenalkan identitas Batak ke panggung nasional hingga internasional.
Kegiatan ini secara resmi dibuka oleh Wakil Bupati Toba, Audi Murphy O. Sitorus, dan dihadiri sejumlah tokoh penting, pejabat daerah, unsur kepolisian, akademisi, tokoh adat, tokoh agama, serta berbagai elemen masyarakat.
Turut hadir Bupati Toba periode 2000–2005, Sahala Tampubolon; Ketua DPRD Kabupaten Toba, Franshendrik Tambunan; Kapolres Toba, AKBP Vinsensius Jimmy Parapaga; perwakilan Balai Pelestarian Kebudayaan Sumatera Utara dan Badan Pelaksana Otorita Danau Toba (BPODT), jajaran pemerintah daerah, organisasi kemasyarakatan, serta undangan lainnya.
Sorotan terhadap kegiatan ini semakin kuat dengan kehadiran pesan kebudayaan dari Menteri Kebudayaan Republik Indonesia, H. Fadli Zon, dan Wakil Menteri Pariwisata Republik Indonesia, Ni Luh Enik Ermawati, yang menyampaikan sambutan melalui video pada pembukaan acara.
Fadli Zon : Marpangir Bukan Sekadar Tradisi, tetapi Identitas Leluhur!
Menteri Kebudayaan RI, H. Fadli Zon, menegaskan bahwa Marpangir merupakan salah satu tradisi budaya masyarakat Batak yang mengandung nilai-nilai kearifan lokal, penghormatan terhadap alam, dan makna pembaruan diri.
Ia mengingatkan bahwa kebudayaan bukan sekadar peninggalan masa lalu yang hanya dikenang, melainkan identitas bangsa yang harus dijaga, dilestarikan, dan diwariskan kepada generasi penerus.
Pesan tersebut menjadi pengingat penting bahwa tradisi leluhur akan kehilangan maknanya apabila generasi muda tidak lagi mengenal dan memahami nilai-nilai yang terkandung di dalamnya.
Melalui Marpangir 2026, nilai-nilai luhur tersebut diharapkan tetap hidup dan semakin dikenal luas oleh masyarakat.
Wakil Menteri Pariwisata: Budaya Batak Bisa Jadi Magnet Wisatawan!
Dukungan juga disampaikan Wakil Menteri Pariwisata RI, Ni Luh Enik Ermawati. Dalam sambutan video yang diputar saat pembukaan, ia menyebut Marpangir sebagai warisan budaya leluhur masyarakat Batak Toba yang menyimpan kearifan lokal dan kisah kehidupan masyarakat.
“Tradisi seperti ini penting untuk terus dijaga, dipahami, dan diwariskan kepada generasi muda agar kekayaan budaya kita tetap hidup dan dikenal luas,” ujarnya.
Menurutnya, kekuatan pariwisata tidak hanya bertumpu pada panorama alam yang indah. Tradisi, filosofi, dan kehidupan masyarakat setempat juga menjadi daya tarik yang dapat memberikan pengalaman berbeda bagi wisatawan.
Kabupaten Toba dan kawasan Danau Toba dinilai memiliki potensi besar untuk mengembangkan wisata budaya yang autentik, berkualitas, serta memberikan manfaat bagi masyarakat.
Harapannya, Marpangir 2026 menjadi momentum memperkuat kecintaan terhadap warisan budaya sekaligus mendorong kolaborasi pemerintah, komunitas budaya, dan pelaku pariwisata.
Wakil Bupati Buka Suara: Marpangir Bukan Hanya Milik Batak Toba!
Wakil Bupati Toba, Audi Murphy O. Sitorus, menegaskan bahwa tradisi Marpangir tidak hanya dikenal oleh masyarakat Batak Toba. Tradisi ini juga dikenal di kalangan masyarakat Batak Simalungun, Angkola, dan berbagai puak Batak lainnya.
Sejak dahulu, Marpangir dikenal sebagai tradisi membersihkan diri dengan menggunakan ramuan alami yang berasal dari lingkungan sekitar.
Menurutnya, kekayaan Kabupaten Toba tidak boleh hanya dikenal melalui keindahan panorama alamnya. Warisan budaya yang dimiliki daerah ini juga harus digali, diangkat, dan diperkenalkan kepada masyarakat luas, bahkan hingga ke dunia internasional.
Pemerintah Kabupaten Toba, lanjutnya, akan terus mendorong penggalian tradisi-tradisi lokal agar kebudayaan menjadi bagian penting dalam pengembangan daerah.
Pernyataan tersebut mempertegas bahwa potensi wisata Toba tidak berhenti pada keindahan Danau Toba, tetapi juga mencakup kekayaan adat, tradisi, dan nilai-nilai kehidupan masyarakatnya.
Rikardo Hutajulu Ungkap Nilai Sejarah Marpangir
Sementara itu, Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Toba sekaligus Ketua Panitia Marpangir 2026, Rikardo Hutajulu, M.Pd., menyampaikan bahwa Marpangir memiliki nilai sejarah dan berkaitan dengan tradisi adat serta kebudayaan leluhur Batak. (Tim)
















