Belawan | suaraburuhnasional.com – Di antara bentangan Samudera Hindia dan Selat Malaka yang dinamis, garis perbatasan Nusantara menjadi saksi manifes kelembagaan negara yang hadir secara holistik. Melalui sinergi inter-institusional antara TNI Angkatan Laut dan Bank Indonesia, KRI Bung Karno-369 sukses menuntaskan misi strategis Ekspedisi Rupiah Berdaulat (ERB) 2026. Berlayar dari Dermaga Komando Daerah Angkatan Laut (Kodaeral) I Belawan pada 27 Oktober hingga 1 November 2026, kapal perang kepresidenan ini mengemban misi vital: memperkuat ketahanan moneter serta menjamin integritas teritorial di wilayah Terdepan, Terluar, dan Terpencil (3T).
Membawa 25 personel Tim Pejuang Rupiah, ekspedisi ini menjangkau empat pulau periferal di dua provinsi paling barat Indonesia: Pulau Sembilan dan Pulau Kampai di Sumatera Utara, serta Pulau Pusong dan Sabang di Aceh. Kehadiran misi ini menegaskan bahwa doktrin pertahanan negara tidak sebatas stabilitas geostrategis laut, melainkan juga perlindungan terhadap roda perekonomian rakyat di wilayah terisolasi.
Menembus dinamika oceanografis serta dangkalnya muara kepulauan menuntut presisi navigasi dan sinergi taktis lintas satuan. Dalam pelayarannya, KRI Bung Karno-369 melaksanakan konfigurasi lego jangkar di perairan Pangkalan Susu dan Teluk Langsa sebelum membelah gelombang menuju Sabang.
Keberhasilan operasi ini ditopang penuh oleh kesiapan operasional Posal Pangkalan Susu, Posal Teluk Langsa, Posal Seruway, dan Lanal Sabang di bawah komando Kodaeral I. Setibanya di Sabang, misi militer-ekonomi ini diperkaya dengan dimensi socio-edukatif melalui agenda Open Ship. Ratusan pelajar SMP diajak mengeksplorasi geladak kapal perang untuk membangun wawasan bahari (maritime literacy) dan menumbuhkan kesadaran geopolitik sejak dini.
Rangkaian kegiatan diakhiri dengan audiensi diplomatis bersama Wali Kota Sabang guna mempererat koordinasi inter-agensi antara TNI AL dan pemerintah daerah. Melalui Ekspedisi Rupiah Berdaulat, masyarakat kepulauan tidak sekadar memperoleh akses clean money policy melalui penukaran uang layak edar. Bank Indonesia turut menginjeksi edukasi komprehensif Cinta, Bangga, dan Paham (CBP) Rupiah untuk memperkuat stabilitas moneter domestik dari risiko dollarization di daerah perbatasan.
Di tangan para nelayan, pedagang pesisir, dan pelaku UMKM, ketersediaan Rupiah yang berkualitas menjadi akselerator transaksi ekonomi lokal. Kemitraan strategis TNI AL dan Bank Indonesia yang terjalin sejak 2012 ini telah memperoleh pengakuan global melalui Currency Initiative Award pada Central Banking Awards 2024. Pada tahun 2026, ERB terus memperluas jangkauan keuangannya sebagai bagian dari 19 agenda nasional yang menjangkau 96 pulau 3T di seluruh persada Indonesia.
Sinergi Pertahanan dan Pembangunan Ekonomi.
Kehadiran KRI Bung Karno-369 menjadi representasi konkrit bahwa kekuatan pertahanan maritim berbanding lurus dengan kesejahteraan sosial masyarakat pesisir. TNI AL tidak hanya bertindak sebagai penjaga kedaulatan wilayah (maritime security provider), tetapi juga sebagai katalisator pemerataan pembangunan nasional.
Di mana pun ombak memecah pantai terluar Nusantara, di situ TNI AL berdiri mengawal pertahanan laut, dan di situ pula Rupiah bertakhta menegakkan martabat ekonomi bangsa. Sinergi ini memastikan bahwa kedaulatan Indonesia berkibar tidak hanya lewat lambang negara, tetapi juga berdenyut di setiap transaksi masyarakat pesisir. (Nelson Siregar/Dispen Kodaeral I)
















